Pasang Surut Strategi Perekrutan Liverpool: 10 Transfer Krusial yang Mengubah Reputasi Klub di Anfield

Untuk jangka waktu yang lama, Liverpool dianggap sebagai tolok ukur utama dalam urusan bursa transfer. Hal ini tidak lepas dari sinergi luar biasa antara pelatih Jurgen Klopp dan direktur olahraga saat itu, Michael Edwards.
Bersama-sama, mereka berhasil mengubah The Reds dari klub yang sedang terpuruk menjadi kekuatan besar yang menaklukkan Premier League dan Liga Champions. Skuad Liverpool dibentuk sepenuhnya sesuai dengan visi Klopp, di mana setiap fondasi dipasang secara hati-hati hingga menciptakan tim yang diakui Pep Guardiola sebagai pesaing terberatnya.
Liverpool menggabungkan pemantauan pemandu bakat yang cerdas dengan pemahaman mendalam tentang nilai seorang pemain. Mereka jarang membayar terlalu mahal dan justru lebih sering mendatangkan pemain yang membuat publik bertanya-tanya, 'bagaimana bisa pemain sehebat itu dibeli dengan harga murah?'.
Namun, setelah kesuksesan menjuarai Premier League pada tahun 2020, The Reds mulai melakukan sejumlah pembelian dan pelepasan pemain yang mengindikasikan bahwa level perekrutan mereka telah menurun. Edwards sempat mundur, lalu kembali dalam peran yang lebih senior, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi kembali.
Dahulu, Liverpool seolah tidak pernah mengeluarkan dana besar untuk seorang pemain tanpa sang pemain terbukti menjadi kesuksesan besar. Kini, situasi tersebut telah berubah.
Semakin banyak rekrutan yang gagal memenuhi ekspektasi. Dalam masa transisi dari Klopp ke Arne Slot, pelatih asal Belanda tersebut tentu ingin menerapkan prinsip-prinsip pribadinya daripada sekadar bergantung pada fondasi yang ditinggalkan Klopp. Posisi tersebut pada akhirnya kembali berganti, dan kini Andoni Iraola berusaha memaksimalkan potensi skuad Liverpool yang dipenuhi individu berbakat namun terkesan kehilangan arah atau rencana menyeluruh.
Berikut adalah ulasan mengenai langkah perekrutan dan pelepasan pemain selama satu dekade terakhir yang pernah membuat strategi transfer Liverpool disegani lawan, hingga kesepakatan besar yang menunjukkan kerentanan mereka karena belum membuahkan hasil.
1. Andy Robertson
Dari sekian banyak nama besar yang mendarat di Anfield, tidak ada yang memberikan nilai transfer lebih tinggi daripada bek asal Skotlandia ini. Robertson didatangkan dari Hull City hanya dengan nilai £8 juta setelah klubnya terdegradasi ke Championship. Meski demikian, Klopp melihat potensi besar dalam diri Robertson dan memasukkannya ke dalam skuad utama.
Robertson memang tidak langsung tampil gemilang di awal kedatangannya. Namun, dalam waktu 12 bulan, ia menjelma menjadi salah satu bek kiri terbaik dan paling energik di kompetisi kasta teratas. Ia memberikan pengabdian bertahun-tahun bagi klub dan hampir tidak pernah mengalami penurunan performa.

Andy Robertson menghabiskan hampir satu dekade di Anfield (Gambar: Jack Thomas, Getty Images)
2. Mohamed Salah
Merekrut mantan penyerang sayap Chelsea—yang sempat dinilai gagal di Stamford Bridge—dengan biaya £40 juta setelah tampil mengesankan beberapa musim di Serie A adalah langkah yang masuk akal, meski tetap memiliki risiko.
Gaya permainannya yang mengandalkan kecepatan tinggi dan serangan balik sangat cocok dengan sistem permainan Klopp. Gol pada laga debutnya melawan Watford menjadi awal dari musim perdana yang memecahkan berbagai rekor, di mana ia sukses menyabet gelar Golden Boot. Keran golnya terus mengalir, hingga akhirnya ketika meninggalkan Anfield, Salah mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah Liverpool.

Mo Salah meninggalkan Anfield sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa klub (Gambar: Getty Images)
3. Philippe Coutinho
Hanya beberapa bulan setelah Salah bergabung untuk melengkapi lini depan yang sudah diisi Coutinho dan Sadio Mane, pemain asal Brasil ini diizinkan hengkang ke Barcelona. Coutinho secara terbuka menginginkan kepindahan tersebut dan Klopp mengabulkannya dengan menyetujui kesepakatan senilai £142 juta.
Meskipun harus kehilangan pemain berkelas elit, dana segar yang diterima Liverpool memungkinkan mereka berinvestasi kembali pada area tim yang lebih membutuhkan pembenahan. Kepindahan Coutinho ini pada akhirnya menjadi titik balik yang membuka jalan bagi kejayaan Liverpool di Premier League dan Eropa.
4. Virgil van Dijk
Bek asal Belanda ini praktis didatangkan menggunakan dana hasil penjualan Coutinho, dan Liverpool masih menyisakan sisa dana yang cukup besar. Van Dijk telah membuktikan dirinya sebagai salah satu bek tengah terbaik di Premier League, dan hanya dalam beberapa minggu setelah kepindahannya ke Anfield, jelas terlihat bahwa ia berhasil menaikkan level permainan Liverpool secara signifikan.

Kedatangan Virgil van Dijk menjadi salah satu katalis utama kesuksesan klub (Gambar: 2026 James Gill - Danehouse)
Kedatangan Van Dijk juga menjadi contoh terbaik dari sikap sabar dalam berburu pemain. The Reds menginginkan bek baru pada jendela transfer musim panas, namun memilih menanti hingga Januari karena yakin Van Dijk adalah sosok yang tepat.
5. Emre Can
Kepindahan Emre Can menjadi contoh lain keberhasilan Liverpool dalam menilai kapan waktu yang tepat untuk melepas seorang pemain. Gelandang asal Jerman tersebut menginginkan kenaikan gaji signifikan dalam negosiasi kontrak baru. Meskipun tampil baik, memberinya gaji setara dengan pemain seperti Salah dinilai sebagai langkah yang terlalu ekstrem. Liverpool memilih untuk membiarkan kontraknya habis, dan karier Can tidak pernah mencapai puncak performa yang sama di klub-klub yang ia perkuat setelahnya.
6. Naby Keita
Keita merupakan salah satu investasi besar era Klopp yang dinilai tidak berjalan sesuai harapan. Ia memang memberikan kontribusi, namun tidak mencapai tingkat ekspektasi tinggi yang terbangun saat ia tampil gemilang bersama RB Leipzig. Liverpool mengamankan tanda tangannya lebih awal dengan menebus klausul rilis senilai £48 juta pada tahun 2017 sebelum sang pemain resmi bergabung setahun kemudian. Sangat sedikit yang meragukan kualitasnya saat ia tampil mengesankan di Jerman, tetapi Keita tidak pernah benar-benar terlihat kerasan di lini tengah Liverpool dan menjadi salah satu catatan kurang memuaskan dalam rekor perekrutan Klopp.
7. Darwin Nunez
Liverpool mendatangkan penyerang asal Uruguay ini dari klub Portugal, Benfica, pada tahun 2022 dengan kontrak durasi enam tahun dan biaya awal senilai £64 juta. Nilai transfer tersebut berpotensi melonjak hingga £85 juta melalui berbagai bonus, yang berpeluang menjadikannya rekrutan termahal sepanjang sejarah klub. Meskipun memiliki beberapa momen krusial, penampilan Nunez secara keseluruhan jauh dari kata memuaskan.

Darwin Nunez tidak pernah konsisten memenuhi ekspektasi besar yang dibebankan kepadanya (Gambar: Robbie Jay Barratt - AMA/Getty Images)
Ironisnya, meski sempat mencetak gol ke gawang Liverpool di Liga Champions saat masih membela Benfica, penyelesaian akhir dan ketenangannya di depan gawang justru terus menjadi kelemahan utamanya hingga akhirnya ia dilepas ke Arab Saudi.
8. Florian Wirtz
Playmaker ini didatangkan dengan memecahkan rekor transfer Inggris. Namun, mantan bek The Reds, Jamie Carragher, menyuarakan keprihatinannya dengan menyebut bahwa keputusan Liverpool mengeluarkan dana di atas £100 juta untuk satu pemain tidak mencerminkan identitas klub, melainkan lebih menyerupai pendekatan belanja Real Madrid.
Sistem permainan yang diusung Liverpool tidak sepenuhnya mendukung peran murni seorang playmaker, dan setelah 12 bulan berlalu, tim masih berusaha menemukan posisi yang paling tepat untuk Wirtz. Proses adaptasinya yang sulit semakin diperberat oleh penantian panjang untuk mencetak gol pertamanya dengan seragam merah.

Alexander Isak dan Florian Wirtz adalah dua rekrutan termahal dalam sejarah klub, namun ekspektasi terhadap keduanya jauh lebih besar (Gambar: 2025 DeFodi Images)
9. Alexander Isak
Banyak pertanyaan yang masih menyelimuti kesepakatan ini. Liverpool memecahkan rekor transfer Inggris sebanyak dua kali hanya dalam hitungan minggu. Mereka mengejar Isak ketika sang pemain menyatakan keinginannya untuk meninggalkan Newcastle, padahal Liverpool sebelumnya sudah mendatangkan Hugo Ekitike yang mengawali kariernya di Anfield dengan cukup menjanjikan.
Sejauh ini, kepindahan Isak belum membuahkan hasil positif. Masalah cedera terus membatasi menit bermainnya sehingga ia baru mengemas empat gol. Bahkan ketika berada dalam kondisi fit, penampilannya terlihat jauh dari performa impresif yang pernah ia tunjukkan sewaktu membela Newcastle di St James' Park.
10. Ibrahima Konate
Setelah keberhasilan Liverpool di masa lalu dalam menentukan waktu pelepasan pemain, keputusan membiarkan Konate pergi secara gratis berpotensi menjadi langkah yang merugikan di masa depan. Iraola kini telah mengeluhkan tipisnya kedalaman lini belakang tim akibat badai cedera yang menimpa barisan pertahanan, sementara kualitas yang dimiliki Konate terbukti cukup tinggi hingga mampu menarik perhatian klub sekelas Real Madrid.
Sumber: Mirror Football
Tidak ada komentar: