recent

Dari Minus 17 Poin ke Panggung Eropa: Bournemouth Ukir Sejarah Manis di Liga Europa

Adam Smith memimpin selebrasi pemain Bournemouth setelah menang di markas Real Sociedad

Sebuah spanduk di tribune tim tamu Stadion Anoeta membentang dengan tulisan penuh makna: 'From -17 to Europe' (Dari -17 ke Eropa). Kalimat singkat tersebut menjadi pengingat yang begitu membekas tentang seberapa jauh Bournemouth telah melangkah saat mereka memulai kampanye kompetisi Eropa pertama sepanjang 127 tahun sejarah klub.


Kemenangan tipis 2-1 atas Real Sociedad pada laga pembuka Liga Europa membuktikan bahwa perjalanan klub berjuluk The Cherries ini tidak berhenti sekadar sampai di fase partisipasi. Sebelas tahun telah berlalu sejak Bournemouth pertama kali promosi ke Premier League, yang berarti ada generasi pendukung baru yang kini menganggap sepak bola kasta tertinggi Inggris sebagai sebuah hal yang lumrah.


Dari sudut pandang tersebut, lolos dan tampil di kompetisi antarklub Eropa mungkin terlihat sebagai langkah logis berikutnya bagi klub yang dikelola dengan baik dan memiliki ambisi besar. Kemenangan tandang ini pun dirayakan secara emosional oleh ribuan pendukung yang hadir langsung di Spanyol.


"Ini adalah kemenangan yang luar biasa di pertandingan Eropa pertama kami. Hasil ini sangat brilian bagi klub dan 2.000 penggemar yang datang jauh-jauh dari Bournemouth," ujar manajer Marco Rose kepada TNT Sports seusai pertandingan.


Meski demikian, bagi mayoritas pendukung yang merayakan kemenangan bersejarah pada Jumat WIB tersebut, seluruh pencapaian ini masih terasa bagaikan mimpi. Sebab, baru 18 tahun yang lalu, klub berada tepat di jurang kehancuran akibat masalah finansial.


Kala itu, pengurangan 10 poin akibat masuk ke masa administrasi membuat Bournemouth terlempar ke League Two (kasta keempat). Bahkan untuk sekadar bertahan di kompetisi Football League pada musim 2008-09, mereka harus menerima hukuman pengurangan 17 poin dan menyetujui perjanjian untuk tidak mengajukan banding setelah dinyatakan gagal memenuhi persyaratan keluar dari status administrasi karena tidak menyepakati Company Voluntary Arrangement (CVA).


Di masa-masa sulit saat klub asal Dorset itu berjuang hidup-mati agar tidak gulung tikar, bayangan tentang gelandang berharga £100 juta yang memberikan umpan manja kepada penyerang sayap asal Brasil untuk mencetak gol kemenangan di Eropa hanyalah fantasi liar. Namun kini, hal tersebut menjadi kenyataan manis bagi Bournemouth.


Di Stadion Anoeta, San Sebastian, Alex Scott tampil memukau dan menunjukkan alasan mengapa dirinya menjadi incaran klub-klub raksasa Premier League. Sementara itu, Rayan kembali membuktikan kualitasnya melalui gol sundulan penentu kemenangan—alasan kuat mengapa Bournemouth akan menuntut pembayaran penuh atas klausal pelepasan sang pemain yang dilaporkan mencapai £130 juta jika ada klub yang ingin memboyongnya.


Bournemouth memang tidak memiliki tolok ukur sejarah sebelumnya di pentas benua biru, namun penampilan mereka di markas Sociedad adalah performa tandang khas Eropa yang sangat matang. Menghadapi tuan rumah yang diperkuat penyerang juara Dunia, Mikel Oyarzabal, serta berstatus sebagai juara Copa del Rey musim lalu usai menumbangkan Atletico Madrid, Bournemouth tampil dominan sepanjang 45 menit pertama.


Skuat asuhan Marco Rose mampu mengunci pergerakan Sociedad lewat tekanan tanpa henti saat kehilangan bola. Mereka berulang kali merebut bola di area pertahanan tinggi lawan dan menunjukkan kualitas olah bola yang mumpuni untuk menciptakan peluang, bahkan saat lini belakang Sociedad telah tertata rapi.


Kendati demikian, wakil Basque tersebut tetap memiliki potensi bahaya. Usai tampil buruk di babak pertama, tidak mengejutkan jika Sociedad bangkit menekan setelah turun minum. Intensitas tinggi yang menguras tenaga di babak pertama tampak mulai membebani para pemain Bournemouth pada paruh kedua, namun semangat juang mereka untuk bertarung tidak pernah luntur.


Bournemouth sejatinya tidak dikenal memiliki ketahanan lini pertahanan yang kokoh. Ketika tekanan Sociedad makin gencar menjelang laga berakhir, ingatan publik bisa saja melayang pada momen-momen saat mereka kehilangan keunggulan dalam empat laga perdana Premier League musim ini. Akan tetapi, dibantu refleks tajam Djordje Petrovic di bawah mistar gawang, Bournemouth mampu bertahan hingga peluit panjang berbunyi demi mengamankan kemenangan bersejarah.


"Pertandingan yang sangat intens dan berat," kata Rose kepada TNT Sports. "Babak pertama yang luar biasa dalam segala hal, terutama cara kami merebut bola dan penguasaan bola di area atas. Di babak kedua, kami harus menderita dan bertahan karena kami tidak setajam sebelumnya."


Mantan bek kiri Bournemouth, Charlie Daniels, turut memberikan pujian saat berbicara di BBC Radio Solent. "Ini adalah momen besar bagi klub, dan mereka patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian ini," tutur Daniels.


Jejak Kebangkitan dan Rekor Bersejarah Adam Smith

Lompatan luar biasa Bournemouth tidak lepas dari momen penunjukan Eddie Howe sebagai manajer pada Januari 2009. Saat itu, mantan pelatih Cherries tersebut berhasil membawa klub lolos dari degradasi dan finis unggul sembilan poin di atas zona merah, meskipun harus mengawali musim dengan minus 17 poin.


Hanya berjarak enam setengah tahun kemudian, Howe—yang kembali bertugas dalam periode keduanya sebagai pelatih—sukses membawa Bournemouth yang telah bertransformasi total menembus kasta tertinggi Premier League.


Sangat tepat rasanya jika pada malam bersejarah di kompetisi Eropa ini, tim dipimpin langsung oleh sosok yang sudah terlibat sejak era pertama kepemimpinan Howe. Adam Smith bergabung dengan Bournemouth sebagai pemain pinjaman pada musim 2010-11, sebelum dipermanenkan pada 2014. Hingga kini, Smith telah mengantongi hampir 400 penampilan liga bersama klub tersebut.


"Adam telah berada di klub ini begitu lama," ujar Daniels. "Dia mendedikasikan dirinya untuk klub, dan ini adalah momen yang sangat membanggakan, tidak hanya baginya, tetapi juga bagi keluarganya, rekan satu tim, dan mantan rekan setimnya untuk melihat bagaimana dia berkembang—tidak hanya sebagai pemain tetapi juga sebagai seorang pria. Memimpin Cherries di malam bersejarah ini sungguh fantastis."


Kapten tim tersebut juga mengukir rekor pribadinya sendiri. Pada usia 35 tahun 141 hari, Smith menjadi pemain outfield (non-kiper) tertua asal Inggris yang melakoni debut di kompetisi utama Eropa sejak pemain Ipswich Town, Reginald Pickett, pada tahun 1962.


Sebagai sosok senior, Smith tentu lebih memahami betapa spesialnya malam tersebut bagi Bournemouth. Perjalanan klub tidak pernah berjalan mulus begitu saja, bahkan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka sempat mengalami degradasi pada 2020 dan, setelah berhasil kembali ke Premier League, mereka rutin menghadapi ancaman kehilangan pemain-pemain bintang yang dibajak klub-klub raksasa Eropa.


Bahkan keberhasilan lolos ke Eropa pun tidak cukup untuk menahan kepergian manajer Andoni Iraola, yang akan kembali ke Vitality Stadium sebagai pelatih anyar Liverpool pada laga lanjutan liga hari Minggu mendatang.


Pola perpisahan dengan sosok penting mungkin belum akan berhenti dalam waktu dekat, namun selama prospek malam-malam indah di Eropa seperti ini terus tersaji, para pendukung Bournemouth tentu tidak akan mengeluh. Mereka telah melewati masa-masa terkelam untuk menyadari bahwa saat inilah masa-masa kejayaan mereka.

Sumber: BBC Sport

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.