random

Mengapa Chelsea Menginginkan Jordan Henderson? Daya Tarik Abadi sang Mantan Kapten Liverpool

An image showing a smiling Jordan Henderson, while playing for Brentford in their red and white home kit, raising his right arm in celebration during a Premier League match.

Ada kualitas khusus yang kerap diidentifikasi oleh para pelatih top dalam diri Jordan Henderson. Sosok gelandang yang hampir selalu percaya pada kemampuannya sendiri, sembari tampil dengan dorongan kuat untuk membuktikan kapasitasnya di atas lapangan.


Karakter ini sudah terlihat sejak awal kariernya sebagai pesepak bola, yang mungkin paling baik digambarkan melalui sebuah kisah yang membuka jalannya menuju tim utama Sunderland.


Langkah Awal: Keberanian Menghadapi Roy Keane

Hampir tepat 18 tahun yang lalu, Henderson dan para pemain tim U-21 Sunderland dipanggil kembali ke tempat latihan oleh manajer tim utama saat itu, Roy Keane. Keputusan mendadak tersebut diambil setelah mereka kalah dalam laga pramusim melawan klub non-Liga, Gateshead.


Keane memang tidak menghadiri pertandingan tersebut, tetapi ia sangat marah melihat hasil akhirnya. Neil Bailey, yang kala itu ditunjuk Keane sebagai pelatih tim muda, mengenang bagaimana Keane mengunci pintu ruang ganti dan bertanya kepada setiap pemain apakah mereka merasa cukup baik untuk berkarier di dunia sepak bola profesional.


"Banyak pemain yang memilih menghindar dari konfrontasi tersebut," ujar Bailey kepada The Athletic pada tahun 2020. "Namun, Jordan berdiri dan berkata: 'Ya, saya rasa saya mampu...,' yang membuat Roy sangat terkesan."


Sore harinya, Keane memberi penghargaan atas keberanian Henderson dengan menampilkannya dalam laga debut tim utama melawan Ajax pada pertandingan persahabatan di Stadium of Light. Tiga bulan kemudian, Henderson menjalani debut resminya saat dimasukkan sebagai pemain pengganti di babak kedua oleh Keane. Saat itu, Sunderland sudah tertinggal tiga gol dan berada dalam jalur kekalahan telak 0-5 dari Chelsea.


Bahkan untuk seseorang dengan tekad sebesar Henderson, ia tentu tidak pernah membayangkan pada sore hari di bulan November itu bahwa ia akan kembali ke Stamford Bridge pada usia 36 tahun untuk bergabung dengan klub yang kini ditangani oleh Xabi Alonso.


Kembali ke tahun 2008, Alonso saat itu tengah menjalani musim terakhirnya di Liverpool—klub tempat Henderson kemudian menghabiskan 12 musim dan menjadi kapten tim selama tujuh musim. Ketika Henderson akhirnya meninggalkan Liverpool, Jurgen Klopp berusaha menggantikannya dengan memecahkan rekor transfer untuk Moises Caicedo. Saat gagal, Klopp beralih ke Romeo Lavia, namun kembali ditikung oleh Chelsea. Kini, Henderson justru akan bersaing dengan kedua pemain tersebut untuk memperebutkan posisi di lini tengah yang sama.

Dinamika Karier: Arab Saudi, Ajax, Brentford, hingga Timnas Inggris

Dunia sepak bola memang penuh dengan kejutan. Namun, jelas ada sesuatu di tingkat tertinggi yang masih sangat dikagumi oleh para pelatih dari sosok Henderson, tiga tahun setelah ia menyadari bahwa mantan manajernya di Liverpool, Jurgen Klopp, tidak lagi menganggapnya sepenting dulu pasca-diskusi mengenai penawaran menggiurkan yang mendadak datang kepadanya.


Kenyataan tersebut membuat Henderson meyakinkan dirinya bahwa pindah ke klub Arab Saudi, Al Ettifaq, adalah langkah yang tepat. Keputusan itu dengan cepat ia sesali karena berbagai alasan, salah satunya adalah kerusakan reputasi yang mengikutinya karena pindah ke negara yang mempidanakan aktivitas sesama jenis dan ketidaksesuaian gender—hal yang berbanding terbalik dengan dukungannya terhadap hak-hak LGBTQ+ selama berkostum Liverpool.


Pada akhir tahun 2023, Henderson mulai mengupayakan kepindahannya kembali ke Eropa. Ia merapat ke Ajax dan langsung dipercaya mengemban jabatan kapten. Musim panas lalu, ia kembali ke Inggris dan membantu Brentford meraih posisi kesembilan—finis tertinggi klub tersebut dalam lima kampanye Premier League—meskipun ia tidak selalu menjadi starter utama. Setelah mencatatkan 22 kali starter dan 10 kali tampil sebagai pemain pengganti, ia menjadi pemain Inggris pertama yang terpilih dalam tujuh turnamen internasional mayor pada Piala Dunia 2026, di mana Thomas Tuchel berbicara sangat antusias mengenai kepemimpinan dan standar tinggi yang ditunjukkannya di luar pertandingan.

Jordan Henderson’s year of living differently

Meski jarang bermain, Henderson sempat menjadi bahan ejekan karena mengalami cedera saat merayakan kelulusan Inggris di babak 16 besar atas Meksiko di Stadion Azteca. Namun, rekan-rekan setimnya secara terbuka menyuarakan betapa pentingnya kehadiran Henderson di dalam tim. Morgan Rogers menyatakan: "Kehadirannya kembali dengan cepat di kamp latihan, dan kembali menjadi dirinya yang normal, akan menjadi hal terbaik bagi grup ini."


Persaingan ketat di dalam skuad Chelsea memang menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa banyak menit bermain yang akan didapatkan Henderson. Namun, kehadirannya sangat cocok dengan dorongan klub yang membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kedewasaan. Perjalanan karier Henderson dilandasi oleh kesabaran, ketekunan, dan daya tahan yang tinggi, yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemain muda yang mendominasi skuad Chelsea saat ini.


Mentalitas Pekerja Keras dan Perjuangan Melawan Keraguan

Sebelum bergabung dengan Sunderland, Henderson bermain untuk Fulwell Juniors, salah satu akademi amatir terbaik di Tyne and Wear. Pelatihnya saat itu, Shaun Turnbull, mengakui kepada The Athletic pada tahun 2020 bahwa Henderson bukanlah pemain terbaik di tim secara teknis, namun "hal yang membedakannya adalah kesediaannya untuk berlari ke belakang dan merebut kembali penguasaan bola."


Henderson memiliki antusiasme alami. Di akademi Sunderland, pelatih tim mudanya, Elliott Dickman, menyebutkan bahwa meski Henderson "bagus saat berlari menyerang, ia jauh lebih baik saat berlari membantu pertahanan." Kesediaannya melakukan pekerjaan kotor itulah yang membuatnya bertahan di klub, terutama saat pemain lain tumbuh secara fisik lebih cepat dibanding dirinya.


"Delapan atau sembilan anak ditawari kontrak beasiswa lebih dulu dibanding Jordan karena kami ragu apakah fisiknya sanggup mengejar," kenang Ged McNamee, manajer akademi Sunderland saat itu. "Kami menunggu selama mungkin sebelum akhirnya menawarkan kontrak kepadanya."


Ketidakpastian tersebut justru membentuk mentalitas Henderson. Tahun-tahun setelahnya, ia mengungkapkan betapa besarnya dampak periode tersebut terhadap membentuk daya juangnya.


"Masa-masa itu mengajarkan saya bahwa Anda tidak pernah benar-benar selesai," ujarnya dalam sebuah sesi wawancara pada 2018, saat Liverpool bersiap menghadapi final Liga Champions pertama dari tiga final yang ia jalani sebagai kapten, di mana ia memenangkannya pada tahun 2019. Keberhasilannya menjuarai Premier League setahun setelahnya menjadikan Henderson sebagai satu-satunya kapten Liverpool sejak Graeme Souness yang mampu mengangkat trofi bergengsi Eropa dan domestik dalam dua musim beruntun.


Kendati demikian, masa-masanya di Liverpool dipenuhi perjuangan panjang untuk diterima. Keraguan atas kemampuannya terus membayangi dari berbagai pihak, mulai dari suporter, pemilik klub, manajer, hingga rekan setimnya sendiri.


Meskipun Luis Suarez akhirnya menyadari betapa diandalkannya Henderson, ada satu momen latihan di mana bintang asal Uruguay itu menunjukkan kekesalannya. "Luis melambaikan tangannya ke mana-mana setelah saya tidak mengumpan bola kepadanya dengan cukup cepat," kenang Henderson dalam podcast The Greatest Game bersama Jamie Carragher pada 2019. Bagi Henderson, momen itu menjadi teguran keras yang sangat berarti.


Setelah meninggalkan Sunderland pada 2011, Henderson menjadi sasaran kritik utama di Anfield, terutama pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish. Ketika era kedua Dalglish berakhir, pemilik klub, Fenway Sports Group (FSG), bersedia menjual Henderson. Bahkan Brendan Rodgers, manajer baru saat itu, menyetujui opsi penjualan tersebut. Namun, Henderson memilih bertahan dan berjuang merebut posisinya.

Di saat yang sama, ia sempat dipandang sebelah mata oleh mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, yang menulis dalam autobiografinya bahwa gaya berlari Henderson akan membatasi kariernya. Kendati demikian, ia menjadi komponen kunci di lini tengah Rodgers pada musim 2013-14, ketika Liverpool hampir mengakhiri dahaga gelar liga sejak 1990. Sayangnya, beberapa musim berikutnya diwarnai cedera tumit parah yang membuatnya berada dalam rasa sakit luar biasa.


Setelah Steven Gerrard hengkang, Henderson diangkat menjadi kapten Liverpool. Namun, ia sering absen karena cedera sehingga merasa tidak selalu bisa memimpin tim sepenuhnya, bahkan di awal kedatangan pengganti Rodgers, Jurgen Klopp, yang tidak memberikan jaminan masa depan baginya saat pertama kali menjabat.


Henderson kerap bertindak sebagai perwakilan suara para pemain. Ketika rekan-rekan setimnya mengeluhkan jadwal latihan sore yang disesuaikan dengan waktu kick-off, Henderson memberanikan diri menemui Klopp untuk meminta jadwal dimajukan. Henderson meyakinkan Klopp bahwa "banyak" pemain yang merasakan hal sama. Namun, Klopp justru menegaskan agar setiap pemain yang keberatan datang langsung menemuinya. "Tidak ada satu orang pun yang berani naik menemuinya," kenang Henderson di High Performance Podcast pada 2023.


Periode lima minggu sejak awal Mei 2019 mungkin menjadi gambaran terbaik dari perjalanan Henderson di Liverpool. Periode itu dimulai saat ia, sebagai kapten, hanya duduk di bangku cadangan ketika Liverpool kalah telak dari Barcelona pada leg pertama semifinal Liga Champions. Seminggu kemudian, ia berjuang menahan rasa sakit dan bertahan hingga peluit akhir meski mengalami cedera di awal laga leg kedua di Anfield, membawa Liverpool bangkit secara fantastis lewat kemenangan 4-0. Kemudian pada awal Juni di Madrid, tangisnya pecah saat merayakan gelar juara Liga Champions sembari memeluk ayahnya, Brian, yang sedang berjuang melawan penyakit kanker.


Babak Baru dan Pandangan Para Tokoh Sepak Bola

Momen-momen emosional tersebut tentu membuat para pendukung Liverpool merasa aneh melihat Henderson mengenakan kostum Chelsea. Kenyataan bahwa ia tidak lagi dibutuhkan oleh Liverpool pada tahun 2023 mungkin dapat membantu meredakan ketegangan tersebut, meski perlu dicatat bahwa jajaran direksi Liverpool sebenarnya sudah siap melepasnya pada 2021 sebelum Klopp mengintervensi dengan memberi kontrak baru.


Petualangannya di Arab Saudi yang hanya bertahan 19 penutupan laga jelas memberi dampak negatif pada citranya. Namun, melihat sambutan hangat yang diterimanya saat kembali ke Anfield sebagai pemain lawan pada pekan terakhir musim lalu, setidaknya ketegangan tersebut mulai mencair dibanding tahun 2023. Saat itu, Mohamed Salah sempat menyatakan kepada TNT Sports bahwa Henderson "tidak mendapatkan perpisahan yang layak karena ia pergi secara mendadak."


Dalam wawancara bersama Steven Gerrard awal tahun ini, Salah yang bermain bersama Henderson selama enam musim menegaskan: "Dia adalah salah satu pemain terbaik di klub ini... tanpa kehadirannya di ruang ganti, kami tidak akan pernah mencapai apa yang telah kami capai."


Salah satu alasan mengapa Klopp akhirnya merelakan kepindahan Henderson adalah karena sang manajer memprediksi menit bermain Henderson akan berkurang, dan dalam situasi tersebut, Henderson adalah tipe pemain yang sulit dipuaskan jika hanya duduk di bangku cadangan.

Untuk timnas Inggris, Henderson tampaknya telah menerima peran yang tidak lagi didasari oleh kontribusi penuh di dalam lapangan, terutama karena rasa bangganya yang besar dalam mewakili negara. Namun di tingkat klub, ia belum pernah secara eksplisit menerima peran sebagai penghias bangku cadangan, terlebih di klub yang tidak memiliki ikatan emosional historis dengannya.


Setelah Henderson absen selama satu tahun di kancah internasional, Thomas Tuchel sempat menghubungi sang pemain melalui panggilan video untuk menilai reaksinya secara langsung. Pelatih Henderson di Ajax saat itu, Francesco Farioli, menegaskan kepada Sky Sports bahwa "mentalitas dan profesionalisme" Henderson tidak pernah menurun.


Tuchel melabeli Henderson sebagai seorang "pemenang sejati". Mantan pelatih PSG dan Bayern Munich itu juga menyampaikan kepada ITV, sebagaimana dilaporkan Sky Sports, bahwa Henderson adalah "perekat di setiap tim yang pernah ia bela."


Pertanyaan utamanya kini adalah: seberapa besar kesempatan bermain yang akan didapatkannya di Chelsea, dan apakah jumlah menit bermain tersebut cukup untuk memuaskan naluri kompetitif dalam dirinya?

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.