Liverpool Tekuk Tottenham 3-1 di Carabao Cup: Alexis Mac Allister Gemilang, Dominik Szoboszlai Cetak Gol Spektakuler

Tembakan voli spektakuler dari Dominik Szoboszlai memastikan langkah Liverpool menuju babak 16 besar Carabao Cup usai memetik kemenangan kandang 3-1 atas Tottenham Hotspur di Stadion Anfield. Seluruh gol yang tercipta pada laga ini terbilang sangat mengesankan.
Saat Spurs berupaya keras menyamakan kedudukan di menit-menit akhir, pemain internasional Hungaria tersebut menyambut bola operan lambung Cody Gakpo dari jarak 25 yard dengan tembakan setengah voli yang meluncur mulus tanpa bisa dijangkau kiper Martin Dubravka.
Kedua tim melakukan rotasi besar-besaran dari susunan pemain reguler mereka di Liga Premier. Alexis Mac Allister membuka keunggulan Liverpool saat laga berjalan 21 menit. Cody Gakpo kemudian menggandakan keunggulan The Reds 10 menit setelah turun minum (menit ke-55).
Tottenham sempat mendapat napas baru pada menit ke-69 ketika Conor Gallagher menyundul bola dari jarak dekat memanfaatkan umpan sepak pojok Mateus Fernandes. Namun, gol indah Szoboszlai di akhir laga memastikan hasil pertandingan sepenuhnya milik tuan rumah.
Berikut adalah analisis jalannya laga di Anfield dari wartawan The Athletic: Andy Jones, Jack Pitt-Brooke, dan Anantaajith Raghuraman.
Kebangkitan Alexis Mac Allister di Lini Tengah
Tembakan Alexis Mac Allister saat membawa Liverpool unggul di menit ke-21 mengarah sangat presisi ke sudut gawang. Performa pemain asal Argentina ini di awal musim pun menunjukkan ketepatan yang serupa.
Sebelum musim bergulir, masa depan gelandang berusia 27 tahun ini sempat diselimuti ketidakpastian, baik di dalam maupun di luar lapangan. Mac Allister secara terbuka sempat mengungkapkan bahwa manajemen Liverpool memberitahunya bahwa klub belum dalam posisi untuk menawarkan kontrak baru. Di saat yang sama, muncul minat dari klub lain serta keraguan besar apakah ia sanggup kembali ke level terbaiknya seperti dua musim pertamanya setelah mengalami penurunan performa yang signifikan pada musim 2025-26.
Namun, pemilik sisa kontrak kurang dari dua tahun tersebut kini tampil segar, bangkit, dan menunjukkan tanda-tanda kuat kembali ke bentuk permainan terbaiknya.
Masalah lini tengah memang menjadi topik perbincangan utama Liverpool sejak awal musim, terutama setelah hasil imbang 0-0 yang mengecewakan melawan Fulham pada hari Minggu lalu di Anfield. Pada laga tersebut, Mac Allister memulai dari bangku cadangan sebelum menggantikan Ryan Gravenberch di menit ke-60, dan masuknya Mac Allister terbukti membuat permainan Liverpool jauh lebih seimbang.
Menghadapi Tottenham, Mac Allister dipercaya tampil sebagai starter mendampingi dua pemain muda, Trey Nyoni dan James McConnell. Meski sempat mengalami kendala struktur di 15 menit awal, Mac Allister mampu memimpin rekan-rekannya melalui gol serta kontribusi permainannya secara keseluruhan. Ia tampil tajam saat menguasai bola, memberikan assist untuk gol Gakpo, dan sangat waspada saat bertahan.
Salah satu momen impresif terjadi di babak pertama ketika ia melindung bola di tengah lapangan dari kawalan Rodrigo Bentancur hingga berhasil lolos membawa bola. Ia tampak kembali seperti Mac Allister yang dahulu. Pelatih Andoni Iraola tentu berharap level performa ini terus berlanjut karena Mac Allister saat ini terlihat sebagai opsi terbaik Liverpool dalam skema dua gelandang.
Panggung Pemain Muda Racikan Andoni Iraola
Rekam jejak Andoni Iraola selama tiga musim melatih Bournemouth membuktikan kemampuannya menyediakan panggung ideal bagi para pemain muda untuk berkembang. Hal itulah yang membuat Bournemouth terus berkembang dari musim ke musim meski harus kehilangan beberapa pemain kunci.
Nama-nama seperti Alex Scott, Antoine Semenyo, Dean Huijsen, Eli Kroupi, Milos Kerkez, hingga yang terbaru Rayan, merupakan jajaran pemain yang bersinar di bawah asuhannya di pantai selatan Inggris. Mengacu pada catatan tersebut, penampilan Trey Nyoni, James McConnell, Lewis Koumas, serta Rio Ngumoha—pemain termuda secara usia namun paling berpengalaman di tim senior di antara kuartet ini—memberikan angin segar yang sangat menjanjikan bagi Liverpool.
McConnell, yang tertua di antara keempatnya pada usia 22 tahun, tidak canggung sedikit pun saat berhadapan dengan para pemain Premier League dan pemain berlabel internasional. Ia menyajikan permainan fisik dan kemampuan mengangkut bola yang solid. Aksi individunya yang menembus lini tengah Spurs menjadi awal terciptanya gol Gakpo.
Lewis Koumas (20 tahun) melakukan pressing dengan intensitas tinggi untuk mengganggu Marcos Senesi dan Tosin Adarabioyo saat Spurs mencoba membangun serangan dari belakang. Pergerakan melebarnya sangat krusial dalam proses gol pembuka Mac Allister karena membuka ruang bagi Gakpo untuk bergerak ke dalam dan memberi umpan kepada Ngumoha. Ngumoha sendiri tampil apik di sayap kanan, di mana kemampuan menahan bolanya saat Liverpool bermain lebih direktif terlihat sangat mengesankan.
Di lini belakang mereka, akurasi umpan Trey Nyoni (19 tahun) yang mampu membelah tekanan pemain Tottenham sangat menjanjikan. Umpan-umpan vertikal penembus lini dari area dalam bukanlah kekuatan utama gelandang utama Liverpool saat ini, sehingga Iraola tentu sangat menghargai kualitas Nyoni, yang juga terbukti tangguh keluar dari tekanan lawan.
Krisis Kepercayaan Diri Tottenham di Depan Gawang
Bukan rahasia lagi apa masalah utama Tottenham Hotspur saat ini. Mereka belum mencetak satu gol pun di Premier League musim ini setelah melakoni empat pertandingan. Meski berhasil mencetak gol di ajang Carabao Cup, jumlah tersebut belum cukup untuk membawa mereka melangkah ke babak keempat.
Masalah Spurs sejatinya bukan karena kekurangan pemain berkualitas, mengingat mereka telah mengeluarkannya banyak dana di bursa transfer musim panas. Mereka juga tidak bermain terlalu bertahan atau hati-hati di bawah asuhan pelatih Roberto De Zerbi yang menyukai sepak bola menyerang. Namun, Spurs tampak sedang mengalami krisis kepercayaan diri di depan gawang lawan.

Tottenham sebenarnya merangkai beberapa skema serangan yang ciamik di laga ini—pencapaian yang cukup mengesankan mengingat De Zerbi melakukan delapan pergantian pemain dibanding tim yang bermain imbang melawan Everton di akhir pekan. Namun, tembakan Lucas Bergvall di awal laga mengarah tepat ke pelukan Giorgi Mamardashvili, sementara tembakan voli Mohammed Kudus menyamping dari sasaran, membuat dominasi serangan mereka di babak pertama berakhir sia-sia. Sebaliknya, Liverpool tampil efektif memanfaatkan momentum menjadi gol.
Spurs tampil lebih hidup saat mengejar ketertinggalan dengan di motori oleh Omar Marmoush. Mereka berhasil memperkecil kedudukan saat Conor Gallagher berdiri bebas di tiang jauh untuk menyundul bola hasil sepak pojok Mateus Fernandes. Spurs kemudian menekan habis-habisan untuk mencari gol penyeimbang, di mana Marmoush memaksa Mamardashvili melakukan penyelamatan gemilang saat kedudukan masih rawan. Secara keseluruhan, lini serang Spurs tampil lebih baik dibandingkan beberapa laga mereka sebelumnya musim ini.
Tottenham tampaknya hanya membutuhkan satu kemenangan besar sebagai pemantik kepercayaan diri untuk mengakhiri periode sulit ini.
Komentar Pelatih dan Jadwal Selanjutnya
Berbicara kepada BBC Radio 5 Live usai laga, kepala pelatih Liverpool, Andoni Iraola, mengungkapkan kepuasannya: "Saya senang dengan performa tim. Ada beberapa fase berbeda dalam pertandingan ini, tetapi secara keseluruhan saya menyukai energinya. Saat unggul 2-0, mereka harus mengambil risiko dan menguasai wilayah. Kami bertahan dengan baik tetapi terlalu banyak memberikan situasi bola mati, dan gol mereka sempat menempatkan kami dalam tekanan. Beruntung bagi kami, kami menemukan cara mencetak gol ketiga dan mengakhiri laga dengan baik."
Mengenai gol indah Dominik Szoboszlai, Iraola menambahkan: "Satu hal tentang Dom adalah ketika dia bersiap menembak, dia selalu punya peluang mencetak gol. Bersamanya, Anda akan selalu percaya karena dia pernah melakukannya sebelum ini. Dia adalah eksekutor yang luar biasa."
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: