recent

Kisah Oliver Glasner: Makan Malam Krusial, Main Tenis di Wimbledon, dan Perjalanan Luar Biasa ke Nottingham Forest

Nottingham Forest's new head coach Oliver Glasner

Di sebuah lingkungan yang sederhana di desa Riedau, Austria, perjalanan sepak bola Oliver Glasner dimulai saat ia baru berusia 15 tahun.


Remaja tersebut sama sekali tidak gentar meski harus berhadapan dengan pemain yang usianya dua kali lipat lebih tua saat mengambil langkah pertamanya di kasta keenam liga domestik bersama tim lokalnya.


Kenangan dari hari-hari di Allianz Pramtal Arena yang sederhana di tepi sungai itu menggambarkan karakter Glasner, saat ia memulai babak baru dalam kariernya sebagai pelatih kepala Nottingham Forest.


"Ketika saya masuk ke tim utama di desa saya, kami bermain dengan tiga bek," kata Glasner. "Saya berperan sebagai libero. Peran itu biasanya diberikan kepada pemain berusia 35 tahun yang sudah tidak bisa lari. Manajer saya menganggapnya luar biasa, karena para pemain senior itu mau mendengarkan saya."


"Saya mencoba memahami permainan dan melatih pemain lain untuk membantu mereka. Saya menikmati melakukan hal itu. Saya pikir itulah alasan mengapa saya masih memimpin sesi latihan sendiri sampai sekarang."

Oliver Glasner: The ‘normal one’ who survived a brain haemorrhage and became a champion

Awal Perjalanan dan Rekor Prestasi

Selama dua tahun terakhir, Glasner berhasil mempersembahkan trofi berharga pertama bagi Crystal Palace berupa Piala FA, Community Shield, dan gelar UEFA Conference League.


Sejak penunjukannya di Forest pada bulan Juli, para pemain barunya menggambarkan sosoknya sebagai pribadi penuntut yang mengharapkan intensitas dan fokus tinggi.


"Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang manajer," ujar Glasner, yang genap berusia 52 tahun bulan ini, saat berbicara kepada media termasuk The Athletic di kamp pelatihan pra-musim Forest di Vilamoura, Portugal.


"Ketika lulus kuliah, saya bergabung dengan SV Ried. Mereka berada di divisi kedua Austria. Saya belajar ilmu olahraga dan geografi — saya ingin menjadi guru. Ketika kami promosi pada tahun 1995, saya memutuskan untuk menerima kontrak profesional. Saya berada di sana selama 18 tahun."


Saat masih aktif sebagai pemain — dengan catatan 516 penampilan bersama SV Ried — Glasner menyelesaikan gelar sarjana di bidang ekonomi. Gelar tersebut membutuhkan waktu tujuh tahun untuk diselesaikan, dan meninggalkan kekosongan dalam hidupnya ketika berhasil dituntaskan.


"Di Austria, kami memiliki jeda musim dingin," katanya. "Saat itu ada kursus kepelatihan untuk para pemain. Istri saya (Bettina) menyuruh saya untuk mengikutinya... Saya pikir dia hanya ingin saya keluar dari rumah."


"Saya adalah seorang gila kerja (workaholic). Saya selalu perlu melakukan sesuatu. Istri saya bilang itu adalah saran terburuk yang pernah dia berikan, karena setelah itu saya jarang berada di rumah. Begitulah karier saya dimulai."


Glasner memulai perjalanan kepelatihannya di Red Bull Salzburg, sebelum kembali ke SV Ried sebagai manajer selama satu musim. Ia kemudian pindah ke klub Austria lainnya, LASK — membawa mereka promosi ke kasta tertinggi hingga lolos ke Liga Europa dan Liga Champions.


Selanjutnya, ia membawa klub Jerman, Wolfsburg, menembus dua kompetisi Eropa yang sama, sebelum bergabung dengan sesama tim Bundesliga, Eintracht Frankfurt. Di sana, ia memenangkan Liga Europa pada tahun 2022 setelah mengalahkan wakil Skotlandia, Rangers, lewat adu penalti di partai final.


Keberhasilan berikutnya bersama Palace memastikan namanya banyak dicari ketika ia memutuskan mencari tantangan baru pada akhir musim lalu.

Makan Malam Krusial dengan Marinakis dan Ambisi Forest

Forest sebenarnya telah menghubungi Glasner lebih dari sekali sebelumnya, di saat ia juga dilirik oleh klub-klub lain di Eropa. Namun, pertemuan langsung dengan sang pemilik, Evangelos Marinakis, di Athena akhirnya meyakinkannya bahwa ini adalah pekerjaan yang tepat.


Glasner mengungkapkan ada dua hal yang disampaikannya kepada Marinakis yang meyakinkannya untuk mengambil alih kursi kepelatihan di City Ground.


"'Yang pertama adalah ada potensi besar di dalam skuad ini'," kenang Glasner. "'Dan yang kedua adalah Anda — ambisi Anda, karena saya adalah orang yang sangat berambisi. Saya selalu ingin berkembang'."


"Kami menikmati makan malam yang fantastis dan membicarakan segalanya. Momen terbaik saya (di sepak bola) adalah ketika kami berhasil melampaui ekspektasi. Saya berada di paruh kedua kehidupan saya, dan saya tidak ingin berada dalam suasana hati negatif. Ketika semua orang bahagia, hidup terasa indah."


"Jika kami mencapai sesuatu, atau bahkan melampaui target, maka ya, saya telah melakukan pekerjaan dengan baik. Dari situlah saya mendapatkan kepuasan — bukan sekadar mengangkat trofi ketika semua orang memang sudah mengharapkannya."


Glasner menyadari bahwa klub-klub dengan pendapatan lebih besar memiliki keuntungan besar dalam perburuan gelar dan kesuksesan, meskipun Forest telah mendatangkan banyak pemain dalam beberapa musim terakhir. Namun, ia menegaskan tidak boleh ada batasan bagi ambisi mereka.


"Arsenal, City, Liverpool, Chelsea… mereka semua bisa belanja begitu banyak," ujatnya, "tetapi tujuan kita tidak boleh hanya bermain di kompetisi Eropa sekali saja. Kita tidak boleh menjadi 'one-hit wonder'."


"Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi tim yang mapan di posisi papan atas? Anda harus memiliki strategi — langkah-langkah yang ditetapkan untuk membantu Anda berkembang dan membaik secara konsisten. Ini adalah musim kelima Forest di Premier League. Ada pasang surut, sekarang kita harus menciptakan lingkungan dan memantau hal-hal yang harus diubah untuk membantu mencapai konsistensi."


Strategi Transfer dan Peran Penting Gibbs-White

Pada bulan Juli, Forest menyepakati nilai rekor klub sebesar £116 juta ($153 juta) untuk menjual gelandang internasional Inggris, Elliot Anderson, ke Manchester City.


"Ada harga di mana Anda harus menjual — berlaku untuk siapa saja," kata Glasner. "Sebagai klub, ketika Anda berambisi, Anda menjual demi alasan finansial atau untuk menjadi lebih baik. Ini adalah kesempatan, dengan uang yang kita dapatkan (dari City), untuk memperkuat tim. Bukan di posisinya: sangat, sangat sulit mencari pemain yang lebih baik darinya. Namun, jika kita membelanjakan uang ini dengan bijak, kita bisa meningkatkan kualitas di beberapa posisi."


Glasner tidak mengharapkan adanya pelepasan pemain kunci lainnya pada bursa transfer musim panas ini.


"Kita semua tahu kita tidak bisa menjual lima pemain, karena itu akan membuat kita semakin lemah — padahal kita ingin menjadi lebih kuat," tegasnya.


"Selalu ada harga (untuk setiap pemain), tetapi jika kita berpikir, 'Jika kita menjual seorang pemain dan menginvestasikan uang tersebut, kita bisa menjadi lebih baik', maka kita akan menerima tawaran itu. Namun, jika kita merasa tidak bisa menggantikan pemain tersebut, kita tidak akan melakukannya, karena kita tidak memiliki masalah keuangan."


"Tanpa gol-gol dari Morgan Gibbs-White (15 gol di Premier League musim lalu), kita mungkin sudah terdegradasi. Dia sudah berada di level teratas, tetapi saya bisa membantunya meningkatkan permainannya — mungkin dalam beberapa detail kecil. Dia memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam tim. Morgan punya segalanya. Dia bisa menyelesaikan peluang, dia bisa memberikan assist. Dia sangat penting."

Sisi Personal: Keluarga, Wimbledon, dan Media Sosial

Untuk saat ini, keluarga Glasner akan tetap tinggal di Austria.


"Anak-anak laki-laki saya (Julian dan Niklas) akan datang ke pertandingan melawan Leeds," katanya merujuk pada laga pembuka musim di kandang sendiri pada Sabtu, 22 Agustus. "Putri saya (Alina) baru saja berusia 16 tahun. Itu adalah bagian tersulit dari menjadi seorang manajer. Kita di sini, sementara anak-anak ulang tahun di sana. Ini bukan kondisi yang ideal. Kami mencoba untuk saling bertemu setiap dua minggu sekali."


"Putri saya menekuni cabang olahraga atletik dan cukup sukses. Dia memenangkan kejuaraan nasional lari 100m dan 200m di kelompok umur U-16, dan sekarang dia berada di U-18. Dia ingin lolos ke Kejuaraan Eropa — tetapi dia melewatkannya hanya dengan selisih 0,03 detik."


Setelah kemenangan pra-musim 2-0 melawan klub tetangga dari League One, Notts County, Glasner dan stafnya pergi menonton kekalahan dramatis Prancis dari Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia yang menghasilkan 10 gol di sebuah sports bar di Nottingham. Para pelatih juga rutin bermain padel bersama. Ketika ditanya bagaimana cara bersantai, Glasner menceritakan kisah yang tak terduga.


"Saya beruntung bisa bermain beberapa kali di Wimbledon — sekali di lapangan rumput," katanya. "Ada seorang pemegang tiket terusan Crystal Palace yang merupakan anggota di Wimbledon, dan dia mengundang saya."


"Saya bermain dengan (mantan petenis nomor 1 Inggris) Kyle Edmund dan juga dengan Dominic Thiem, petenis Austria. Kami makan malam bersama. Namun di Wimbledon, Anda harus memakai jas dan dasi. Thiem pernah menjadi peringkat 3 dunia, tetapi dia datang (ke acara makan malam) memakai sepatu kets. Mereka mengizinkan kami masuk, tetapi dia harus menyembunyikan sepatunya di bawah meja."


Glasner juga berbicara panjang lebar mengenai bahaya media sosial dan bagaimana ia berusaha mendorong para pemainnya untuk menjauhi platform-platform tersebut.


"Hal terbaik adalah tidak membaca apa pun," tuturnya. "Namun saya tetap selalu mendapatkan informasi — ibu saya, dia berusia 78 tahun, membaca semuanya. Dia selalu mengirim pesan singkat dan bertanya, 'Apakah berita ini benar?'."


Dari tumbuh besar di desa berpopulasi sekitar 2.000 jiwa, tim Forest asuhan Glasner akan memulai musim kompetitif mereka di hadapan lebih dari 30.000 penonton di City Ground dalam waktu 12 hari ke depan.

Menjaga Akar dan Tetap Membumi

"Saya harus mencubit diri sendiri untuk mempercayainya. Namun — dan saya harap begitulah cara Anda mengenal saya — saya tidak merasa diri saya lebih baik dari orang lain," ungkapnya. "Saat saya tumbuh dewasa, ibu saya adalah seorang ibu tunggal. Kami tidak benar-benar punya uang, tetapi saya memiliki semua yang saya butuhkan. Saya memiliki keluarga yang hebat, teman-teman yang hebat, dan makanan untuk dimakan."


"Sekarang, ya, saya berada di dunia yang sangat besar ini. Namun saya tidak akan pernah melupakan asal-usul saya. Saya tidak lebih baik dari orang lain. Ketika saya melihat pelayan membawa baki, saya membukakan pintu untuknya."


"Saya ingin menyampaikan pesan kepada seseorang bahwa 'Segalanya mungkin terjadi'. Jika dahulu Anda menceritakan (kisah perjalanan karier) ini kepada saya, saya akan berkata, 'Tolong periksakan diri Anda ke dokter'."


"Sepuluh tahun lalu, saya melatih di divisi dua Austria dan sekarang, (setelah memenangkan) dua trofi Eropa, saya (tetaplah) bocah kecil dari Riedau. Saya masih pergi menonton anak laki-laki saya bermain bola di sana dan sahabat-sahabat terbaik saya masih merupakan teman masa kecil saya. Saya tidak pernah menganggap semua ini terjadi begitu saja."


"Ketika saya berjalan ke City Ground dan mendengar para suporter bernyanyi sebelum pertandingan, saya akan merinding. Saat masih kecil, saya tinggal di dekat perbatasan, jadi kami memiliki tiga saluran TV Jerman dan dua saluran TV Austria. Anda hanya bisa menonton sepak bola internasional. Cuma itu. Dan sekarang, wow, saya menjadi bagian dari ini."


"Ini telah menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa."

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.