recent

Bedah Statistik xG Liga Inggris: Siapa yang Benar-benar Dominan dan Siapa yang Cuma Beruntung?

Brighton's Chema Andres celebrates scoring against Arsenal

Klub Premier League mana yang tampil melebihi ekspektasi statistik xG (Expected Goals) mereka? Bagaimana sebenarnya performa awal musim tim-tim papan atas Liga Inggris jika dinilai secara objektif?


Pada tahapan yang sama musim lalu, Liverpool bertengger di puncak klasemen dengan mengemas lima kemenangan dari lima laga awal, sementara Tottenham Hotspur berada di posisi ketiga. Mengingat kedua tim tersebut akhirnya masing-masing finis di peringkat kelima dan ke-17 di akhir musim, hal ini membuktikan bahwa tabel klasemen sementara di awal musim belum bisa dijadikan tolok ukur utama mutlak.


Meskipun statistik apa pun di fase awal harus disikapi secara bijak—mengingat sampel pertandingan yang masih sangat sedikit serta tingkat kesulitan jadwal yang berbeda antar tim—data statistik mendasar tetap mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai bagaimana sebuah musim dapat bergulir ke depannya.


Metrik Expected Goals (xG) memberikan pemahaman mengenai seberapa besar sebuah tim mendominasi permainan berdasarkan jumlah dan kualitas peluang tembakan yang mereka ciptakan maupun yang mereka hadapi. Secara sederhana, xG mengukur seberapa baik performa umum suatu tim sebelum faktor penyelesaian akhir, aksi penyelamatan kiper, hingga faktor keberuntungan murni ikut campur.


Sejarah panjang Premier League telah membuktikan bahwa semakin sebuah tim mendominasi permainan, semakin banyak pula poin yang bakal mereka raih dalam jangka panjang.


Dalam analisis ini, mengecualikan situasi penalti adalah langkah terbaik. Keputusan wasit serta kecerobohan lini pertahanan sering kali memberikan gambaran palsu terkait seberapa tangguh sebuah tim dalam menyerang maupun bertahan, terutama pada fase awal kompetisi seperti saat ini.


Gambaran Performa Keseluruhan Berdasarkan Selisih xG

Sang juara bertahan, Arsenal, mungkin baru saja menelan kekalahan terburuk mereka dalam tiga tahun terakhir saat bersua Brighton pekan lalu. Namun, berdasarkan selisih angka xG (xG difference), skuad The Gunners tetap menjadi tim terbaik secara keseluruhan di liga.


Pemimpin klasemen sementara, Manchester City, menempel ketat di belakang Arsenal dalam hal tingkat dominasi pertandingan. Di sisi lain, awal musim impresif yang dicatatkan tim tak terkalahkan, Brentford, terbukti bukan sekadar faktor kebetulan belaka.


Sementara itu, Manchester United kerap kali dinilai labil antara tampil sangat bagus atau sangat buruk, padahal performa mereka sebenarnya relatif stabil. Di balik start mereka yang terkesan kurang memuaskan, hanya ada tiga tim yang mencatatkan selisih xG lebih baik ketimbang Setan Merah sejauh ini.


Klub seperti Nottingham Forest dan Bournemouth juga terbukti tampil jauh lebih baik daripada posisi yang tercermin di tabel klasemen sementara saat ini.


Di ujung lain spektrum, Aston Villa, Crystal Palace, dan Newcastle United menjadi tim yang paling tidak mengesankan dalam hal performa keseluruhan. Catatan Newcastle menjadi yang paling mengejutkan mengingat posisi mereka yang saat ini sebenarnya bertengger di paruh atas klasemen.


Kendati demikian, kompetisi masih berada di tahap awal sehingga tidak ada alasan untuk panik. Data ini justru menunjukkan bahwa tim-tim tersebut memiliki ruang peningkatan yang sangat besar—sesuatu yang sukses dibuktikan Aston Villa musim lalu saat bangkit dari start lambat hingga berhasil finis di posisi keempat.


Namun, kabar mengkhawatirkan bagi tim-tim mapan datang dari kubu tim promosi. Hull dan Ipswich memberikan sinyal kuat bahwa mereka tidak akan terdegradasi tanpa perlawanan, setelah mencatatkan awal musim yang benar-benar solid.


Ketajaman Serangan dan Efisiensi Lini Depan

Melihat statistik lini serang, Brighton memegang predikat sebagai tim dengan lini serang terbaik sejauh ini berdasarkan jumlah dan kualitas peluang yang berhasil diciptakan. Posisi mereka disusul oleh Manchester City, Brentford, dan Manchester United.


Walaupun Arsenal lebih dikenal dengan ketangguhan lini pertahanan mereka, cukup mengejutkan bahwa ada delapan tim yang memiliki angka xG lebih tinggi daripada sang juara bertahan. Sementara itu, Liverpool dan Chelsea hanya berada di papan tengah dalam hal penciptaan peluang.


Brighton tidak hanya memuncaki penciptaan nilai xG, tetapi juga menjadi salah satu tim paling kejam di depan gawang lawan dengan mengemas 15 gol non-penalti dari nilai 10,7 xG.


Satu-satunya tim yang tampil lebih klinis dibandingkan tim berjuluk The Seagulls tersebut adalah 'kerabat burung' mereka, The Magpies (Newcastle United), yang uniknya justru mencatatkan angka xG terendah di seluruh liga sejauh ini.


Newcastle berhasil mengemas sembilan gol atau dua kali lipat lebih banyak daripada ekspektasi historis dari peluang yang mereka dapatkan (hanya 4,5 xG). Kendati demikian, pelatih kepala Matthias Jaissle tentu ingin timnya mampu menciptakan lebih banyak peluang dan tidak terus-menerus bergantung pada penyelesaian akhir yang begitu tajam seiring berjalannya musim.


Sebaliknya, Coventry, Sunderland, Nottingham Forest, dan Tottenham Hotspur semuanya mencatatkan tiga gol lebih sedikit dari yang seharusnya mereka dapatkan berdasarkan peluang yang tercipta di lima pertandingan awal.


Menarik untuk dinantikan apakah tim-tim tersebut memang menghadapi masalah krusial pada penyelesaian akhir atau hanya belum dinaungi keberuntungan yang akan segera berubah pada laga-laga mendatang.


Kekuatan Lini Pertahanan

Sebagaimana telah disebutkan, juara bertahan Arsenal sangat ternama dengan lini pertahanan mereka. Skuad Meriam London sejauh ini masih memiliki lini belakang terbaik di liga—bahkan setelah memperhitungkan kekalahan telak yang baru saja mereka derita dari Brighton.


Di tempat lain, meskipun pelatih kepala Forest, Oliver Glasner, masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuat timnya mencetak gol, ia telah berhasil membangun fondasi pertahanan yang sangat kokoh. Hal serupa juga sukses ditanamkan oleh Andoni Iraola di Liverpool.


Pekerjaan konstruksi besar-besaran justru dibutuhkan di ibu kota, di mana Crystal Palace, Fulham, dan Chelsea tampil terlalu terbuka di belakang musim ini. Walaupun demikian, tim asuhan Xabi Alonso (Chelsea) sebenarnya tidak seburuk catatan 12 gol yang telah membobol gawang mereka.


Kehebatan Brighton dalam menyerang juga harus dibayar mahal dengan kelonggaran pertahanan mereka. Tim asuhan Fabian Hurzeler ini terbilang sedikit beruntung karena tidak kebobolan lebih banyak gol.


Sementara itu, Everton dan Leeds United tercatat kebobolan tiga gol lebih sedikit dari yang diperkirakan berdasarkan kualitas peluang yang dihadapi lawan, membuktikan bahwa kedua tim termasuk yang terkuat dalam organisasi pertahanan secara keseluruhan.


Baru berjalan lima pertandingan, memang masih terlalu dini untuk membuat klaim pasti mengenai bagaimana performa akhir setiap tim. Namun, angka-angka statistik dasar ini telah memberikan gambaran awal mengenai apa yang mungkin terjadi sepanjang musim ini.

Sumber: BBC Sport

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.