Premier League Kecam Rencana Gianni Infantino Jual Hak Komersial Piala Dunia ke Investor Swasta

Premier League secara terbuka menyatakan keberatan keras terhadap rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang berniat menjual sebagian hak komersial badan pengatur sepak bola dunia tersebut kepada investor swasta. Infantino mengumumkan gagasan untuk meluncurkan perusahaan baru bernama 'FIFA Forward Enterprise' (FFE), yang akan mengonsolidasikan seluruh penjualan hak komersial FIFA.
Menanggapi rencana tersebut, Premier League merilis pernyataan resmi yang mendukung penuh posisi European Leagues (Asosiasi Liga-Liga Eropa) untuk menentang keras langkah Infantino. Sebagai salah satu pendiri, Premier League menegaskan keselarasan sikap mereka: "Premier League adalah anggota pendiri European Leagues dan mendukung penuh pernyataan ini."
Dalam pernyataan resminya, European Leagues mengecam keras gagasan Infantino dan menilai langkah tersebut sangat berbahaya bagi ekosistem sepak bola global. "Pengumuman FIFA bahwa Presidennya sedang mengejar opsi investasi swasta untuk anak perusahaan baru yang mengonsolidasikan operasi komersial dan acaranya, merupakan perkembangan yang ceroboh dan memecah belah sepak bola dunia. Piala Dunia tidak boleh dijual," tegas pernyataan tersebut.
European Leagues menekankan bahwa Piala Dunia bukanlah aset ekuitas swasta milik pribadi Presiden FIFA. Nilai dari turnamen tersebut diciptakan setiap hari oleh liga, klub, pemain, dan para suporter yang justru tidak diberikan ruang suara maupun hak pilih dalam pengambilan keputusan besar ini. Mereka menyatakan bahwa kesuksesan sepak bola selalu dibangun di atas struktur piramida terbuka serta keseimbangan sensitif antara sepak bola domestik dan internasional. Peluang komersial dinilai harus mendukung fondasi tersebut, bukan malah berisiko merubahnya.
Selain itu, European Leagues mengkritik proses yang tidak transparan dan proposal unilateral ini sebagai bagian dari pola jangka panjang FIFA dalam mengambil keputusan. Pola ini sebelumnya juga telah memicu European Leagues untuk mengajukan pengaduan resmi ke Komisi Eropa, atas dugaan bahwa penetapan kalender pertandingan internasional oleh FIFA merupakan bentuk penyalahgunaan posisi dominan yang melanggar hukum persaingan usaha Eropa.
European Leagues mendesak agar setiap proposal yang berkaitan dengan kalender dan kompetisi dikembangkan melalui proses yang transparan, akuntabel, dan inklusif. Proses tersebut harus melibatkan keterlibatan bermakna serta persetujuan dari seluruh pemangku kepentingan yang terdampak, sebagaimana diamanatkan oleh Mahkamah Keadilan Uni Eropa (CJEU) dalam putusan kasus Super League pada tahun 2023 lalu.
Saat ini, European Leagues mengaku telah menggelar pertemuan yang produktif dengan Komisi Eropa dan percaya bahwa keputusan hukum yang diambil akan tetap berpihak pada kepentingan terbaik penggemar serta komunitas sepak bola. Mereka juga akan terus bekerja sama dengan UEFA untuk melindungi kepentingan jangka panjang olahraga ini, sembari meyakini bahwa Federasi dan Asosiasi Nasional di seluruh dunia akan melakukan hal serupa dalam mengkritisi proposal dari Presiden FIFA tersebut.
Di balik penolakan ini, Infantino dilaporkan telah memberi tahu 211 asosiasi anggota FIFA bahwa mereka wajib menyetujui rencana penjualan Piala Dunia tersebut paling lambat pada 19 September. Persetujuan ini dijadikan syarat jika para anggota ingin menerima kucuran dana yang diperkirakan mencapai £30 juta (sekitar Rp600 miliar) untuk siklus FIFA 2027-2030, yang juga mencakup suntikan dana langsung (windfall) satu kali sebesar £15 juta pada Januari tahun depan.

Opini EPL Sentris
Perdebatan antara FIFA dan European Leagues mengenai rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) menunjukkan satu hal: semua pihak sebenarnya menginginkan tujuan yang sama, yakni memastikan sepak bola terus berkembang secara finansial tanpa mengorbankan nilai-nilai olahraga. Yang diperdebatkan hanyalah bagaimana cara mencapainya.
Di satu sisi, FIFA membutuhkan sumber pendanaan baru. Sepak bola berkembang semakin cepat, biaya penyelenggaraan turnamen terus meningkat, dan ratusan federasi anggota membutuhkan dukungan finansial yang tidak sedikit. Tidak mengherankan jika FIFA mencari cara untuk memonetisasi aset komersialnya demi memperoleh suntikan dana besar.
Di sisi lain, kekhawatiran European Leagues juga patut dipahami. Ketika sebagian bisnis komersial FIFA dijual kepada investor swasta, muncul pertanyaan apakah kepentingan olahraga suatu hari nanti akan berbenturan dengan kepentingan bisnis. Investor tentu menginginkan pertumbuhan pendapatan, sementara liga, klub, dan pemain menginginkan kalender pertandingan yang tetap sehat.
Namun, apakah hanya ada dua pilihan: menerima FFE atau menolaknya mentah-mentah?
Mungkin ada jalan tengah yang belum banyak dibahas, yaitu membawa bisnis komersial FIFA ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO).
Alih-alih menjual sebagian kepemilikan kepada satu atau beberapa investor swasta, FIFA dapat membentuk perusahaan komersial yang mengelola hak siar, sponsor, lisensi, dan aset bisnis lainnya, kemudian melepas sebagian sahamnya ke publik. Dana miliaran dolar yang dibutuhkan FIFA tetap dapat diperoleh, tetapi kepemilikannya akan tersebar kepada jutaan investor di seluruh dunia, bukan terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Model seperti ini menawarkan beberapa potensi keuntungan.
Pertama, risiko dominasi satu investor besar menjadi jauh lebih kecil. Investor ritel yang tersebar tentu tidak memiliki kekuatan untuk menentukan arah kebijakan FIFA. Kedua, perusahaan publik diwajibkan menjalankan standar transparansi yang lebih tinggi, mulai dari laporan keuangan hingga tata kelola perusahaan. Ketiga, FIFA masih dapat mempertahankan mayoritas kepemilikan serta hak suara, sehingga seluruh keputusan olahraga—mulai dari kalender pertandingan, format kompetisi, hingga regulasi—tetap berada di tangan organisasi sepak bola, bukan pemegang saham.
Tentu saja IPO bukan solusi tanpa risiko. Perusahaan publik tetap menghadapi tekanan dari pasar untuk terus meningkatkan kinerja keuangan. Namun tekanan tersebut berbeda dengan situasi ketika satu atau dua investor swasta memiliki kepemilikan besar dan posisi tawar yang kuat dalam menentukan arah perusahaan.
Pada akhirnya, inti persoalannya bukanlah apakah FIFA boleh mencari investor atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan bahwa kepentingan sepak bola tetap berada di atas kepentingan bisnis.
Jika tujuan FIFA adalah memperoleh modal untuk mengembangkan sepak bola dunia, sementara European Leagues menginginkan perlindungan terhadap ekosistem sepak bola domestik, maka model IPO dengan FIFA tetap memegang kendali mayoritas bisa menjadi kompromi yang layak dipertimbangkan.
Mungkin ide ini belum tentu menjadi jawaban yang sempurna. Namun di tengah tarik-menarik kepentingan yang terjadi saat ini, bukan tidak mungkin solusi terbaik justru bukan memilih salah satu kubu, melainkan menemukan model yang mampu memenuhi kepentingan keduanya.
Siapa tahu, suatu hari nanti diskusi mengenai masa depan Piala Dunia benar-benar mengarah ke sana.
Tidak ada komentar: