Catatan Tur Pramusim Manchester City: Cuaca Ekstrem Asia, Perubahan Budaya Era Maresca, hingga Tradisi Lokal

Manchester City menjadi daya tarik utama bagi para penggemar sepak bola di Hong Kong dan Korea Selatan selama menjalani tur pramusim Asia tahun ini.
Suhu Ekstrem dan Cuaca Buruk Menjadi Tantangan Utama
Cuaca panas terik menyelimuti Seoul, Korea Selatan, ketika Manchester City berhadapan dengan K-League All Stars dalam laga persahabatan. Suhu udara yang begitu menyengat membuat para pemain yang bertanding di lapangan kesulitan untuk sekadar bernapas lega.
Mendekati babak pertama usai, bek kiri City, Josko Gvardiol, bahkan harus bersandar pada rekan setimnya, Gianluigi Donnarumma, karena mengalami pandangan kabur akibat kelelahan dan cuaca panas. Marcus Bettinelli, yang masuk menggantikan Donnarumma di babak kedua—dan mengakui belum pernah bermain satu menit pun di laga resmi sejak bergabung musim panas lalu—mengaku kehabisan napas hanya karena berteriak mengatur lini pertahanan.
"Panasnya sungguh tidak tertahankan," ujar Bettinelli. "Saya memberikan instruksi dan berteriak, lalu butuh empat sampai lima kali tarikan napas dalam-dalam untuk memulihkan stamina. Itu sangat berat. Saya tidak tahu bagaimana para pemain di lapangan bisa bertahan karena saya yang berdiri diam saja merasa sangat kepanasan. Apresiasi besar untuk seluruh tim."
Suhu yang dirasakan mencapai 45 derajat Celsius (113 Fahrenheit) pada pukul 20.00 waktu setempat. Duduk di tribun penonton saja terasa berat, apalagi harus bertanding di atas lapangan. Peringatan cuaca panas ekstrem terus berbunyi di telepon seluler setiap beberapa jam selama sepekan City berada di Korea Selatan. Beruntung, suhu udara sedikit menurun saat laga terakhir tur melawan Atletico Madrid pada hari Minggu.
Faktor cuaca memang menjadi topik pembicaraan utama selama dua pekan keberadaan City di Asia. Pada pekan pertama di Hong Kong, awan hitam tebal menggantung di atas kota selama sebulan penuh dan tak kunjung bergeser.
Hong Kong memang selalu lembap dan basah pada periode ini, namun musim panas kali ini terasa lebih ekstrem. Hujan deras turun selama 80 persen durasi setiap harinya saat City berada di sana, dengan suhu yang dirasakan mendekati 40 derajat Celsius.
Meski demikian, hujan sempat berhenti sejenak saat peluncuran kostum tandang baru mereka di Victoria Harbour. Acara tersebut menampilkan lapangan sepak bola terapung yang harus berulang kali diseka dan dikeringkan menggunakan handuk agar tidak licin sebelum dilintasi oleh Phil Foden, Ryan McAidoo, dan Abdukodir Khusanov.
Phil Foden Jadi Magnet Utama dan Kejadian Unik Suporter
Phil Foden menjadi bintang utama dalam tur kali ini. Namanya menjadi yang paling sering dan paling lantang diteriakkan oleh para penggemar dalam setiap sesi latihan terbuka maupun acara klub.
Pada malam pertamanya di Hong Kong, Foden berjalan-jalan untuk melihat patung legendaris Bruce Lee. Namun, ia langsung dikenali dan dikerumuni oleh para penggemar. Ketika ratusan suporter mengantre di luar Hotel Rosewood yang mewah sebelum laga pembuka melawan Inter Milan, Foden melayani permintaan foto dan tanda tangan satu per satu—ia bahkan menandatangani mantel berwarna biru langit milik seekor anjing.
Cerita unik juga terjadi di awal kedatangan tim di Hong Kong. Seorang penggemar menghampiri seorang pria yang dikira manajer baru, Enzo Maresca, untuk meminta tanda tangan. Faktanya, pria tersebut bukanlah Maresca, melainkan seorang staf produsen pakaian olahraga Puma yang memiliki perawakan mirip dan mengenakan pakaian latihan klub.
Walaupun hujan terus mengguyur Hong Kong, Stadion Kai Tak yang baru memiliki fasilitas atap penutup dan pendingin udara. Hal ini membuat persiapan laga melawan Inter Milan berjalan tanpa hambatan. Lagu-lagu bernuansa Manchester City seperti karya Oasis, Inspiral Carpets, hingga lagu kebangsaan klub diputar melalui pengeras suara stadion saat Maresca mematangkan taktik timnya tanpa memedulikan siapa yang menyaksikan.

Perubahan Budaya Internal di Bawah Kendali Enzo Maresca
Ketika tur berlanjut ke Seoul, Manchester City umumnya menggelar sesi latihan pada malam hari. Meski demikian, suhu malam hari tidak jauh berbeda dibanding siang hari. Sesi latihan pagi dihindari karena para pemain biasanya mengalami kesulitan tidur selama menjalani tur jarak jauh.
Para penggemar mendapatkan keuntungan dari keputusan Maresca yang menggelar sesi latihan penuh untuk menanamkan ide bertandingnya. Hadirnya manajer baru ini membawa perubahan besar di belakang layar.
Suasana di sekitar tim utama kini terasa jauh lebih santai dan terbuka terhadap pihak luar, termasuk staf internal klub maupun pihak sponsor. Bahkan sebelum tur dimulai, para staf telah mencatat bahwa gedung tim utama di markas latihan kini menjadi tempat yang lebih ramah saat jam makan siang. Akses bagi media dan publik terhadap pemain maupun manajer di Asia Timur mengalami perubahan signifikan.
Sebagai gambaran, selama enam tahun program 'Matchday Live' dijalankan di saluran resmi klub pada era Pep Guardiola, tim produksi tidak pernah diberi akses langsung untuk mewawancarai sang manajer atau pemain tim utama. Namun, pada sesi latihan terbuka pertama di Hong Kong, mereka dapat melakukan wawancara langsung dengan Antoine Semenyo dan Maresca.
Maresca juga menyempatkan diri duduk dan minum kopi bersama para jurnalis yang meliput tur tersebut. Momen serupa terakhir kali dilakukan Guardiola pada 2016 di tahun pertamanya. Guardiola saat itu memutuskan berhenti melakukan wawancara informal demi menjaga netralitas jurnalis.
Aksesibilitas pemain selama tur ini menjadi yang paling terbuka sejak era sebelum kedatangan Guardiola. Dalam beberapa tahun terakhir, staf City harus mengusahakan wawancara secara sembunyi-sembunyi di sela-sela kesibukan pemain dengan media lokal dan sponsor. Sebagai contoh, pada tur ke Tokyo tahun 2023, para wartawan harus berkumpul di dekat tangga emergency hanya untuk melakukan panggilan telepon dengan Nathan Ake mengenai kontrak barunya.
Musim panas ini, para pemain dihadirkan langsung kepada jurnalis seusai pertandingan dan sesi latihan terbuka. Foden bahkan berbicara selama 10 menit kepada media setelah peluncuran kostum baru. Hal-hal semacam ini sangat jarang terjadi pada era sebelumnya.
Faktor utama perubahan ini adalah kepergian Manel Estiarte, orang kepercayaan Guardiola yang selama ini membatasi akses pemain dari hal-hal di luar kewajiban kontrak. Estiarte sering berseloroh sebutan dirinya sebagai "orang jahat" karena kerap menolak permintaan wawancara demi melindungi skuad dari gangguan dan memastikan masa istirahat pemain terjaga.
Sistem ketat tersebut terbukti sukses menghadirkan dominasi City di lapangan, namun perubahan budaya di bawah kepemimpinan baru kini terlihat jelas sepanjang musim panas ini. Suasana di dalam tim dinilai jauh lebih menyenangkan dan santai. Maresca memberikan kesan awal yang sangat baik kepada para pemain maupun staf peninggalan era Guardiola.
Aktivitas Pemain di Luar Lapangan dan Kuliner Lokal
Di sela-sela agenda latihan dan laga, para pemain diberi kesempatan menjelajahi kota dan menghadiri berbagai acara pemasaran. Manajemen klub mendorong keterlibatan pemain dengan suporter, seperti Savinho dan Claudio Echeverri di acara Puma, Omar Marmoush yang bermain Mahjong di Hong Kong, serta Gvardiol dan Mateo Kovacic yang belajar membuat sumpit di distrik Jongno, Seoul.


Skuad City hanya mendapatkan dua hari libur selama tur dan menghabiskan banyak waktu di hotel dengan bermain tenis meja. Meski terbatas, beberapa pemain menyempatkan diri mencicipi jajanan lokal. Ruben Dias menyempatkan berkunjung ke Istana Gyeongbokgung di Seoul yang dibangun pada tahun 1395, berjarak dekat dari Hotel Four Seasons tempat tim menginap.
Beberapa pemain juga melakukan perjalanan singkat ke Shenzhen, Tiongkok, untuk menghadiri acara sponsor bersama produsen mobil BYD. Ruben Dias dan Donnarumma hadir dalam acara tersebut, menyusul pemain lain seperti Rodri, Foden, Rayan Cherki, dan Erling Haaland yang pernah membintangi iklan perusahaan tersebut.
Untuk urusan konsumsi, City membawa koki pribadi selama tur. Menu 'Riyad Pasta'—hidangan populer yang diperkenalkan mantan penyerang sayap Riyad Mahrez pada musim 2022-23 yang terdiri dari racikan daging ayam, keju, bawang bombai, dan paprika—masih tetap disajikan dalam menu harian tim.
Ulasan Pertandingan: Kemenangan atas Atletico Madrid
Pada pertandingan penutup tur, Manchester City memetik kemenangan 3-1 atas Atletico Madrid. Pertandingan sempat diwarnai protes para pemain Atletico kepada wasit setelah tayangan ulang memperlihatkan Antoine Semenyo berada dalam posisi offside sebelum proses gol kedua City terjadi.
Di tribun penonton, para pendukung City di belakang gawang melakukan gerakan selebrasi mendayung khas Norwegia yang sempat viral di Piala Dunia musim panas ini.
Sebelum laga dimulai, penyanyi Korea Selatan, San, tampil membawakan tarian dan melakukan tendangan simbolis. Sebanyak 50.078 penonton yang memadati stadion memberikan tepuk tangan meriah saat pemain tim nasional Korea Selatan, Lee Kang-in, masuk sebagai pemain pengganti untuk tim asuhan Diego Simeone.
Penyiar stadion secara berkala menyebutkan nama-nama pemain yang tampil menonjol, terutama Antoine Semenyo yang memperlihatkan performa impresif sepanjang laga. Laga melawan Atletico ini berlangsung lebih hidup dibandingkan laga pertengahan pekan melawan K-League All Stars.
Pada laga melawan K-League All Stars yang dihadiri sekitar 28.000 penonton, cuaca panas ekstrem membuat para penonton harus menggunakan kipas angin dan semprotan air pendingin. Di pertengahan babak kedua, seorang suporter yang diwawancarai di layar besar stadion memberikan pesan dukungan untuk Tijjani Reijnders sebelum menyanyikan lagu 'Hey Jude'.
Tur pramusim seperti ini memberikan nilai finansial yang sangat besar bagi komersial klub, meskipun kondisi cuaca sering kali kurang ideal untuk persiapan teknis sepak bola. Ratusan penggemar menyambut kedatangan skuat City di Bandara Incheon Seoul dan memberikan pelepasan yang sama meriahnya saat tim bertolak kembali ke Inggris pada Minggu malam. Era kepemimpinan Enzo Maresca di Manchester City kini resmi dimulai.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: