random

Strategi Cerdas Aston Villa: Mengapa 'Raja Penjualan' Liga Inggris Harus Terus Menjual Pemain Bintangnya

Aston Villa trio Youri Tielemans, Morgan Rogers and Ezri Konsa celebrate in last season's Europa League final

Aston Villa menyadari penuh bahwa untuk tetap kompetitif dan memenuhi tuntutan manajer Unai Emery dalam menggoyang dominasi klub-klub elite, mereka harus mampu menjual pemain dengan harga tinggi.


Terlepas dari seberapa sering mereka memprotes berbagai regulasi keuangan sepak bola—yang mereka anggap dirancang untuk menghambat klub berambisi dan menguntungkan klub tradisional besar—Villa berhasil memetakan jalan menuju papan atas.


Di bawah arahan Emery selama tiga musim penuh kepelatihannya, Villa mencatatkan keberhasilan luar biasa: dua kali lolos ke Liga Champions (hanya sekali gagal secara menyakitkan karena kalah selisih gol), serta sukses menjuarai Liga Europa.


Meskipun para pendukung Villa merasa lelah melihat klub kesayangan mereka terus dihalangi oleh sistem eksklusif Liga Inggris, jalan keluar terbaik dari situasi ini adalah dengan melepas para pemain kunci. Dan Villa mampu melakukan tugas tersebut lebih baik daripada klub mana pun saat ini.


Gelombang Kepindahan Pemain Bintang dan Pengeluaran Bersih Terendah

Dengan bursa transfer musim panas yang masih menyisakan waktu lebih dari satu bulan, dua aset berharga Villa Park sudah dipastikan hengkang. Youri Tielemans bergabung dengan Manchester United setelah klausul rilisnya senilai £35 juta diaktifkan. Sementara itu, penyerang Morgan Rogers pindah ke Chelsea dengan nilai transfer fantastis £117 juta, yang memecahkan rekor transfer untuk pemain asal Britania Raya.


Aset besar berikutnya, bek internasional Inggris Ezri Konsa, juga berpotensi angkat kaki. Namun, saat ini Aston Villa dan Arsenal masih belum menemukan kesepakatan terkait penilaian harga sang pemain.


Lompatan prestasi Villa dibangun di atas fondasi yang kokoh dan konsistensi tim, meskipun mereka rutin melepas pemain inti. Dari seluruh klub Liga Inggris yang bertanding dalam tiga musim penuh era Emery, hanya Wolverhampton Wanderers (yang terdegradasi pada Mei lalu) yang memiliki pengeluaran bersih (net spend) lebih rendah dari Villa.


Dalam periode yang sama, anak asuh Emery mengumpulkan poin terbanyak keempat di liga, hanya berada di belakang Liverpool, Manchester City, dan Arsenal—tiga klub yang semuanya berada di jajaran empat besar dalam hal pengeluaran bersih. Dengan terdegradasi Wolves ke Championship, Villa kini memegang rekor sebagai klub dengan pengeluaran bersih terendah di kasta tertinggi Liga Inggris.


Skema 'Sell to Buy' dan Keuntungan Finansial Fantastis

Strategi "menjual untuk membeli" menjadi metode utama Villa agar dapat bersaing secara berkelanjutan. Menurut sumber internal klub yang berbicara secara anonim, rencana ini telah didiskusikan kembali bersama Emery menjelang pembukaan bursa transfer musim panas.


Kepergian Rogers dan Tielemans memang menjadi kehilangan besar, di mana Rogers menghasilkan keuntungan penjualan terbesar sepanjang sejarah klub. Namun, ini bukanlah pertama kalinya Villa melepas pemain dengan harga tinggi di bawah kepemimpinan manajer asal Spanyol tersebut.


Sebelumnya, Moussa Diaby dilepas ke Al Ittihad dengan paket transfer mencapai £50 juta, Douglas Luiz bergabung ke Juventus senilai £42,5 juta, Jacob Ramsey pindah ke Newcastle United dengan angka serupa, dan Jhon Duran—pemain yang sangat disukai Villa namun terpaksa dilepas akibat perilakunya yang eksentrik—pindah ke Al Nassr dengan kesepakatan mendekati £65 juta.


Dalam kasus Tielemans, Villa sebenarnya menginginkan harga lebih tinggi dari klausul rilis £35 juta. Namun, pihak klub dan sang pemain sepakat bahwa angka tersebut terbilang adil, mengingat Tielemans didatangkan secara gratis tiga tahun lalu dan kini telah berusia 29 tahun.


Dari deretan penjualan pemain tersebut, Villa berhasil mengumpulkan dana sekitar £235 juta. Padahal, modal awal yang dikeluarkan untuk merekrut mereka—ditambah Ramsey yang merupakan produk akademi—hanya sekitar £65 juta secara keseluruhan. Hal ini memberikan keuntungan bersih yang sangat signifikan bagi kas klub.


Peran Penting Akademi dalam Mengatasi Aturan PSR dan UEFA

Meski staf akademi selalu berharap melihat bakat muda menembus tim utama, aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR) justru mendorong penjualan pemain binaan sendiri karena dihitung sebagai keuntungan pembukuan murni (pure profit). Pihak akademi pun merasa puas karena kontribusi mereka sangat krusial dalam menyelamatkan Villa dari ancaman sanksi PSR.


Penjualan Jack Grealish ke Manchester City senilai £100 juta pada 2021 lalu memberikan bantuan finansial yang sangat besar. Sejak saat itu, akademi Villa terus menghasilkan dana segar, dengan total penjualan melampaui £200 juta dalam lima tahun terakhir.


Pada musim panas 2023, Villa terhindar dari sanksi PSR setelah melepas Aaron Ramsey, Cameron Archer, dan Jaden Philogene, sambil menyisipkan klausul buy-back dan kontrol transfer lainnya. Jika digabungkan dengan kakak Aaron, Jacob Ramsey, penjualan empat pemain akademi ini menghasilkan lebih dari £100 juta. Philogene sendiri memberikan keuntungan tambahan 18 bulan kemudian saat dijual ke Ipswich Town, setelah sempat dibeli kembali dari Hull City.


Pola pikir serupa kembali diterapkan musim ini. Villa dilaporkan semakin terbuka untuk menjual pemain yang sebelumnya dipinjamkan serta para talenta muda akademi mereka. Daripada meminjamkan pemain dan tetap membayar sebagian gaji, Villa memilih pendekatan fleksibel dengan menjual mereka lewat kesepakatan yang mencakup klausul kontrol jangka panjang.


Langkah ini diambil demi mematuhi Perjanjian Penyelesaian (Settlement Agreement) UEFA tahun ini, di mana Villa harus menyeimbangkan skuat berdasarkan rasio pengeluaran. UEFA akan mengevaluasi keuangan Villa dalam periode tiga tahun, mulai musim 2024-2025 hingga 2026-2027.


Mengingat kerugian pada dua tahun sebelumnya, Villa kemungkinan besar membutuhkan keuntungan dari pendapatan sepak bola pada musim 2026-2027 untuk memastikan batas kerugian mereka tidak melewati ambang batas UEFA sebesar €60 juta (£51,2 juta).

Aston Villa fined conditional €22.5m for breaching UEFA financial rules

Villa sebenarnya memiliki toleransi batas kerugian gabungan hingga €80 juta, namun mereka akan dikenakan denda proporsional untuk setiap pelanggaran di atas €60 juta. Jika melewati batas €80 juta tanpa kondisi kesehatan finansial yang memadai, Villa tidak memiliki celah toleransi lagi dan berisiko dijatuhi sanksi larangan tampil di kompetisi Eropa selama satu musim.


Hubungan Dagang yang Harmonis dengan Chelsea

Penjualan Morgan Rogers menjadi kunci utama Villa dalam memenuhi regulasi UEFA. Chelsea sebenarnya telah lama memantau sang pemain sebelum ia bergabung dengan Villa dari Middlesbrough pada Januari 2024 dengan biaya awal £8 juta (ditambah potensi bonus £7 juta). Meski Middlesbrough mendapatkan bagian dari klausul penjualan kembali (sell-on clause), Villa tetap mengantongi keuntungan bersih lebih dari £90 juta dari kesepakatan ini.


Di sisi lain, Villa menjalin hubungan bisnis yang sangat erat dengan Chelsea. Kepindahan Alejandro Garnacho ke Villa Park dengan status pinjaman awal selama semusim—yang disertai kewajiban beli bersyarat—merupakan hasil diskusi langsung kedua klub. Unai Emery sendiri sudah lama menjadi pengagum bakat penyerang asal Argentina tersebut.

Aston Villa’s tussle with football’s financial restrictions is exposing the system’s shortcomings

Kedua klub tercatat sering melakukan transaksi pemain secara terbuka. Pada musim panas 2024, Ian Maatsen diboyong Villa dari Chelsea seharga £37,5 juta, sementara pemain akademi Omari Kellyman berlabuh ke London Barat dengan nilai £19 juta. Transaksi tersebut sempat diminta bukti pembenarannya oleh pihak Liga Inggris sebelum akhirnya disetujui.


Selain transaksi besar tersebut, Villa juga bergerak proaktif melepas pemain yang dianggap tidak masuk dalam rencana utama demi menghimpun dana segar. Di antaranya adalah penjualan Lucas Digne ke Paris Saint-Germain (£8 juta), Lewis Dobbin ke Southampton (£9 juta), dan Donyell Malen ke Roma senilai £23 juta. Nilai transfer Malen terbilang murah mengingat penggantinya yang direkrut pada Januari, Tammy Abraham, kini juga siap untuk dilepas.


Langkah konsisten melepas pemain yang tidak dibutuhkan akan memberi ruang bagi Villa untuk merekrut amunisi baru. Musim panas ini diprediksi akan menjadi periode transformasi skuat terbesar bagi Emery sejak ia menjabat pada Oktober 2022.


Menjual pemain bintang bukanlah hal baru bagi Aston Villa. Di masa lalu, mereka tidak hanya mampu menemukan solusi atas kepergian para pemain kunci, tetapi juga berhasil meningkatkan performa tim di atas lapangan. Kunci keberhasilan Villa di musim mendatang akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk kembali menjawab tantangan tersebut.

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.