Bedah Bursa Transfer Liga Utama Inggris: Menakar Efektivitas Klub-Klub Inggris dalam Menjual Pemain

Mendekati penutupan jendela transfer musim panas, sejumlah klub mendapati diri mereka berada dalam situasi di mana penjualan pemain menjadi sebuah keharusan dengan berbagai alasan mendasar.
Sebagian klub perlu melepaskan pemain dengan beban gaji tinggi, mencari momentum yang paling tepat untuk menjual pemain demi meraup keuntungan maksimal, atau sekadar berjuang memenuhi regulasi keuangan yang ketat.
Namun, tantangan utamanya terletak pada ketimpangan kemampuan antarklub; tidak semua tim memiliki kecakapan yang sama dalam urusan menjual pemain. Lantas, seberapa baik rekam jejak klub Anda dalam melepas aset mereka, dan siapakah pemegang rekor penjualan tertinggi di masing-masing klub?
Para jurnalis kami mengulas secara mendalam rekam jejak dan strategi pelepasan pemain dari setiap klub Premier League.
Arsenal
Rekor penjualan: Alex Oxlade-Chamberlain ke Liverpool, Agustus 2017, £35 juta ($47 juta)
Arsenal kerap dinilai belum mampu bersaing dengan para rivalnya di Premier League dalam hal mengomersialkan pemain. Masalah ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan mempertahankan pemain terlalu lama, terdegradasinya nilai pasar pemain akibat terlalu sering duduk di bangku cadangan, periode pinjaman yang tidak sukses, hingga pemberian kontrak bernilai fantastis untuk pemain berkuantitas semenjana.
Kasus Aaron Ramsdale menjadi contoh nyata. Ia merupakan kiper berlabel tim nasional Inggris yang masuk dalam Premier League Team of the Year 2023. Namun, setelah semusim hanya menjadi pelapis David Raya di bangku cadangan, Arsenal akhirnya melepasnya ke Southampton dengan nilai transfer £25 juta ($33 juta).

Kondisi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan Manchester City yang berhasil meraup £40 juta dari Leeds United untuk penjualan James Trafford, seorang penjaga gawang yang berada dalam situasi pelapis serupa dengan Ramsdale.
Pada bursa transfer musim panas ini, Arsenal juga mengalami kesulitan berarti untuk merealisasikan penjualan Reiss Nelson, Gabriel Jesus, dan Fabio Vieira.
Aston Villa
Rekor penjualan: Morgan Rogers ke Chelsea, Juli 2026, £117 juta
Setelah konsisten finis di posisi enam besar dalam tiga musim terakhir, Aston Villa kini bersaing di jajaran klub elit. Namun, karena belum memiliki pendapatan di tingkat elit, manajemen menyadari pentingnya kemampuan menjual pemain dengan harga tinggi.
Langkah ini diambil bukan hanya untuk menghindari sanksi finansial, melainkan juga untuk menyediakan dana rekrutmen ulang. Di antara klub-klub yang bertanding di Premier League selama tiga musim terakhir dan masih bertahan hingga saat ini, Aston Villa mencatatkan angka pengeluaran bersih (net spend) terendah.
Penjualan Morgan Rogers mencatatkan rekor tertinggi untuk pemain berpaspor Britania Raya. Sementara itu, kepergian Youri Tielemans senilai £35 juta dinilai cukup solid meski relatif terjangkau akibat adanya klausul pelepasan. Penjualan besar lainnya mencakup Moussa Diaby (£50 juta), Douglas Luiz (£42,5 juta), Jacob Ramsey (£40 juta), dan Jhon Duran (£65 juta). Dari contoh-contoh tersebut, Villa berhasil mengumpulkan dana sekitar £235 juta dari penjualan pemain yang awalnya mereka beli dengan total biaya hanya £65 juta.

Bournemouth
Rekor penjualan: Dominic Solanke ke Tottenham Hotspur, Agustus 2024, £65 juta
Bournemouth secara umum memiliki reputasi yang baik dalam menjual pemain, terlepas dari beberapa pengecualian. Mereka terbiasa melihat pilar utamanya dibajak klub-klub besar, namun hampir selalu berhasil menemukan pengganti yang sepadan berkat dana dari hasil penjualan tersebut. Pada musim panas 2025, mereka melepas Milos Kerkez ke Liverpool senilai £40 juta. Pada periode yang sama, Illia Zabarnyi dijual ke Paris Saint-Germain sekitar £57 juta dan Dean Huijsen dilepas ke Real Madrid senilai £50 juta sesuai klausul pelepasannya.
Bournemouth kemudian mengantongi £42,5 juta dari penjualan Dango Ouattara ke klub lain—sebuah transaksi yang sangat menguntungkan mengingat sang pemain kesulitan menembus skuad utama. Penyerang sayap lainnya, Antoine Semenyo, menyulut kepindahan ke Manchester City pada Januari dengan biaya £62,5 juta. Seperti kasus Huijsen, Bournemouth seharusnya bisa mengantongi dana lebih besar jika bukan karena batasan klausul pelepasan. Pada musim panas ini, mereka harus merelakan Marcos Senesi pergi secara gratis tanpa menghasilkan dana sepeser pun. Kendati sangat efektif, mereka terkadang kehilangan potensi keuntungan maksimal.
Brentford
Rekor penjualan: Bryan Mbeumo ke Manchester United, Juli 2025, £65 juta (ditambah bonus £6 juta)
Brentford membangun reputasi kokoh sejak masih berlaga di Championship dalam hal mengidentifikasi dan mengasah bakat non-unggulan sebelum menjualnya kembali dengan keuntungan besar. Ollie Watkins, Neal Maupay, dan Said Benrahma adalah contoh nyata, meski klub sempat menahan diri untuk tidak menjual pemain terbaik mereka pada awal-awal promosi ke Premier League.
Kepergian David Raya ke Arsenal pada musim panas 2023 (diawali status pinjaman) menandai kembalinya kebijakan lama tersebut. Setahun berselang, Ivan Toney dilepas ke klub Arab Saudi, Al-Ahli, dengan nilai £33,6 juta—sedikit melampaui rekor penjualan Watkins ke Aston Villa (£28 juta ditambah bonus £5 juta).
Tahun lalu, Brentford mencairkan nilai ekonomi dari dua pilar utamanya. Bryan Mbeumo dijual ke Manchester United dengan paket transfer mencapai £71 juta—dua kali lipat dari nilai Toney. Brentford juga terpaksa melepas Yoane Wissa ke Newcastle United senilai £55 juta setelah sang pemain mendesak untuk pindah. Bursa transfer musim panas ini berjalan jauh lebih tenang, dengan kepindahan Jordan Henderson ke Chelsea sebagai transaksi terbesar. Brentford terbukti menjadi operator yang cerdas di pasar transfer dan terus menunjukkan peningkatan performa di lapangan meski berulang kali kehilangan pemain berbakat.
Brighton & Hove Albion
Rekor penjualan: Moises Caicedo ke Chelsea, Agustus 2023, £115 juta
Brighton menyadari dan menerima realitas bahwa pemain yang tampil menonjol akan hengkang ke klub yang lebih besar. Strategi klub berfokus pada penentuan momentum kepindahan yang tepat untuk mengamankan nilai transfer setinggi mungkin.
Moises Caicedo menjadi manifestasi sempurna dari strategi ini. Arsenal dan Chelsea sempat menawar sang gelandang asal Ekuador pada bursa transfer Januari 2023, namun tawaran saat itu jauh di bawah angka £115 juta yang akhirnya disepakati Chelsea pada bursa musim panas.
Melakukan transaksi besar pada bursa musim panas telah menjadi pola rutin Brighton. Joao Pedro dilepas ke Chelsea senilai £60 juta tahun lalu, sedangkan Jan Paul van Hecke menuju Tottenham dengan biaya £52 juta tahun ini. Menariknya, kehilangan para pemain kunci tersebut tidak menghambat grafik perkembangan klub di kompetisi domestik.
Chelsea
Rekor penjualan: Eden Hazard ke Real Madrid, Juli 2019, £89 juta (ditambah bonus signifikan)
Model bisnis perdagangan pemain bervolume tinggi yang diterapkan Chelsea membuat mereka memiliki banyak aset potensial dalam daftar skuad. Hal paling impresif dari operasi bisnis mereka adalah kemampuan meraup dana besar dari pemain yang bukan merupakan pilihan utama di tim reguler. Sebagai contoh, Tyrique George bergabung dengan Everton musim panas ini setelah menjalani masa peminjaman setengah musim dengan nilai awal £18 juta ditambah potensi bonus £6 juta, padahal ia baru mencatatkan satu starter di Premier League bersama Chelsea.
Aspek penting lainnya adalah kemampuan mencetak keuntungan murni dari produk akademi. Kepindahan Mason Mount ke Manchester United senilai total £60 juta adalah contoh paling populer, diikuti transfer Trevoh Chalobah ke Como senilai £30m baru-baru ini. Keuntungan serupa juga didapat dari penjualan Marc Guehi ke Crystal Palace pada 2021 dan Lewis Hall ke Newcastle pada 2023 (status pinjaman dengan kewajiban beli).

Kendati demikian, terdapat catatan kritis dalam model ini. Sebagaimana dijelaskan analisis The Athletic, penjualan pemain musim panas lalu hanya menyumbang keuntungan bersih sebesar £32 juta pada laporan keuangan musim 2025-26. Tingginya kerugian operasional di Stamford Bridge membuat aktivitas penjualan pemain berharga tinggi tetap menjadi hal vital. Bahkan dengan volume penjualan yang masif, Chelsea tercatat masih melanggar regulasi keuangan UEFA.
Di samping itu, Chelsea tidak selalu berhasil menjual pemain yang tidak masuk dalam rencana tim. Raheem Sterling, misalnya, pada akhirnya harus mencapai kesepakatan pemutusan kontrak lebih awal untuk berstatus bebas transfer.
Coventry City
Rekor penjualan: Viktor Gyokeres ke Sporting CP, Juli 2023, sedikit di atas £20 juta
Menjelang kembalinya mereka ke kasta tertinggi, Coventry telah memecahkan rekor transfer klub sebanyak tiga kali berturut-turut pada jendela transfer ini dengan mendatangkan bek tengah Swiss Aurele Amenda, penjaga gawang Carl Rushworth, serta gelandang Caleb Yirenkyi—yang semuanya memiliki nilai jual kembali yang tinggi. Winger Loum Tchaouna juga menjadi prospek muda potensial yang diangkut dari Burnley.
Sektor pelepasan pemain tergolong sepi, di mana gelandang populer Jamie Allen pergi setelah kontraknya habis, sementara Jahnoah Markelo dijual ke klub Pro League UEA, Shabab Al Ahli, hanya setelah enam bulan berada di klub.
Musim panas lalu, Coventry melepas kapten Ben Sheaf ke Wrexham dengan biaya £6,5 juta—angka yang tergolong besar untuk klub kasta kedua—dan mereka mampu mengatasi kehilangan tersebut hingga sukses menjuarai Championship.
Rombakan besar terakhir dalam skuad Coventry terjadi pada musim panas 2023 saat penyerang Gyokeres hengkang ke Sporting CP dengan rekor klub, serta Gustavo Hamer yang bergabung ke Sheffield United lewat kesepakatan bernilai sekitar £15 juta. Hamer sendiri baru saja memutuskan kembali membela Coventry pekan lalu.
Crystal Palace
Rekor penjualan: Eberechi Eze ke Arsenal, Agustus 2025, £60 juta (ditambah bonus £7,5 juta)
Crystal Palace kini menjelma menjadi penjual pemain yang jauh lebih efektif dibandingkan masa lalu.
Selama enam tahun, Aaron Wan-Bissaka memegang rekor penjualan termahal Palace saat bergabung dengan Manchester United senilai £50 juta pada 2019. Kepindahan tersebut dulunya merupakan pengecualian, sebab Palace kala itu gemar merekrut pemain di penghujung masa keemasannya dan membiarkan kontrak mereka habis, sekaligus berulang kali menolak penawaran untuk Wilfried Zaha.
Kebijakan transfer klub berubah drastis pada 2021 di bawah arahan mantan Direktur Sepak Bola Dougie Freedman. Ia memfokuskan pemantauan pada pemuda berbakat dari Championship, mengembangkannya menjadi pemain kelas dunia, lalu menjualnya demi meraih laba sebelum diinvestasikan kembali.
Dari angkatan tersebut, Michael Olise menjadi pilar pertama yang hengkang lewat klausal pelepasan sekitar £50 juta. Eberechi Eze menyusul ke Arsenal setahun kemudian dengan nilai menembus £60 juta, dan Adam Wharton diprediksi menjadi nama berikutnya yang akan memecahkan rekor transfer klub.

Everton
Rekor penjualan: Romelu Lukaku ke Manchester United, Juli 2017, bernilai awal £75 juta
Sebagaimana dibuktikan dalam kesepakatan penjualan Lukaku pada 2017, Everton memiliki rekam jejak yang baik dalam memetik nilai tinggi dari kepergian pemain bintangnya.
Klub juga terbiasa menghasilkan dana segar dari aktivitas jual-beli pemain selama kepemimpinan Kevin Thelwell sebagai Direktur Sepak Bola, yang membantu klub bertahan di tengah ketidakpastian finansial. Richarlison dilepas ke Tottenham Hotspur sekitar £60 juta, Amadou Onana menuju Aston Villa senilai £50 juta, dan lulusan akademi Anthony Gordon dijual ke Newcastle United dengan harga awal £40 juta.
Tantangan historis Everton adalah mencari jalan untuk mengomersialkan pemain berpenghasilan tinggi sebelum masa bakti mereka kadaluwarsa, serta kegagalan mencari pengganti sepadan untuk pemain kunci yang dilepas.
Meski demikian, kesepakatan pertukaran yang melibatkan Dwight McNeil dan Brennan Johnson dinilai sebagai langkah bisnis cerdas. McNeil saat itu menyisakan satu tahun kontrak di Everton, sementara Johnson baru didatangkan Crystal Palace senilai £35 juta pada Januari lalu.
Fulham
Rekor penjualan: Aleksandar Mitrovic ke Al Hilal, Agustus 2023, £45 juta
Aktivitas penjualan di Craven Cottage musim panas ini tidak berjalan ideal. Harry Wilson dan Raul Jimenez, dua pencetak gol terbanyak klub musim lalu, hengkang dengan status bebas transfer. Sementara Sasa Lukic dan Issa Diop dilepas ke Ipswich Town dengan paket transfer gabungan di bawah £20 juta.
Situasi ini menempatkan kondisi keuangan Fulham dalam posisi rentan. Penjualan Joao Palhinha, Jay Stansfield, dan Aleksandar Mitrovic memang berhasil mengumpulkan dana lebih dari £100 juta sepanjang musim panas 2023 dan 2024, namun sejak saat itu Fulham belum pernah lagi menerima biaya transfer di atas £10 juta.
Perekrutan Gonzalo Garcia, Shea Charles, Cesar Palacios, dan Jonah Kusi-Asare—yang semuanya berusia di bawah 23 tahun—menjadi cetak biru baru. Mereka hadir dengan profil dan latar belakang berbeda, tetapi diikat oleh potensi nilai jual kembali yang tinggi di masa depan.
Hull City
Rekor penjualan: Jacob Greaves ke Ipswich Town, Juli 2024, £18 juta
Penjualan terbesar dalam sejarah Hull City sangat bergantung pada peran akademi klub. Selain melahirkan Jarrod Bowen yang dilepas ke West Ham United dan Keane Lewis-Potter ke Brentford, kepergian Jacob Greaves ke Ipswich dua tahun lalu memberikan suntikan laba murni dalam skala yang belum pernah mereka capai sebelumnya.
Jaden Philogene, yang dibeli dari Aston Villa pada 2023 dan dijual kembali ke klub yang sama setahun kemudian, merupakan contoh langka dari skema pemain yang direkrut, dikembangkan, lalu dijual demi keuntungan besar. Sebelum skema tersebut, publik harus melihat kembali eksodus pasca-degradasi dari Premier League pada 2017, di mana Sam Clucas, Harry Maguire, dan Andy Robertson dijual bersamaan dalam satu musim panas.
Pada bursa musim panas ini, pelepasan Ivor Pandur (ke Rangers) dan Kyle Joseph (ke Middlesbrough) menghasilkan total dana sekitar £10 juta. Manajemen masih berupaya membenahi model bisnis perekrutan pemain berprospek cerah, seperti Charlie Hughes yang sempat menolak tawaran Coventry City musim panas lalu setelah diboyong dari Wigan Athletic.
Ipswich Town
Rekor penjualan: Omari Hutchinson ke Nottingham Forest, Agustus 2025, £37.5 juta
Keberhasilan promosi ke Premier League pada 2024 menaikkan level dan batasan nilai transfer bagi Ipswich Town. Meski investasi pada pemain muda belum cukup untuk mempertahankan keberadaan mereka di kasta tertinggi, strategi ini membuahkan dua rekor penjualan klub.
Liam Delap, yang direkrut senilai £15 juta dari Manchester City, dijual ke Chelsea seharga £30 juta. Kepindahan ini menghasilkan keuntungan besar, meski muncul kekecewaan karena nilainya bisa lebih tinggi jika bukan karena klausul pelepasan yang aktif akibat degradasi klub.
Rekor Delap kemudian dilampaui oleh Omari Hutchinson, yang dipermanenkan dari Chelsea senilai £20 juta pasca-masa peminjaman gemilang, dan langsung menghasilkan laba bersih setelah menjalani musim pertama di kasta utama.
Penjualan Nathan Broadhead ke Wrexham (£7,5 juta) serta Luke Woolfenden ke Coventry City membuktikan kapasitas klub dalam mengomersialkan pemain pelapis. Walau mengalami kerugian pada transaksi kiper Arijanet Muric—yang berpotensi terulang pada Sammie Szmodics dan Chiedozie Ogbene—kondisi finansial klub saat ini jauh lebih sehat dibandingkan era kepemilikan sebelumnya.
Leeds United
Rekor penjualan: Raphinha ke Barcelona, Juli 2022, £55 juta
Salah satu tren yang menonjol di bawah kepemilikan 49ers Enterprises di Elland Road adalah ketidakmampuan mereka mengeksekusi penjualan pemain dengan nilai yang menguntungkan.
Georginio Rutter dan Archie Gray memang sama-sama menghasilkan dana £40 juta pada 2024. Namun, Leeds sebenarnya tidak berniat menjual Rutter, yang hengkang karena klausul pelepasan yang nilainya hampir tidak memberi keuntungan dari nilai investasi awal. Sementara itu, Gray dilepas semata-mata untuk menghindari sanksi regulasi keuangan, padahal ia adalah sosok yang paling tidak ingin dilepas oleh para pendukung.
Masalah utama rezim saat ini berakar pada struktur kontrak dan rekrutmen pengurus terdahulu. Pemain yang ingin dilepas umumnya tidak memiliki kualitas yang cukup atau terikat beban gaji yang terlalu tinggi.
Gambaran kekecewaan suporter terlihat pada bursa transfer musim panas ini. Pascal Struijk dan Jan Paul van Hecke sama-sama memasuki tahun terakhir kontrak mereka di Leeds dan Brighton. Namun, Struijk hanya terjual sekitar £18 juta, sementara Van Hecke menembus angka £52 juta. Meskipun Van Hecke masuk dalam skuad Belanda di Piala Dunia, selisih nilai transfer tersebut dinilai terlalu lebar mengingat Struijk memiliki pengalaman bertanding yang lebih banyak di Premier League.
Liverpool
Rekor penjualan: Philippe Coutinho ke Barcelona, Januari 2018, £108 juta (ada potensi naik menjadi £142 juta)
Strategi penjualan Liverpool tidak akan lengkap tanpa membahas transfer Philippe Coutinho. Istilah "Uang Coutinho" bahkan menjadi legenda tersendiri yang melahirkan berbagai teori konspirasi terkait pengalokasian dananya.
Faktanya, dana penjualan tersebut secara langsung mendanai perekrutan dua pilar kunci di lini belakang: Alisson Becker dan Virgil van Dijk.
Liverpool diakui sebagai salah satu klub paling cerdas dalam urusan menjual pemain. Di bawah model bisnis mandiri, mereka mengidentifikasi dan menggembleng talenta muda untuk kemudian dilepas dengan harga tinggi. Jarell Quansah, Ben Gannon-Doak, Fabio Carvalho, Sepp van den Berg, dan Tyler Morton adalah contoh nyata terkini.
Liverpool juga sangat mahir mengeruk keuntungan maksimal dari pemain yang mendekati akhir masa kontrak, pemain pelapis, atau yang hampir menginjak usia 30 tahun. Penjualan Luis Diaz dan Darwin Nunez musim panas lalu membuktikan kapasitas manajemen dalam mengeksekusi kesepakatan yang selalu menguntungkan klub.

Manchester City
Rekor penjualan: Julian Alvarez ke Atletico Madrid, Agustus 2024, £64,4 juta (ditambah bonus £17,1 juta)
Manchester City telah berkembang menjadi klub yang sangat piawai dalam menjual pemain. Keberhasilan mereka memicu berbagai spekulasi di media sosial terkait nilai transfer tinggi yang mampu mereka dapatkan.
Penerimaan dana senilai £40 juta untuk James Trafford dan £51 juta untuk Tijjani Reijnders yang baru bermain semusim menyita perhatian publik, begitu pula rumor penawaran £85 juta dari Tottenham Hotspur untuk Savinho.
Transaksi Julian Alvarez dua tahun lalu masuk dalam kategori sukses besar tersebut. Dalam lima tahun terakhir, City secara konsisten berhasil mengantongi dana besar dari penjualan pemain muda. Klub-klub pembeli tergiur oleh kualitas pembinaan akademis City, di mana tim-tim muda mereka kerap mendominasi kompetisi dan terbiasa memperagakan filosofi sepak bola Pep Guardiola.
Hal serupa berlaku bagi pemain di skuad utama, di mana siapa pun yang pernah menjadi bagian dari tim senior City akan selalu memiliki daya tarik dan nilai jual yang tinggi di pasar transfer.
Manchester United
Rekor penjualan: Cristiano Ronaldo ke Real Madrid, Juni 2009, £80 juta
Fokus utama Manchester United secara historis jarang tertuju pada penjualan pemain. Namun, seiring dorongan manajemen untuk menyeimbangkan neraca keuangan, peningkatan efektivitas pelepasan pemain kini menjadi prioritas.
Pada bulan Juni, Jadon Sancho akhirnya resmi hengkang tanpa klub mampu mengembalikan investasi £73 juta yang pernah dikeluarkan saat merekrutnya. Sancho adalah kasus ekstrem, namun ia bukan satu-satunya pemain yang kesulitan mendapatkan klub baru secara permanen meski sudah tidak memiliki masa depan di Old Trafford.
Di samping itu, beberapa penjualan yang terealisasi kerap mencatatkan kerugian finansial. Pada 2025, Rasmus Hojlund dipinjamkan ke Napoli sebelum akhirnya dipermanenkan seharga €44 juta (£38 juta), sementara Antony dilepas ke Real Betis dengan paket transfer senilai €25 juta.
Meski demikian, terdapat beberapa catatan positif. Penjualan Alejandro Garnacho senilai £40 juta—yang tidak masuk dalam skema Ruben Amorim—menjadi transaksi signifikan pada 2025. Kiper Radek Vitek juga telah dilepas ke Middlesbrough dengan nilai awal £7 juta yang berpotensi berlipat ganda melalui bonus.

Pandangan yang menjadikan akademi Carrington sebagai mesin pencetak uang murni daripada pencetak bintang tim utama masih sulit diterima oleh sebagian besar pendukung. Michael Carrick bahkan menyuarakan pentingnya menjaga tradisi akademi tersebut. Namun, untuk pemain muda yang tidak lagi memiliki prospek di skuad utama atau memilih hengkang seperti Vitek, klub dituntut untuk mampu memetik nilai ekonomis yang maksimal.
Newcastle United
Rekor penjualan: Alexander Isak ke Liverpool, September 2025, £125 juta
Secara historis, termasuk pada fase awal pasca-akuisisi, rekam jejak penjualan Newcastle tidak terlalu mengesankan. Kondisi tersebut pernah memaksa mereka berada dalam posisi kritis pada Juni 2024, di mana mereka terpaksa menuruti tuntutan Nottingham Forest untuk menjual pemain akademi Elliot Anderson senilai £35 juta (tanpa klausul bagi hasil penjualan) serta membeli kiper Odysseas Vlachodimos seharga £20 juta sebagai bagian dari kesepakatan.
Tanpa penjualan Anderson dan Yankuba Minteh ke Brighton, Newcastle terancam melanggar regulasi Profit and Sustainability Rules (PSR) Premier League setelah melakukan investasi besar pasca-akuisisi oleh Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi pada Oktober 2021.
Di bawah arahan CEO David Hopkinson dan Direktur Olahraga Ross Wilson, skema perdagangan pemain Newcastle kini dirancang ulang. Menghadapi ancaman sanksi finansial UEFA—meskipun telah menjual Alexander Isak ke Liverpool dengan rekor transfer Inggris sebesar £125 juta tahun lalu—Newcastle menaruh fokus penuh pada efisiensi penjualan dengan harga tinggi.
Tiga transaksi besar berhasil dieksekusi pada jendela transfer ini. Barcelona menyepakati nilai transfer hingga €80 juta untuk Anthony Gordon pada bulan Mei, Tottenham Hotspur menggelontorkan dana hingga £100 juta untuk Sandro Tonali, sedangkan Arsenal mengeluarkannya sebesar £75 juta untuk memboyong Bruno Guimaraes yang akan menginjak usia 29 tahun pada November mendatang.
Newcastle kini mampu mendikte pasar dan mengamankan biaya transfer yang sangat tinggi. Tantangan terbesar mereka saat ini adalah menemukan pengganti yang memiliki kualitas dan pengalaman sepadan di atas lapangan.
Nottingham Forest
Rekor penjualan: Elliot Anderson ke Manchester City, Juli 2026, £116 juta
Rangkaian penjualan pemain yang cermat dalam beberapa tahun terakhir memungkinkan Nottingham Forest untuk terus menginvestasikan dana pada rekrutmen skuad baru. Transaksi senilai £35 juta yang mendaratkan Anderson dari Newcastle dua tahun lalu—dengan menyertakan kiper pelapis Odi Vlachodimos seharga £20 juta sebagai pelengkap—kini dinilai sebagai salah satu kesepakatan transfer terbaik dalam sejarah klub.
Keuntungan klub semakin bertambah lewat penjualan Brennan Johnson (£47,5 juta ke Tottenham pada September 2023), Anthony Elanga (£55 juta ke Newcastle pada Juli 2025), dan Moussa Niakhate (£27 juta ke Lyon pada Juli 2024). Pemilik Forest, Evangelos Marinakis, terbukti menjadi sosok negosiator yang sangat tangguh di meja perundingan.
Sunderland
Rekor penjualan: Jobe Bellingham ke Borussia Dortmund, Juni 2025, £32 juta
Strategi Sunderland dalam beberapa musim terakhir berfokus pada efisiensi. Prinsip keberlanjutan finansial yang diusung pemilik klub, Kyril Louis-Dreyfus, diterapkan dengan melepas pemain kunci untuk mendanai penguatan skuad secara keseluruhan.
Ross Stewart dilepas ke Southampton senilai £8 juta pada 2023, disusul kepindahan Jack Clarke ke Ipswich Town seharga £15 juta setahun kemudian. Kedua transaksi menghasilkan laba signifikan bagi klub Championship, sebelum akhirnya dipecahkan oleh transfer Jobe Bellingham ke Borussia Dortmund senilai £32 juta pasca-promosi. Nilai tersebut melampaui rekor kepindahan Jordan Pickford ke Everton sebesar £30 juta pada 2017.
Promosi Sunderland ke Premier League dan partisipasi di kompetisi Eropa mulai mengubah pendekatan klub untuk mempertahankan aset-aset terbaiknya. Meski demikian, pelepasan pemain pelapis tetap berjalan; Eliezer Mayenda dijual ke Rennes seharga £21,5 juta, sedangkan kiper Anthony Patterson bergabung dengan Wrexham senilai £8 juta. Dana hasil penjualan ini dialokasikan untuk memperdalam kedalaman skuad arahan Regis Le Bris.
Tottenham Hotspur
Rekor penjualan: Harry Kane ke Bayern Munchen, Agustus 2023, £86,4 juta
Rekam jejak Tottenham di masa lalu tergolong moderat. Mantan Chairman Eksekutif Daniel Levy merupakan sosok tangguh dalam memaksimalkan nilai jual bintang-bintang utama seperti Harry Kane, Gareth Bale, Luka Modric, dan Kyle Walker. Namun, ia juga sering dinilai lambat melepaskan pemain yang mengalami penurunan performa, seperti Dele Alli, Danny Rose, dan Lucas Moura.
Pendekatan Spurs di bursa transfer berubah drastis sejak kepergian Levy pada September lalu. Di bawah kepemimpinan baru, Spurs berani mengucurkan dana besar untuk transfer dan gaji pemain, sekaligus tak ragu melepas nama-nama yang tidak masuk dalam rencana jangka panjang pelatih Roberto De Zerbi.

Keputusan melepas Djed Spence ke Inter Milan senilai €30 juta dan Cristian Romero ke Atletico Madrid seharga €40 juta sempat mengejutkan publik. Namun, Spence memang bukan pilihan utama meski nilainya melonjak setelah membela timnas Inggris di Piala Dunia. Sementara untuk Romero, faktor usia (28 tahun), rekor pelanggaran disiplin, dan riwayat cedera membuat klub sulit menuntut nilai transfer yang lebih tinggi.
Kepindahan bek muda Luka Vuskovic ke Brighton & Hove Albion sempat memicu kekecewaan di kalangan pendukung. Namun, dana £46 juta dianggap sebagai penawaran yang sangat menguntungkan untuk pemain berusia 19 tahun yang belum berpengalaman di Premier League, terlebih Spurs sukses menyisipkan klausul bagi hasil penjualan sebesar 20 persen. Jajaran manajemen yang diisi CEO Vinai Venkatesham, Direktur Olahraga Johan Lange, serta Direktur Operasi Sepak Bola Rafi Moersen layak mendapat apresiasi setelah sukses mengumpulkan lebih dari £100 juta dari penjualan pemain pelapis musim panas ini.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: