Belanja £300 Juta Tapi Jadi Juru Kunci, Roberto De Zerbi Tegaskan Tidak Panik

Manajer Tottenham Hotspur, Roberto De Zerbi, menyatakan dirinya "tidak marah" dan "tidak ada kepanikan" setelah kekalahan kedua beruntun timnya membuat mereka terdampar di dasar klasemen Premier League. Meski demikian, hasil ini menjadi cerita kelam yang terulang dan mengecewakan bagi para pendukung klub.
Kemenangan 2-0 Newcastle United dipastikan lewat gol Anthony Elanga dan Yoane Wissa dalam kurun waktu 10 menit di babak kedua. Hasil tersebut membuat ribuan pendukung Spurs memilih meninggalkan stadion lebih awal sebelum laga usai.
Para penggemar memiliki alasan kuat untuk merasa gusar. Pasalnya, mereka baru menyaksikan tiga kemenangan kandang di liga dari 23 pertandingan terakhir yang digelar di stadion megah mereka.
Setelah finis di peringkat ke-17 pada musim 2024-25 dan posisi ke-17 pada musim 2025-26—di mana mereka baru memastikan lolos dari jerat degradasi pada pekan terakhir—musim ini sejatinya diproyeksikan berjalan berbeda.
Dengan dana lebih dari £300 juta (sekitar Rp6,1 triliun) yang digelontorkan pada bursa transfer musim panas, para pendukung Spurs mengharapkan kebangkitan untuk menembus zona Eropa. Harapan ini terbilang wajar mengingat mereka menjuarai Liga Europa dua musim lalu dan berhasil menembus babak 16 besar Liga Champions pada Maret lalu.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Di kompetisi Premier League musim ini, Spurs mencatatkan rekor dua kali main, dua kali kalah, belum mencetak gol, dan tertahan di posisi ke-20 alias juru kunci.
"Kami memang bisa berkembang dalam fase bertahan, tetapi hari ini adalah hasil yang tidak adil," ujar De Zerbi seusai pertandingan.
"Saya kecewa dengan hasilnya karena hingga gol pertama bersarang di gawang kami, kami bermain lebih baik daripada Newcastle."
"Kami kecewa atas hasil ini dan untuk para penggemar kami. Kami sedang bekerja keras untuk menjadi tim yang hebat. Ketika kami berhasil menyatu sebagai sebuah tim, kami bisa mengubah alur cerita dari dua musim terakhir Tottenham."

Sejak dipercaya menangani Tottenham di semua kompetisi, Roberto De Zerbi mencatatkan rekor empat kemenangan, dua hasil imbang, dan empat kekalahan dari 10 pertandingan yang telah dilakoni.
Setelah menundukkan Everton di laga pamungkas musim lalu untuk mengamankan tempat di kasta tertinggi, Tottenham berbenah masif agar tidak lagi terseret dalam pertarungan papan bawah musim ini.
Sejumlah pemain papan atas diboyong ke London Utara, di antaranya gelandang Mateus Fernandes dari West Ham seharga £85 juta dan Sandro Tonali dari Newcastle senilai £100 juta. Selain itu, bek Jan Paul van Hecke didatangkan dari Brighton dengan biaya £52 juta, serta Winger Manchester City, Savio (sebelumnya dikenal sebagai Savinho), direkrut senilai £75 juta—meski ia harus absen pada laga Sabtu ini akibat "kelelahan otot".
Lini belakang dan penjaga gawang turut diperkuat dengan kedatangan Marcos Senesi, Andy Robertson, dan kiper Martin Dubravka secara gratis. Di lini depan, penyerang Omar Marmoush melakoni debutnya melawan Newcastle setelah dipinjam dari Manchester City, dengan kesepakatan transfer permanen senilai £60 juta pada musim panas mendatang.
Namun, setelah kekalahan 3-0 dari Brentford pekan lalu, kepedihan kembali dirasakan publik Spurs. Newcastle tampil sangat efisien dengan mencetak gol dari seluruh percobaan tepat sasaran (2 shots on target) yang mereka miliki. Sebaliknya, Tottenham gagal mengonversi satu pun dari 17 percobaan tembakan yang mereka lepaskan, di mana enam di antaranya mengarah ke gawang.
"Lupakan hasilnya," tegas De Zerbi. "Saya tidak marah, kami bekerja dengan baik dan hari ini kami hanya tidak beruntung dengan hasil akhir."
"Tidak ada kepanikan. Saya tahu ke mana arah tujuan kami dan apa rencananya. Saya minta maaf kepada para penggemar atas hasil ini. Kami harus berkembang. Kami harus bekerja keras di lapangan dan membangun koneksi antar pemain."
Pandangan berbeda disampaikan mantan kiper Tottenham dan timnas Inggris, Joe Hart. Ia menilai penampilan Spurs cukup mengkhawatirkan.
"Frustrasi yang terjadi di stadion dan di kalangan fans muncul karena mereka melihat tim Spurs ini dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dicapai," kata Hart.
"Ketika Anda melihat skuad Newcastle yang mengalami perubahan besar sepanjang musim panas—bahkan perubahan yang lebih sulit ketimbang Spurs—sangat jelas terlihat dalam dua laga apa yang sedang dibangun oleh [manajer Newcastle] Matthias Jaissle. Para pemain menerima metodenya dan mereka tampil menjanjikan."
"Kekhawatiran utama bagi Tottenham adalah mereka belum bisa menunjukkan hal yang sama. Namun, di sisi lain memang terjadi banyak perubahan dan tidak mudah menyatukan begitu banyak pemain baru di bawah tekanan yang sangat besar."
"Hampir tidak ada yang mampu menemukan resep instan di klub ini, jadi ini bukanlah perbaikan yang mudah. Mereka tidak tiba-tiba merosot tajam begitu saja, melainkan sudah berjuang keras di liga selama beberapa waktu."
"Roberto De Zerbi harus membuat para pemain barunya beradaptasi dengan cepat karena dinamika Premier League berjalan sangat cepat. Saat ini rasanya para pemain Spurs selalu ragu-ragu dalam setiap mengambil keputusan di lapangan."
Mantan kiper timnas Inggris lainnya, Rob Green, menimpali saat berbicara di BBC Radio 5 Live: "Kiper Newcastle, Lukas Hornicek, memang melakukan beberapa penyelamatan penting di babak pertama, namun Tottenham tampak minim imajinasi, kreasi, dan gol."
"Bagi Tottenham, pertanyaan-pertanyaan yang muncul musim lalu masih belum terjawab musim ini. Penampilan seperti ini menunjukkan bahwa mereka membutuhkan peningkatan masif dari jajaran pemain yang baru didatangkan."
"Mereka membutuhkan karakter kuat melebihi apa pun untuk membalikkan situasi ini. Tidak butuh waktu lama bagi penggemar Spurs untuk berbalik menyerang dan hal itu bisa mengikis kepercayaan diri para pemain."
Di sisi lain, kemenangan ini menjadi momen spesial bagi Matthias Jaissle yang berhasil mengamankan kemenangan perdananya di Premier League bersama Newcastle United.
Bursa transfer akan resmi ditutup pada hari Selasa. Pada hari Jumat lalu, De Zerbi sempat menyatakan bahwa dirinya masih berburu "satu pemain lagi di posisi spesifik".
Usai laga melawan Newcastle, pelatih asal Italia itu ditanya mengenai potensi kepindahan Kevin Danso, Pape Matar Sarr, dan Richarlison yang kerap dikaitkan dengan pintu keluar klub.
"Hubungan saya dengan mereka sangat baik. Namun jika mereka ingin pergi, mereka harus membawa solusi—solusi secara ekonomi—kepada klub, dan setelah itu mereka boleh pergi," tegas De Zerbi.
De Zerbi baru ditunjuk sebagai juru taktik pada akhir Maret lalu. Saat itu ia mengumpulkan 11 poin dari tujuh laga untuk menyelamatkan Spurs dari degradasi. Ia kembali menegaskan bahwa membenahi Tottenham tidak bisa dilakukan secara instan.
"Kami harus berkembang. Mengubah tren buruk dari dua musim terakhir mustahil dilakukan hanya dalam 10 hari dan lewat pergerakan di bursa transfer saja," tambah De Zerbi.
"Kami harus bekerja keras di lapangan dan menemukan koneksi antar pemain. Ingat, sebelum akhir musim lalu kita berada di posisi mendekati Championship (divisi dua) dan kita berhasil bertahan bersama-sama."
"Sekarang kita harus tetap tenang dan fokus pada perbaikan. Kami memiliki skuad yang hebat dan pemain-pemain yang luar biasa."

Sumber: BBC Sport
Tidak ada komentar: