recent

Di Balik Akademi Genk: Pabrik Kiper '3D' Kelas Dunia Pencetak Rekor Transfer Liverpool dan Chelsea

Di Balik Akademi Genk: Pabrik Kiper '3D' Kelas Dunia Pencetak Rekor Transfer Liverpool dan Chelsea

Lucca Brughmans (kiri) dan Mike Penders adalah dua penjaga gawang jebolan akademi klub Belgia, Genk.


Liverpool kini telah mendapatkan calon penjaga gawang utama jangka panjang mereka yang baru.


Pada hari terakhir bursa transfer (deadline day), klub raksasa Premier League tersebut mengucurkan dana sebesar €33 juta (£28,3 juta / $38,3 juta) untuk mendaratkan pemuda berusia 18 tahun, Lucca Brughmans, ke Anfield. Nilai tersebut menjadikannya sebagai penjaga gawang usia remaja paling mahal dalam sejarah sepak bola.


Langkah serupa telah dilakukan Chelsea pada Juni 2025 lalu. The Blues mengamankan talenta muda Belgia lainnya di posisi kiper, Mike Penders yang saat itu berusia 19 tahun, dengan nilai transfer €20 juta. Penders melakukan debutnya di ajang Carabao Cup melawan Luton Town bulan lalu. Meskipun posisi utamanya saat ini harus tergeser oleh kedatangan juara Dunia Emiliano Martinez, Penders yang kini berusia 21 tahun tetap diproyeksikan sebagai calon penguasa bawah mistar gawang Chelsea di masa depan.


Kedua pemain ini tidak hanya terikat oleh kesamaan kewarganegaraan dan bakat yang luar biasa. Mereka berdua tumbuh dan ditempa dari akademi klub yang sama: KRC Genk.


Berada di wilayah timur Belgia dekat perbatasan Belanda dan dikelilingi hutan lebat, kota kecil Genk dahulu dikenal sebagai kawasan tambang batu bara dengan klub sepak bola sebagai pusat kehidupannya. Kini, industri tambang tersebut memang telah lenyap, tetapi Genk menemukan "tambang emas" baru yang tidak kalah bernilai dan menguntungkan.


Pabrik Kiper Utama Eropa

Sembilan belas tahun lalu, Thibaut Courtois yang saat itu berusia 19 tahun menjadi kiper elite pertama yang lahir dari akademi Genk. Ia diboyong Chelsea dengan nilai €9 juta pada tahun 2011. Usai mengoleksi dua trofi Liga Champions serta enam gelar liga domestik di Inggris dan Spanyol, Courtois kini diakui sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di generasinya.


Tidak hanya Courtois, Genk juga memegang rekor dengan menurunkan penjaga gawang termuda dalam sejarah Liga Champions melalui Maarten Vandevoordt, yang kala itu baru berusia 17 tahun dan 287 hari. Vandevoordt saat ini telah berusia 24 tahun dan menjadi pilihan utama di klub Bundesliga Jerman, RB Leipzig.


Ada satu sosok kunci yang menghubungkan seluruh nama besar tersebut: Guy Martens. Dedikasinya di Genk telah berlangsung selama hampir 35 tahun. Di tangannya, klub kecil dari sudut tenang Benua Biru ini disulap menjadi pabrik pencetak penjaga gawang papan atas Eropa.


Tahun lalu, media The Athletic mendapat kesempatan khusus untuk melihat dari dekat rahasia di balik kesuksesan akademi tersebut.

Analysing Lucca Brughmans, the 6ft 6in teenage goalkeeper Liverpool signed for a potential £30m

Awal Mula Filosofi dan Pengaruh dari Belanda

Lima puluh tahun lalu, Martens muda meniti kariernya di wilayah Limburg — tepatnya di klub Waterschei SV Thor, yang pada era 1980-an melakukan merger dengan FC Winterslag hingga membentuk Koninklijke Racing Club (KRC) Genk. Martens menghabiskan masa kecilnya di akademi klub divisi dua tersebut.


"Sebagai pemain, saya tidak terlalu berbakat," ujar Martens kepada The Athletic. "Saya menyadari kesalahan-kesalahan saya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa membantu memperbaikinya. Saat itu hanya ada kiper tim utama yang sesekali datang dan melakukan tembakan ke arah saya. Karena itu, saya memutuskan untuk menjadi guru sekolah."


Selama dekade berikutnya, saat berusia 20-an tahun, Martens bekerja sebagai guru pendidikan jasmani di sekolah menengah setempat sambil melatih tim-tim usia muda. Pada tahun 1990, ia berkenalan dengan pelatih kiper Genk saat itu, Poll Peters.


"Ketika Peters pergi, dia berkata, 'Saya kenal pelatih kiper yang sangat bagus; dia masih muda, tapi cobalah tempatkan dia di tim utama.' Dari situlah saya memulai. Pada awalnya saya membuat banyak kesalahan karena baru berusia 35 tahun. Saya tidak punya latar belakang pendidikan khusus pelatih kiper, jadi saya harus mempelajari semuanya dari nol."


Sama seperti Peters, Martens sangat dipengaruhi oleh filosofi raksasa Belanda, Ajax Amsterdam. Secara khusus, ia meneladani pelatih kiper Ajax, Frans Hoek, sosok yang secara berani mempromosikan Edwin van der Sar muda ke tim utama untuk menggantikan posisi kiper populer Stanley Menzo pada awal 1990-an.


"Sebelum era Hoek, latihan kiper selalu berupa tiga penjaga gawang yang berbaris dan bergantian melompat menepis bola di sudut lapangan," jelas Martens. "Namun, Hoek menyatukan semuanya; dia menciptakan latihan yang melibatkan pemain-pemain non-kiper (outfield)."


Menciptakan Penjaga Gawang '3D'

Metode integrasi itulah yang menjadi inti dari filosofi Martens. Sambil menjelaskan, ia memperlihatkan tumpukan dokumen di atas meja yang merinci tujuan utamanya: mencetak penjaga gawang berkarakter '3D'.


Menurut pandangannya, kiper '2D' hanya sebatas melakukan aksi teknis dasar, seperti melakukan penyelamatan atau menepis bola. Sementara itu, Martens menuntut kemampuan '3D' — yaitu kapasitas untuk membaca alur permainan secara cepat dan mengambil keputusan serta tindakan yang paling tepat di tengah pertandingan.

"Saya harus memiliki penjaga gawang yang proaktif," tegasnya. "Pondasi utamanya adalah mental. Tanpa mental, Anda tidak akan bisa menjadi penjaga gawang. Elemen kedua, yaitu 2D, adalah teknik seperti menggagalkan tembakan."


"Namun jika Anda hanya memiliki itu, Anda hanya akan menjadi kiper yang reaktif. Untuk menjadi kiper proaktif, Anda wajib memiliki kemampuan bermain sepak bola. Untuk menjadi 3D, Anda harus mendominasi, selalu menjadi penguasa atas setiap bola yang masuk ke ruang Anda, selalu memiliki pembacaan permainan dan pengambilan keputusan yang baik. Bagi saya, seorang penjaga gawang tampil fantastis justru ketika dia tidak perlu membuat satu pun penyelamatan, karena itu menandakan penempatannya sudah sangat sempurna."


Gagasan tersebut melahirkan sejumlah kebijakan unik di Genk. Pada kelompok umur akademi yang paling muda, Genk sama sekali tidak merekrut pemain khusus posisi penjaga gawang. Hingga usia 12 tahun, klub hanya mengundang pemain-pemain paling berbakat. Pada tahap ini, tidak ada yang berstatus sebagai kiper tetap, namun semua pemain bergantian posisi saat latihan. Barulah ketika memasuki usia remaja, Martens mulai menyaring pemain terbaik untuk dispesialisasikan sebagai kiper.


"Sebelum berusia 12 tahun, Courtois bermain di posisi outfield," ungkap Martens. "Saya tidak pernah memiliki kiper hebat yang sudah fokus menetap di posisi gawang sejak usia enam tahun. Merek mungkin bisa menjadi kiper yang hebat dalam konteks 2D, tetapi untuk skala 3D, mereka harus merasakan sendiri bagaimana rasanya bermain di garis pertahanan tinggi, menjadi penyerang, atau berada di lini tengah."


"Menurut saya, penjaga gawang adalah pemain paling vital dalam sepak bola; mereka adalah penyerang pertama sekaligus bertahan terakhir. Pemain terbaik juga merupakan penjaga gawang terbaik. Koordinasi dan kemampuan membaca permainan mereka sangat unggul. Teknik memotong bola itu mudah diajarkan, tetapi visi bertanding? Itu adalah bakat alami yang Anda miliki atau tidak sama sekali."


Ada pemandangan unik dalam sesi latihan tim muda Genk, di mana para penjaga gawang diwajibkan menggunakan pelindung kepala (scrumcap) layaknya pemain kasti/rugby. Kebijakan ini diwajibkan oleh Martens — suatu langkah yang di Belgia hanya diikuti oleh klub Mechelen. Kebijakan ini amat masuk akal mengingat fokus utamanya pada perlindungan dan pemikiran taktis pemain.


Setelah Martens menemukan pemain outfield yang memiliki ledakan fisik serta potensi bergerak di bawah mistar, proses spesialisasi dimulai. Dalam istilah Martens, fase ini adalah proses "mengisi memori ke dalam hard disk".


"Ketika Anda memasukkan banyak informasi ke dalam ingatan mereka — lewat latihan, diskusi, dan analisis video — memori itu akan terisi. Semakin dewasa dan berpengalaman, mereka akan semakin cepat mengambil keputusan dari 'hard disk' tersebut," tuturnya. "Pemain akan merasa sudah pernah menghadapi situasi tersebut sebelumnya, sehingga aksi yang diambil bisa sangat presisi."


Untuk mencapai level itu, latihan harus merefleksikan situasi pertandingan nyata melalui penggabungan peran kiper dan pemain outfield. Apakah kiper harus maju menutup ruang? Apakah harus menepis bola? Apakah bek sudah mengawal tiang dekat dengan benar?


"Perkembangan otak terjadi melalui pembentukan jaringan saraf. Jika suatu aksi diulang terus-menerus, koneksi saraf tersebut akan semakin kuat. Karena itu, pelatih kiper harus mencurahkan energi terbesar pada latihan terintegrasi ini, ketimbang sekadar latihan satu lawan satu."


"Jika saya hanya berdiri dan menembakkan bola ke arah mereka, mereka sudah tahu apa yang akan terjadi tanpa perlu melatih proses pengambilan keputusan."

Membentuk Karakter dan Menepis Pengukuran Fisik Dini

Mike Penders tiba di Genk pada usia 13 tahun dengan postur tubuh yang sudah jangkung. Martens mencontohkan Penders sebagai bukti pentingnya proses pembinaan ini.


"Karena perawakannya yang tinggi, profil fisiknya sangat mendukung, tetapi kontrol kakinya sangat buruk," kenang Martens. "Di awal latihan dia mengalami banyak kesulitan. Kami harus melatih koordinasinya secara masif karena pergerakan kakinya kaku seperti gajah."


"Dalam aspek 2D, jangkauan dan eksekusinya sangat baik karena ia tinggi, cepat, dan memiliki lengan yang panjang. Namun untuk urusan alur permainan 3D di depannya, dia sempat bermasalah. Kami bekerja keras mengasah kemampuan kaki kanan dan kirinya."


Martens secara tegas menolak tren banyak klub elite yang terlalu dini melakukan tes fisiologis untuk menentukan nasib karier akademi pemain berdasarkan prediksi tinggi badan.


"Saya pernah meminjam Mat Ryan (kiper utama Australia) dari Valencia pada 2017. Ia punya bakat luar biasa dalam penguasaan bola dengan kaki. Tingginya hanya 184 cm, yang secara standar modern diakui kurang tinggi, tetapi ia mampu menutupinya dengan kelebihan lain. Sama halnya dengan Ivor Pandur (kiper utama Rangers saat ini) yang berperinggi 187 cm — posisi dan pergerakan kakinya luar biasa."


"Saya juga pernah melatih kiper setinggi 207 cm. Orang mungkin berpikir dia bisa menyapu bersih semua bola atas, tetapi kenyataannya tidak demikian. Langkah pertamanya tidak cukup cepat."


Kasus serupa pernah terjadi pada Thibaut Courtois.


"Saat berusia 13 atau 14 tahun, beberapa tim di akademi sempat ingin melepas Courtois," ungkap Martens. "Pertumbuhan fisiknya lambat, dan perkembangan mentalnya belum selaras dengan tubuhnya saat mulai tumbuh pesat. Ia sempat mengalami kendala koordinasi gerakan."


Courtois, yang kini berusia 34 tahun, berada di angkatan akademi yang sama dengan Koen Casteels (pemain Al Qadsiah yang mengantongi 20 penampilan bersama timnas Belgia). Martens bekerja sama dengan Asosiasi Sepak Bola Belgia untuk memasukkan Courtois ke salah satu sekolah olahraga terbaik di negara tersebut guna menunjang perkembangannya.

Ketika krisis cedera membuka jalan bagi Courtois untuk melakoni debut di tim utama Genk sebelum ulang tahunnya yang ke-17, terlihat jelas bahwa hambatan masa mudanya berhasil membentuk mentalitas yang sangat kuat.


"Dia tampil pada laga kandang melawan Gent, dan saya punya firasat dia akan bermain luar biasa," kata Martens. "Dia melakukan banyak penyelamatan gemilang dan memukau semua orang. Beberapa kiper muda bisa mengkerut hingga 20 persen saat masuk ke laga besar, tetapi Courtois justru berkembang 30 persen lebih besar."


Toleransi Kesalahan dan Model Bisnis Berkelanjutan

Martens masih mengingat jelas rasa sakit dan pengucilan yang ia alami ketika membuat kesalahan saat masih menjadi pemain setengah abad lalu. Ia bertekad tidak akan membiarkan anak asuhnya mengalami hal serupa.


"Dulu ketika saya menjadi kiper dan membuat kesalahan, begitu masuk kantin klub, saya merasa semua orang menatap dan menyalahkan saya. Namun di sini, kami menanamkan bahwa membuat kesalahan adalah hal yang wajar. Hanya dari situlah Anda bisa belajar."


Ia memberi contoh Maarten Vandevoordt. Pada malam bersejarah Desember 2019 saat menjadi kiper termuda di Liga Champions, Vandevoordt melakukan kesalahan fatal ketika mencoba trik Cruyff turn di area sendiri saat ditekan pemain Napoli. Laga tersebut berakhir dengan kekalahan Genk 0-4.


"Kami tidak pernah menyalahkan mereka jika membuat kesalahan," tegas Martens. "Maarten paham betul hal itu karena dia sudah berada di sini sejak usia 11 tahun. Jika mereka membuat kesalahan saat mencoba tampil proaktif, itu fantastis. Itu adalah tanggung jawab saya, bukan mereka."


Kebijakan Martens adalah memberi kepercayaan pada kiper usia muda lebih awal. Genk selalu menyusun skuad tim utama dengan empat penjaga gawang, di mana setidaknya dua di antaranya berusia tak lebih dari 17 tahun.


"Semua orang di Genk, mulai dari suporter hingga jajaran direksi, tahu bahwa kiper muda kami akan membuat kesalahan," terang Martens. "Namun mereka sangat berkualitas. Sebelum menginjak usia 21 tahun, mereka biasanya akan dilepas dengan nilai transfer €10 juta, €20 juta, atau lebih. Setelah itu manajemen akan berkata, 'Baik Guy, siapa selanjutnya?'"


Bahkan bagi mereka yang tidak menembus tim utama Genk, pembinaan di sana tetap menjamin karier profesional mereka. Pada musim 2024-2025, Martens mencatat ada tujuh penjaga gawang di divisi teratas Pro League Belgia yang merupakan hasil didikannya.


Produk terbaru dari sistem ini adalah Lucca Brughmans. Lahir dari ibu berkebangsaan Belgia dan ayah asal Kongo, Brughmans baru melakoni debutnya bersama Jong Genk (tim cadangan di divisi dua) empat bulan sebelum kunjungan The Athletic pada 2025. Martens sangat kagum pada potensi Brughmans sejak mulai melatihnya secara penuh di usia 14 tahun.


Martens menilai daya ledak dan ketahanan fisik Brughmans sebagai yang terbaik yang pernah ia tangani. Setelah resmi direkrut Liverpool pada deadline day sebagai rekor penjualan terbesar dalam sejarah Genk, Brughmans dipinjamkan kembali ke Genk untuk menghabiskan sisa musim ini.


Sebagai pendukung setia Genk seumur hidup, Martens sudah terbiasa melihat anak-anak didiknya melangkah pergi ke klub kaya dunia, meski proses tersebut tetap menyisakan sedikit rasa ganjal di hatinya.


"Ini adalah sebuah frustrasi tersendiri," aku Martens. "Saya tidak pernah melihat 'apel hijau' matang menjadi 'apel merah' di tempat ini. Apel-apel itu selalu matang dan memerah ketika berada di tim lain."

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.