Pasang Surut 5 Tahun Eddie Howe di Newcastle United: Dari Kejayaan Liga Champions hingga Akhir yang Menyakitkan

Perjalanan lima tahun Eddie Howe sebagai manajer Newcastle United kini resmi berakhir. Masa jabatan yang pada awalnya menjanjikan lonjakan prestasi besar tersebut pada akhirnya harus diwarnai penurunan performa secara bertahap sepanjang satu tahun terakhir.
Bahkan sebelum The Magpies dikalahkan secara telak oleh Bristol City pada Rabu malam, situasi internal tim sudah menunjukkan atmosfer yang kurang kondusif. Howe memang berhasil mentransformasi Newcastle dari tim yang berjuang meloloskan diri dari ancaman degradasi hingga mampu melangkah ke babak gugur Liga Champions. Namun, belakangan ini ruang geraknya terasa kian terbatas.
Dalam beberapa tahun terakhir, langkah klub tampak terhambat oleh batasan finansial. Pada bursa transfer musim panas ini, Anthony Gordon dan Sandro Tonali telah resmi dijual, sementara Bruno Guimaraes diyakini berpotensi menyusul hengkang dari St James' Park.
Pemilik Newcastle asal Arab Saudi sebelumnya kerap menyuarakan ambisi untuk menjadikan klub ini sebagai yang terbaik di dunia dalam waktu singkat. Niat tersebut justru berbanding terbalik dengan realitas performa tim saat ini. Padahal, Howe sempat mendapatkan cinta yang sangat besar dari The Toon Army (sebutan suporter Newcastle) setelah membawa klub mencapai level tertinggi yang belum pernah dirasakan lagi sejak era kepemimpinan Sir Bobby Robson pada awal 2000-an.
Sayangnya, keberhasilan tersebut disusul oleh Inkonsistensi permainan. Catatan posisi akhir Newcastle di bawah arahan Howe pada musim-musim penuhnya berurutan di peringkat keempat, ketujuh, kelima, hingga akhirnya merosot tajam ke papan bawah dengan finis di posisi ke-12. Penurunan drastis ini menjadi pil pahit yang sulit diterima, hingga memicu konsekuensi yang jelas dan membuat Howe memutuskan untuk menyudahi masa baktinya.
Puncak kejayaan yang pernah diraih Howe sangatlah fenomenal, tetapi kemerosotan dalam setahun terakhir sama sekali tidak sejalan dengan standar klub yang berambisi menembus jajaran elite dunia. Berikut adalah bedah lima momen kunci yang menandai perjalanan Howe saat mendaki puncak kejayaan hingga akhirnya mengalami penurunan drastis.
1. Pembelian Cerdas pada Bursa Transfer Januari 2022
Newcastle mengarungi awal tahun 2022 dengan berada di zona degradasi. Meski demikian, tidak ada klub di posisi tiga terbawah sepanjang sejarah Premier League yang mendapatkan suntikan dana begitu besar pasca-akuisisi beberapa bulan sebelumnya. Manajemen klub memanfaatkan dana tersebut secara sangat efektif; rekrutan yang mendatangkan pemain bukan hanya untuk menyelamatkan tim dari ancaman turun kasta, melainkan dirancang sebagai fondasi jangka panjang.

Kieran Trippier menjadi pembelian penting pertama di era kepemilikan Saudi. Bek serba bisa itu didatangkan hanya dengan nilai transfer £12 juta, sebuah angka yang dinilai sangat menguntungkan. Pada bursa transfer yang sama, Newcastle mendaratkan Bruno Guimaraes dari Lyon. Walau saat itu belum menjadi incaran utama klub-klub raksasa Eropa, Guimaraes segera menjelma menjadi pilar utama di balik setiap kesuksesan Howe.
2. Penampilan Impresif dan Kelolosan ke Liga Champions
Setahun setelah mengamankan posisi papan tengah dan mendatangkan Alexander Isak, Newcastle mengawali musim 2022/23 dengan performa yang sangat mengesankan. Mereka hanya menelan satu kekalahan dalam 24 pertandingan pertama. Newcastle mampu bersaing ketat dengan tim-tim mapan seperti Manchester City, Arsenal, dan Manchester United. Momen manis tercipta saat mereka mengalahkan Manchester United dan membantai Tottenham Hotspur dengan skor telak 6-1 di St James' Park.
Target lolos ke Liga Champions memang menjadi cita-cita klub, namun tidak diragukan lagi bahwa Howe berhasil mempercepat pencapaian tersebut. Dengan memanfaatkan performa buruk dari pesaing utama seperti Liverpool dan Chelsea pada musim itu, Newcastle berhasil mengunci posisi empat besar klasemen akhir.
3. Mahakarya Taktik dan Gelar Juara Carabao Cup
Tidak ada yang lebih membakar semangat suporter selain sebuah trofi. Walaupun Newcastle beberapa kali finis di empat besar dalam tiga dekade terakhir, mereka belum pernah benar-benar meraih kejayaan berupa piala. Howe mengubah sejarah tersebut lewat strategi luar biasa di Stadion Wembley.

Setelah menyingkirkan Arsenal di laga kandang dan tandang dalam perjalanan menuju final, Newcastle tetap datang sebagai tim yang tidak diunggulkan saat berhadapan dengan Liverpool—yang kala itu mendominasi liga dan diunggulkan untuk meraih trofi pertama di era Arne Slot. Namun, gol dari Dan Burn dan Alexander Isak membawa Newcastle mengklaim kemenangan bersejarah dan merengkuh gelar juara Carabao Cup.
4. Drama Kepindahan Alexander Isak dan Kekacauan Skuad
Hanya beberapa bulan setelah mencetak gol penentu kemenangan di final—salah satu dari total 27 gol yang dikoleksinya musim itu—Alexander Isak memutuskan ingin meninggalkan klub. Penyerang asal Swedia tersebut bahkan bersiap melancarkan aksi mogok bermain demi memaksakan kepindahannya. Ini menjadi momen pertama di era kepemilikan baru di mana pilar utama klub mendesak untuk keluar saat tim sedang membangun momentum positif.

Keinginan Isak menjadi gangguan besar bagi keharmonisan tim. Pihak Newcastle sempat menegaskan bahwa sang pemain tidak dijual, tetapi akhirnya terpaksa melepasnya pada tenggat waktu bursa transfer (deadline day). Sebagai gantinya, Newcastle mendatangkan Nick Woltemade dan Yoane Wissa. Kombinasi kedua pemain ini sepanjang musim lalu hanya mencetak 14 gol, bahkan beberapa kali harus duduk berdampingan di bangku cadangan.
Sebelum mendatangkan kedua pemain tersebut, Newcastle sempat berupaya merekrut Hugo Ekitike dan Benjamin Sesko namun berujung kegagalan. Proses bursa transfer yang kacau balau ini berdampak langsung pada ketidakstabilan performa tim di lapangan pada musim berikutnya.
5. Kehancuran di Derby Tyne-Wear dan Kemerosotan Performa
Dalam kampanye Premier League yang diwarnai dengan catatan 17 kali kekalahan, menderita kekalahan dari rival abadi, Sunderland, di St James' Park menjadi titik terendah bagi Newcastle. Sunderland, yang menjalani musim kembalinya ke kasta tertinggi dengan sangat baik hingga mengamankan tiket kompetisi Eropa, sukses membungkam publik St James' Park setelah sebelumnya juga menang di Stadium of Light.
Sunderland mencetak gol kemenangan pada menit ke-90. Catatan ini menjadi kali keempat dalam kurun waktu dua bulan di mana Newcastle harus kebobolan gol penentu kekalahan setelah laga memasuki menit ke-80. Kekalahan derby tersebut terjadi di tengah tren buruk di mana Newcastle menelan sembilan kekalahan dari 12 pertandingan, hingga akhirnya musim mereka berakhir tanpa arti di peringkat ke-12.
Sumber: Mirror Football
Tidak ada komentar: