Gelar Juara Liga Champions 2023 Manchester City Dipertanyakan di Tengah Krisis Pelanggaran Finansial

Kemenangan Manchester City pada final Liga Champions 2023 kini mulai dipertanyakan. Hal ini terjadi menyusul sanksi dan dakwaan yang dijatuhkan oleh Premier League terkait pelanggaran aturan keuangan yang dilakukan oleh klub tersebut.
Pekan ini, Manchester City dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan yang berkaitan dengan pelanggaran berat terhadap aturan finansial Premier League. Pernyataan resmi Premier League mengonfirmasi bahwa klub telah "menyusun 'kontrak fiktif' (sham contracts)" serta "menyembunyikan kondisi keuangan yang sebenarnya dari auditor dan regulator sepak bola."
Klub berjuluk The Citizens tersebut kini menghadapi ancaman sanksi amat berat di kancah domestik. Tak hanya itu, pencapaian terbesar mereka di panggung kompetisi antarklub Eropa kini juga ikut menjadi sorotan tajam.

Dominasi Rekor Treble dan Dampaknya di Eropa
Pada tahun 2023, Manchester City berhasil mencatatkan sejarah sebagai klub Inggris kedua yang memenangkan gelar Treble—terdiri dari Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Catatan bersejarah ini menyamai pencapaian rival sekota mereka, Manchester United, pada musim 1999.
Skuad asuhan Pep Guardiola ini juga menjadi klub kedua yang meraih gelar Liga Champions perdana mereka di abad ke-21—menyusul jejak Chelsea dan mendahului Paris Saint-Germain. Pencapaian ini sekaligus menegaskan betapa sulitnya bagi klub-klub kaya baru untuk mendobrak tatanan dominasi klub-klub elit tradisional di sepak bola Eropa.
Sorotan dari Italia dan Potensi Putusan Retroaktif
Dalam sebuah wawancara radio yang dikutip oleh FCInter1908 dan Sport Witness, jurnalis senior asal Italia, Sandro Sabatini, menilai bahwa Inter Milan telah dirugikan oleh skandal Manchester City pascakekalahan 0-1 di partai final Liga Champions 2023 di Istanbul.
"Kita sedang menuju sebuah putusan kasus Manchester City. Jika putusan tersebut kelak diberlakukan secara retroaktif dan prinsip pelanggaran hukum diterapkan, maka dampaknya akan sangat luar biasa besar," ungkap Sabatini.
"Jika Anda melakukan pelanggaran saat mendatangkan seorang pemain pada tahun 2018, lalu pemain tersebut masih tampil pada final tahun 2023 melawan Inter Milan, tentu ini harus menjadi perhatian serius."
"Meskipun tahun 2023 tidak masuk dalam cakupan investigasi utama, Anda tetap berlaga menggunakan pemain-pemain yang direkrut melalui pelanggaran aturan. Situasi yang dihadapi Manchester City saat ini sangat masif," tambahnya.
Rekam Jejak Sanksi UEFA dan Pengadilan CAS
Sebelum skandal di Premier League ini mengemuka, UEFA sempat menjatuhkan sanksi larangan bertanding di kompetisi Eropa selama dua tahun kepada Manchester City pada Februari 2020. Keputusan tersebut diambil setelah UEFA menilai City melakukan "pelanggaran serius" terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) dalam rentang waktu 2012 hingga 2016.

Namun, hukuman dari UEFA tersebut pada akhirnya dibatalkan setelah Manchester City mengajukan banding resmi ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Di tengah pusaran krisis hukum dan finansial ini, Manchester City dijadwalkan akan bertandang ke markas Liverpool saat kompetisi Premier League kembali bergulir.

Sumber: FourFourTwo
Tidak ada komentar: