recent

Di Balik Drama 2-2 Kontra Man United: Krisis Internal, Kekacauan Transfer, dan Daya Juang Everton yang Tak Kunjung Padam

Di Balik Drama 2-2 Kontra Man United: Krisis Internal, Kekacauan Transfer, dan Daya Juang Everton yang Tak Kunjung Padam

Para pemain dan pendukung Everton merayakan gol penyama kedudukan secara dramatis di menit-menit akhir untuk memaksakan hasil imbang 2-2 saat menjamu Manchester United di Stadion Hill Dickinson. Hasil ini menjadi babak terbaru dari serial harian The Athletic, "Our League", yang dikerjakan oleh jurnalis George Caulkin untuk membedah dinamika, gairah, hingga krisis di liga paling kaya dan paling banyak ditonton di dunia.


Pertandingan hari Minggu di Stadion Hill Dickinson menyajikan drama klasik Everton melawan diri mereka sendiri sekaligus melawan dunia. Di tengah kemegahan stadion modern berarsitektur bata merah, baja kawasan pelabuhan, serta deretan kedai makanan yang menjajakan pizza beraroma kayu bakar hingga barbekyu khas Brasil, sebuah kisah lama bertema perlawanan kembali terhampar.


Laga berjalan timpang dan penuh tekanan. Everton membangun tembok biru pertahanan lewat blokade dan sapuan bola yang terus-menerus digempur hingga retak. Stadion sempat diselimuti gumaman kecewa sebelum akhirnya meledak lewat aksi perlawanan di detik-detik akhir pertandingan.


Peluit panjang menyisakan dua pemandangan kontras: tribun yang mulai kosong meninggalkan gema keputusasaan, berpadu dengan nyanyian kelompok suporter yang bertahan menyuarakan lagu kebanggaan mereka, "It’s a grand old team to play for; it’s a grand old team to support." Sejam setelah laga usai, seorang pria berjersey Everton, bercelana jin hitam, dan bersepatu kets putih berjalan meninggalkan stadion sambil bergumam penuh emosi, "Klub sialan ini," menggambarkan dengan jelas percampuran antara kekecewaan dan cinta mati kepada klubnya.

Perjuangan Hingga Detik Terakhir di Tengah Badai Crisis

Memasuki menit keenam masa tambahan waktu (90+6'), Everton berada di ambang kekalahan 1-2 dari Manchester United. Setelah melewati pekan yang berat penuh evaluasi dan penderitaan internal, mereka terus berjuang meski tampil kurang tajam dan terseok-seok. Everton sempat tertinggal, bangkit menyamakan kedudukan, lalu tertinggal kembali.


Namun tepat di saat harapan hampir pupus, sebuah tendangan keras memukau dari Ainsley Maitland-Niles menghujam gawang lawan untuk mengubah skor menjadi 2-2. Pada momen ketika semua orang mengira mereka akan menyerah, Everton menolak untuk kalah.


Sebelum laga dimulai, atmosfer di sekitar stadion terasa sangat genting. Seorang suporter bernama Glenn, yang sedang menikmati burger dari Bramley Bites di Regent Road dua jam sebelum kick-off, mengungkapkan ketidakpastiannya. "Jujur, saya tidak tahu apa yang harus diharapkan hari ini," katanya. "Biasanya saya punya gambaran tentang apa yang akan terjadi... tapi kali ini, apa pun bisa terjadi."


Pada akhirnya, kekhawatiran akan pecahnya kerusuhan suporter luluh oleh gemuruh suara fans saat gol fantastis Maitland-Niles tercipta. Everton merasakan keputusbitaan yang mendalam, lalu menghapusnya dalam sekejap.

Statistik Kelam dan Realitas Posisi Everton

Akan tetapi, situasi perlawanan tiada akhir seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang diinginkan Everton. Manajer David Moyes menegaskan harapannya usai pertandingan: "Saya rasa kami cukup baik dalam menghadapi situasi sulit ini. Tapi saya tidak ingin kami terus-menerus berada di momen seperti ini. Saya ingin kita menjadi klub yang sedang membangun, berambisi, dan berusaha menantang tim-tim papan atas."


Hingga pekan ketiga Premier League musim ini, Everton belum mencapai titik ideal tersebut, meski mereka masih belum terkalahkan. Everton memegang rekor sebagai klub yang paling lama bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Bersama Arsenal, Manchester United, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan rival sekota Liverpool, Everton adalah tim yang tak pernah terdegradasi sepanjang 34 tahun era Premier League.


Meski mengoleksi sembilan gelar juara liga—hanya selisih satu gelar dari Manchester City—Everton belum pernah lagi mengangkat trofi juara sejak 1987. Rekor posisi akhir mereka di klasemen selama tujuh musim terakhir menunjukkan konsistensi yang ironis: peringkat ke-12, 10, 16, 17, 15, 13, dan 13. Mereka selalu berada di ambang jurang bencana tanpa benar-benar jatuh, dipenuhi berbagai keputusan manajemen yang buruk serta hukuman pengurangan poin.

Janji Pemilik Baru dan Kekacauan Bursa Transfer

Masa-masa suram tersebut sebelumnya diharapkan berakhir setelah konsorsium asal Texas, The Friedkin Group (TFG)—yang juga pemilik klub Roma di Serie A—resmi mengambil alih kepemilikan klub pada Desember 2024. TFG berjanji membawa Everton menuju era baru yang menjanjikan serta mengembalikan klub ke posisi yang seharusnya di Premier League.


Kepindahan dari Goodison Park, stadion bersejarah yang dihuni sejak 1892, menuju stadion baru awalnya dianggap sebagai simbol era baru. Namun, setahun berselang, Everton berada di lokasi baru dengan masalah lama yang sama. Salah satu pengisi siniar The Blue Room mengungkapkan rasa frustrasinya: "Kami semua merasa tertipu. Berapa banyak lagi harapan palsu yang harus kita jalani?"


Musim lalu, Everton gagal menang di tujuh laga terakhir sehingga membuang peluang lolos ke kompetisi Eropa. Kebijakan transfer di bursa transfer musim panas pun dinilai merugikan tim. Everton menjual Iliman Ndiaye ke Manchester City senilai £65 juta dan sempat berencana menjual pemain muda Harrison Armstrong ke Nottingham Forest, yang memicu ancaman protes keras dari fans.

Puncak kekacauan terjadi pada tenggat waktu bursa transfer (Deadline Day). Penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, terbang dari AS Monaco ke Merseyside untuk merampungkan transfer, namun kepindahannya batal di menit-menit akhir dan sang pemain terbang kembali ke Prancis.


Akibatnya, Everton kini hanya memiliki satu striker senior dan hanya 18 pemain non-kiper di skuad utama, jauh di bawah rata-rata pesaing mereka yang memiliki 22 hingga 23 pemain. Ketika ditanya apakah kedalaman skuadnya cukup untuk mengarungi musim Premier League, David Moyes menjawab singkat dan tegas: "Saya akan katakan tidak."


Kondisi ini memicu keretakan internal. Kelompok suporter "1878s", yang biasanya mengorganisir koreografi dan tifo di stadion, memutuskan mundur dari kegiatan mereka karena merasa ambisi pemilik tidak sejalan dengan fans. Di saat yang sama, beredar kabar bahwa TFG mulai mencari investor baru yang berpotensi berujung pada penjualan penuh klub.


Kontroversi Unggahan Donat dan Suara Para Suporter

Di tengah kepanikan tenggat transfer pada 1 September pukul 22.10 malam, akun media sosial resmi Everton justru mengunggah konten tentang donat dengan pesan "One more year". Unggahan tersebut sejatinya merujuk pada produk "Toffee Doughnut" yang sempat dijual di stadion sebelum digantikan oleh biskuit "Toffee Treat". Maksud asli unggahan tersebut adalah pengumuman kuis implisit terkait kembalinya Jack Grealish dengan status pinjaman musim kedua dari Manchester City.


Namun, humor tersebut ditanggapi dingin oleh fans yang sedang cemas. Komentar paling populer di platform X berbunyi: "Satu-satunya klub di Premier League yang cuma punya satu striker dan satu bek kanan, tapi malah mengumumkan donat."


Di dalam toko resmi klub pada hari pertandingan, seorang fans bernama Maureen Clancy (48) tampak memegang jersey bernomor punggung 10 milik Grealish seharga £98 ($132). "Saya ingin percaya, tapi rasanya seperti melihat film ulang yang terlalu sering diputar," tuturnya.


Sementara itu di area luar stadion, Sam, seorang fans yang memiliki tato logo Everton di pergelangan kaki kirinya sambil memegang minuman kemasan seharga £5.95, berkomentar sinis: "Dalam enam bulan, kita beruba dari bermimpi main di Liga Champions menjadi kembali ke masalah lama yang sama."

Jalannya Pertandingan dan Ketegangan di Lapangan

Pada 21 Maret lalu, Everton sempat membantai Chelsea 3-0 di stadion ini dan duduk di peringkat kedelapan, hanya terpaut tiga poin dari Liverpool di posisi kelima. Namun penurunan performa setelahnya membuat posisi David Moyes sempat bergoyang. Moyes, yang pernah melatih Everton pada periode 2002–2013 sebelum pindah ke Manchester United, kini kembali menjadi penenang bagi publik Goodison dan stadion baru.


Menjelang penutupan bursa transfer, Moyes memberikan pesan singkat untuk menenangkan suporter: "Saya hanya ingin bilang, manajer mereka adalah seorang Evertonian."


Dalam catatannya di program pertandingan resmi kontra Manchester United, Moyes menuliskan judul: "Kita harus kuat dan bersatu". Di lapangan, Everton mengawali laga dengan sangat minim peluang. Setelah 30 menit berjalan, nilai expected goals (xG) Everton hanya menyentuh angka 0,01. Momen terbaik mereka di babak pertama hanyalah ketika Jarrad Branthwaite melakukan tekel keras terhadap Marcus Rashford yang disambut sorakan gemuruh fans.

Manchester United membuka keunggulan lebih dulu lewat sepakan Bryan Mbeumo yang bergerak memotong dari sisi kanan. Masuknya Jack Grealish pada menit ke-66 menggantikan pemain lain memberikan warna baru dalam serangan Everton. Pemain yang dibeli Man City seharga £100 juta lima tahun lalu itu membawa rasa percaya diri dan kualitas permainan di lini depan.


Manchester United tidak tampil dominan, dan perlawanan gigih Everton akhirnya membuahkan hasil di detik-detik akhir. Meski senang dengan satu poin, Moyes memberikan catatan khusus atas hasil imbang tersebut.


“Apakah ini momen besar? Ya, berhasil menyamakan kedudukan di menit terakhir adalah momen besar," ujar Moyes usai laga. "Tapi bagi saya pribadi tidak terasa terlalu besar, karena saya ingin menang dan merasa kami mampu menang. Saya senang mendapat satu poin, tapi saya harus memenangkan laga kandang kami."

Ketika ditanya bagaimana ia mencegah negativitas memengaruhi ruang ganti pemain di tengah minimnya kedalaman skuad, Moyes menegaskan komitmen para pemainnya.


“Tidak ada alasan dari pemain mana pun atas apa yang telah terjadi," tegas Moyes. "Semua pemain setuju. Kami sepakat untuk tidak berjalan keluar sambil menggelengkan kepala hanya karena kekurangan pemain. Reaksinya harus sepenuhnya berlawanan, dan para pemain sangat berkomitmen terhadap hal itu."


Sikap pantang menyerah tersebut menjadi cerminan klasik David Moyes dan Everton. Meski dibayangi berbagai masalah internal dan kegagalan manajemen, gol fantastis Ainsley Maitland-Niles pada menit ke-96 membuktikan bahwa semangat juang klub ini belum padam. Di rumah baru mereka, Everton terus menjaga tradisi perlawanan yang membuat mereka tetap bertahan di kasta tertinggi.

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.