Mengapa John Stones Masih Layak Diperhitungkan oleh Arsenal dan Chelsea

Ketika ada pemain yang pernah menjuarai Premier League dan Liga Champions tersedia secara gratis di bursa transfer, wajar jika klub-klub besar Eropa mulai melirik.
Itulah situasi yang kini menyelimuti John Stones. Setelah menghabiskan satu dekade bersama Manchester City dan mengoleksi 20 trofi mayor, bek asal Inggris itu resmi berstatus bebas transfer. Kepergiannya menutup salah satu era paling sukses dalam sejarah klub.
Dengan segudang pengalaman, mentalitas juara, dan kualitas kepemimpinan yang dimilikinya, Stones tetap menjadi aset yang menarik. Memang, riwayat cederanya membuat banyak klub berpikir dua kali. Namun bagi sebagian tim, risiko tersebut sepadan dengan kualitas yang masih ia miliki.
Menurut laporan The Athletic, Arsenal termasuk klub yang mempertimbangkan merekrut bek berusia 32 tahun itu. Chelsea juga dikabarkan memasukkan namanya ke dalam daftar calon bek tengah yang mereka pantau.
Mungkin Stones tidak lagi diproyeksikan sebagai starter otomatis di setiap pertandingan. Namun, untuk tim yang mendominasi penguasaan bola, kualitas yang ia tawarkan masih sangat sulit ditemukan.
Buktinya terlihat di Piala Dunia musim panas ini. Stones menjadi salah satu pilar saat Inggris melaju hingga semifinal, membawa ketenangan sekaligus pengalaman di lini belakang tim asuhan Thomas Tuchel.
"Saya menganggap John sebagai pemain kelas dunia," ujar Tuchel ketika mengumumkan skuad Piala Dunia Inggris. "Dia sosok yang luar biasa dan seorang pemenang sejati. Dia memahami budaya kemenangan dan sangat cerdas secara taktis. Dari apa yang saya lihat, dia masih mampu bermain di level tertinggi."
Meski demikian, masalah kebugaran tetap menjadi pertanyaan terbesar.
Sejak awal musim 2024-25, menit bermain Stones di Premier League bahkan belum mencapai angka 1.000. Dampak terbesarnya masih datang pada musim treble Manchester City 2022-23, ketika Pep Guardiola mengubah perannya menjadi bek yang kerap masuk ke lini tengah saat tim menguasai bola.
Namun jika faktor cedera dikesampingkan, sangat sedikit bek tengah di Eropa yang mampu mengendalikan tempo permainan seperti dirinya.
Ahli Mengatur Permainan dari Belakang
Di bawah Guardiola, penguasaan bola adalah segalanya. Dan John Stones merupakan salah satu representasi terbaik dari filosofi tersebut.
Sejak musim 2018-19, tidak ada bek tengah Premier League yang mencatat akurasi umpan lebih tinggi daripada Stones. Dengan syarat minimal bermain 900 menit, tingkat keberhasilan umpannya mencapai lebih dari 94 persen.
Permainannya memang sederhana, tetapi sangat efektif.
Ia jarang memaksakan umpan panjang. Fokus utamanya adalah menjaga sirkulasi bola tetap hidup melalui umpan-umpan pendek yang menjadi fondasi permainan City.
Dari 232 bek tengah Premier League dalam periode tersebut, hanya 10 pemain yang lebih jarang melepaskan umpan panjang dibanding Stones. Menariknya, lima di antaranya juga merupakan rekan setimnya di Manchester City.
Kualitas itu semakin menonjol saat musim treble 2022-23.
Ketika Guardiola mencari solusi taktis di fase akhir musim, Stones kerap meninggalkan posisinya sebagai bek tengah kanan untuk masuk ke lini tengah saat City membangun serangan.
Melawan Bayern Munchen di perempat final Liga Champions misalnya, ia memulai serangan sebagai bek tengah, lalu secara konsisten bergerak ke area tengah untuk membentuk struktur 3-2-5 yang menjadi ciri khas City.
Peran tersebut bukan sekadar soal teknik mengolah bola. Dibutuhkan kecerdasan untuk mengetahui kapan harus maju, kapan kembali ke garis pertahanan, serta bagaimana membaca setiap fase permainan.
Kemampuan itu masih terlihat jelas di Piala Dunia.
Dalam laga perempat final melawan Norwegia, Stones sempat bertukar posisi dengan Ezri Konsa. Ia melebar ke sisi kanan, menerima bola, kemudian bergerak ke dalam sambil menarik penjagaan lawan dan membuka ruang bagi Bukayo Saka.
Pergerakannya mungkin tampak sederhana. Namun, hanya sedikit bek tengah yang memiliki pemahaman ruang dan fleksibilitas seperti itu.
Kemampuan bermain di berbagai posisi dan mengisi berbagai peran inilah yang membuat Stones tetap menjadi pemain bernilai tinggi bagi klub mana pun.
Bertahan dengan Otak, Bukan Sekadar Fisik
Yang menarik, kemampuan menguasai bola justru menjadi identitas utama Stones. Bertahan hanyalah pelengkap dari paket lengkap yang ia miliki.
Secara gaya bermain, Stones bukan tipe bek yang agresif mengejar lawan. Statistik menunjukkan ia termasuk bek tengah dengan jumlah tekel aktif yang relatif rendah sejak musim 2018-19.
Sebaliknya, ia lebih mengandalkan positioning, pembacaan permainan, dan pengambilan keputusan.
Ia jarang keluar dari posisinya secara gegabah. Pengalaman membuatnya tahu kapan harus menunggu, kapan harus maju, dan kapan harus memotong jalur umpan.
Contoh terbaik terlihat saat menghadapi Erling Haaland di perempat final Piala Dunia.
Ketika Alexander Sørloth menguasai bola, Haaland memiliki ruang untuk berlari ke sisi kiri maupun kanan Stones. Alih-alih panik, Stones tetap tenang. Ia terus menyesuaikan posisi sambil mundur, mengawal pergerakan Haaland, lalu membaca arah umpan dengan sempurna sebelum memotong bola dan menggagalkan peluang berbahaya.
Ketenangan seperti inilah yang membuatnya begitu efektif, terutama bagi tim yang bermain dengan garis pertahanan tinggi.
Masih Kuat di Udara
Kemampuan Stones bukan hanya soal distribusi bola.
Ia juga tetap menjadi ancaman dalam situasi bola mati.
Sejak musim 2018-19, tidak ada pemain Manchester City yang mencetak lebih dari 10 gol dari situasi bola mati. Selain itu, persentase kemenangan duel udaranya mencapai sekitar 68 persen, menempatkannya di jajaran elite bek tengah Premier League.
Keunggulannya bukan semata-mata karena kekuatan fisik, melainkan juga timing yang sangat baik saat melompat.
Hal itu kembali terlihat ketika Inggris menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia.
Saat timnya lebih banyak bertahan, Stones beberapa kali memenangi duel udara penting. Salah satunya ketika Nicolas Tagliafico menyambut umpan Lionel Messi di tiang jauh.
Awalnya posisi Tagliafico lebih menguntungkan. Namun Stones mampu melakukan recovery dengan cepat, kembali ke area enam yard, lalu memenangkan duel kedua untuk menggagalkan peluang emas Argentina.
Pengalaman yang Sulit Dicari
Pada akhirnya, klub yang merekrut John Stones bukan hanya mendapatkan seorang bek tengah berpengalaman.
Mereka juga memperoleh pemain yang memahami cara membangun serangan dari belakang, mampu bermain dalam berbagai peran taktis, serta memiliki mental juara hasil bertahun-tahun bermain di bawah Pep Guardiola.
Memang, riwayat cederanya masih akan menjadi pertimbangan besar.
Namun penampilannya di Piala Dunia menjadi pengingat bahwa ketika berada dalam kondisi fit, John Stones tetap termasuk salah satu bek tengah paling cerdas secara taktis di Eropa. Bagi klub yang membutuhkan pengalaman, ketenangan, dan kemampuan menguasai bola dari lini belakang, ia masih merupakan rekrutan yang sangat layak dipertimbangkan.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: