Era Baru Unai Emery di Aston Villa: Perombakan Skuad, Lonjakan Nilai Transfer, dan Menatap Piala Super

Unai Emery kini resmi menjadi manajer dengan masa jabatan terlama kedua di Premier League. Foto: May James/AFP via Getty Images
Salah satu ciri utama dari umur panjang seorang manajer di dunia sepak bola adalah menyaksikan bergantian datangnya musim dan berpisahnya wajah-wajah familiar. Hal itulah yang kini sedang dialami oleh Unai Emery di Aston Villa.
Emery kini berstatus sebagai manajer dengan masa bakti terlama kedua di Premier League. Memasuki musim penuh keduanya yang keempat bersama klub, manajer asal Spanyol tersebut baru saja membawa Aston Villa mengarungi musim paling sukses dalam sejarah modern mereka: mengamankan kualifikasi Liga Champions kedua dalam tiga tahun terakhir serta meraih trofi Liga Europa yang sangat gemilang.
Sejak bergabung pada Oktober 2022, Emery merevolusi posisi dan status Villa di panggung domestik maupun Eropa. Keberhasilan ini dibangun di atas fondasi yang kokoh, struktur yang sehat, serta inti skuad yang relatif konsisten. Bahkan pada musim lalu, Emery masih sering menurunkan susunan pemain utama (starting XI) yang dihuni oleh delapan atau sembilan pemain yang sudah ada sebelum kedatangannya.
Selama hampir empat tahun, Villa menjadi simbol keandalan dan konsistensi, berbanding terbalik dengan para rival langsung yang justru terpuruk di bawah tekanan perombakan besar-besaran.
Kebutuhan Evolusi dan Penurunan Rata-Rata Usia Skuad
Kendati meraih kesuksesan besar, skuad Villa musim lalu mencatatkan rekor sebagai tim dengan rata-rata usia tertua sepanjang era Premier League mereka. Dalam sepak bola, faktor usia bukan sekadar alasan terjadinya perubahan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak untuk melakukan penyegaran dan menemukan stimulus baru. Tanpa evolusi, sebuah klub dipastikan akan berjalan di tempat.
Pertandingan pada Rabu malam menandai lahirnya iterasi kedua dari era Emery di Aston Villa. Musim panas ini telah membawa perubahan masif, baik dari komposisi pemain maupun staf kepelatihan. Laga Piala Super Eropa (Super Cup) di Salzburg akan menjadi pertandingan kompetitif pertama mereka musim ini.
Menghadapi mantan klub Emery, Paris Saint-Germain (PSG), kedua tim berada di ujung spektrum yang bertolak belakang dalam hal evolusi skuad. Di saat PSG mampu secara proaktif melakukan revitalisasi skuad kapan pun mereka mau, Aston Villa justru terdorong untuk melakukannya akibat batasan regulasi keuangan (Financial Fair Play/PSR).
Penjualan Kunci dan Regulasi Keuangan
Secara ideal, Villa tentu enggan melepas pemain kunci seperti Morgan Rogers atau Youri Tielemans. Namun, mereka berhasil memecahkan rekor transfer untuk pemain asal Britania Raya saat melepas Rogers. Sementara itu, untuk Tielemans—yang awalnya didatangkan secara gratis—Villa terpaksa memasukkan klausa rilis dalam kontraknya, yang pada akhirnya ditebus oleh Manchester United.

Aspek ini menjadi bagian penting dari evolusi skuad Villa. Selain harus melepas beberapa pemain pilar, mereka juga harus cermat menentukan momen yang tepat untuk menghemat dan melepas pemain lainnya. Sejumlah sumber internal Villa mengungkapkan sejak awal musim panas bahwa prioritas paling krusial dalam aktivitas transfer mereka adalah kemampuan menjual pemain dengan harga baik dan pada waktu yang tepat.

Meski Villa mencapai puncak kejayaan di bawah Emery pada bulan Mei lalu, terdapat argumen kuat untuk segera menjalani fase transisi yang stabil. Langkah ini bertujuan memberikan dorongan energi muda serta menunjukkan sikap proaktif, alih-alih reaktif, dalam menurunkan rata-rata usia skuad.
Perekrutan Johan Manzambi (20 tahun), Joao Gomes (25 tahun), serta potensi kedatangan Matteo Ruggeri (24 tahun) yang diproyeksikan menggantikan Lucas Digne (33 tahun), menjadi bukti nyata dari proses pembaruan tersebut.
Transfer Manzambi yang memecahkan rekor transfer klub dinilai sebagai keberhasilan besar. Gelandang serang muda ini menawarkan dinamisme, kecepatan, dan daya dorong. Di tengah masa transisi ini, Manzambi diharapkan menjadi contoh ideal bagaimana Villa menginvestasikan dana transfer mereka secara tepat dan efektif.
Dinamika Transfer Pemain Lainnya
Villa juga berupaya mengurus kepindahan beberapa pemain lain, termasuk Leon Bailey (29 tahun), yang saat ini masih berada dalam proses negosiasi berlarut-larut antara klubnya dan Hull City yang sudah menyepakati nilai transfer. Di sisi lain, Arsenal dan Villa masih belum menemui titik temu terkait penilaian harga Ezri Konsa yang kini memasuki dua tahun terakhir masa kontraknya. Konsa menjadi contoh lain dari figur pilar lama yang berpotensi hengkang.
Di masa lalu, Villa sempat melewatkan puncak harga pasar dari beberapa pemain bintang mereka, termasuk Emiliano Martinez dan Ollie Watkins. Apabila salah satu atau keduanya pergi pada musim panas ini, Villa tidak akan mendapatkan nilai transfer setinggi yang bisa mereka raih pada 18 bulan hingga dua tahun lalu.

Namun, pihak klub menegaskan bahwa keputusan mempertahankan Martinez dan Watkins musim lalu terbukti sangat krusial dalam fase menentukan perjalanan mereka—menjadi kunci utama kesuksesan finis di peringkat keempat dan menjuarai trofi Eropa.
Oleh karena itu, nilai kedua pemain tersebut tidak bisa diukur semata-mata dari angka transfer, karena kontribusi mereka di dalam skuad jauh lebih besar. Hal inilah yang membuat Villa sejak awal musim panas ini menolak keras tawaran-tawaran kecil dari Juventus untuk Martinez.
Perubahan yang terlalu drastis berisiko meningkatkan ketidakstabilan tim, terutama di area inti yang sudah kehilangan Tielemans dan Rogers. Jika Watkins juga hengkang, hal itu akan membongkar total sistem penyerangan Villa yang selama ini dibangun di sekeliling dirinya dan Rogers.
Budaya Kerja dan Dedikasi Tinggi
Tielemans, Rogers, dan Digne merupakan tiga pemain yang paling dipercaya oleh Emery, baik dari segi performa maupun profesionalisme. Sebagai bentuk rasa hormat kepada manajernya, Tielemans secara pribadi menghubungi Emery terlebih dahulu sebelum memulai negosiasi dengan Manchester United.
Sementara itu, Rogers memberikan komitmen satu musim tambahan setelah berdiskusi dengan Emery pada musim panas lalu. Hubungan keduanya sangat erat, di mana pemain timnas Inggris tersebut dianggap sebagai salah satu anak emas sang manajer.
Adapun Lucas Digne, yang menetap di London selama membela Villa, sering kali rela kembali lebih awal dari jatah libur tugas internasionalnya. Ia menginap di fasilitas latihan klub dan mendedikasikan diri sepenuhnya pada setiap aspek sesi latihan demi meyakinkan Emery bahwa ia layak dipertahankan. Menanamkan prinsip dedikasi yang sama kepada para pemain baru menjadi tugas fundamental dalam era baru ini.
Proses pembentukan skuad Villa saat ini memang belum sepenuhnya rampung, dengan beberapa pemain baru masih diharapkan akan berdatangan. Namun, laga melawan PSG tidak hanya menjadi simbol dari pencapaian masa lalu—kemenangan di Liga Europa yang membawa mereka ke panggung ini—tetapi juga memberikan gambaran awal tentang masa depan Aston Villa di bawah Unai Emery.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: