'Infantino Out': Gelombang Penolakan Rencana Komersialisasi Piala Dunia dan 6 Calon Pengganti Presiden FIFA

Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kini berada di ujung tanduk. Tekanan meningkat tajam setelah sejumlah badan pengelola sepak bola regional secara resmi menolak rencananya untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta melalui proyek bertajuk FIFA Forward Enterprise (FFE).
Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA), yang menaungi 55 asosiasi anggota, menegaskan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam turnamen FIFA mana pun sampai rencana FFE ditarik kembali. UEFA bahkan mengonfirmasi siap memboikot gelaran Piala Dunia berikutnya jika rencana komersialisasi tersebut tetap dilanjutkan. Menanggapi situasi ini, organisasi suporter Football Supporters Europe menyuarakan protes keras melalui tagar "#InfantinOUT".
Langkah tegas UEFA diikuti oleh Concacaf (badan pengelola sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) yang menyatakan kekhawatiran serupa terkait minimnya konsultasi dan secara resmi menolak proposal tersebut. Penolakan juga datang dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang mendesak perlunya "tinjauan mendalam dan mendesak atas tata kelola" di tubuh FIFA, sehingga kian menambah beban tekanan bagi Infantino.
Di sisi lain, FIFA sejauh ini menolak untuk mundur. Pihak induk organisasi sepak bola dunia tersebut menegaskan bahwa "tidak ada yang menjual sepak bola". FIFA bergeming dan mengklaim bahwa proses konsultasi mereka telah "terganggu oleh laporan media yang tidak akurat"—sebuah narasi pertahanan diri yang dinilai menyerupai taktik politik khas Donald Trump.
Dengan berbaliknya dukungan dari basis massa yang dulunya setia, tepat kurang dari satu tahun menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027, muncul pertanyaan besar: Apakah ini akhir dari era kepemimpinan Gianni Infantino?
Berikut adalah enam sosok yang berpotensi menjadi kandidat kuat untuk menantang Infantino dalam bursa pemilihan Presiden FIFA:
1. Aleksander Ceferin (Presiden UEFA)

Dukungan dari asosiasi anggota UEFA terus mengalir agar badan tertinggi sepak bola Eropa tersebut mengusung calon lawan Infantino, dan Aleksander Ceferin dinilai sebagai sosok yang paling memenuhi kualifikasi.
Sebagai rival lama Infantino, Ceferin baru-baru ini memilih untuk tidak menghadiri laga final Piala Dunia 2026 setelah turnamen tersebut diwarnai berbagai kontroversi. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah pembatalan hukuman kartu merah Folarin Balogun setelah adanya permintaan "peninjauan kembali" dari Donald Trump, di mana UEFA menilai tindakan tersebut telah "melewati batas toleransi".
Pengacara asal Slovenia yang telah menjabat Presiden UEFA sejak 2016 ini dikabarkan sebenarnya masih ingin fokus pada perannya saat ini. Ceferin awalnya sempat menolak untuk maju pada periode ketiga hingga setidaknya tahun 2031, namun kini bersedia dicalonkan kembali jika tidak ada kandidat lain yang siap maju.
Meski demikian, untuk saat ini Ceferin tampaknya tidak terlalu berambisi untuk langsung bertarung memperebutkan kursi Presiden FIFA, yang membuat para anggota UEFA mulai melirik opsi nama lain.
2. Nasser Al-Khelaifi (Presiden PSG)

Berdasarkan informasi yang dihimpun The Independent, Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, kini sedang dipertimbangkan sebagai penantang potensial Infantino.
Al-Khelaifi, yang juga menjabat sebagai Chairman Qatar Sports Investments (QSI), memegang berbagai posisi strategis di dunia sepak bola. Pasca-runtuhnya wacana European Super League, ia naik ke puncak kepemimpinan organisasi klub Eropa (European Football Clubs/EFC), lembaga yang juga menyatakan "kekhawatiran serius" atas rencana penjualan saham FIFA.
Laporan dari talkSPORT menyebutkan bahwa sejumlah federasi anggota UEFA, termasuk Belgia dan Polandia, siap memberikan dukungan kepada Al-Khelaifi. Mereka menganggap Al-Khelaifi memiliki peluang terbesar untuk menggulingkan Infantino pada pemilu tahun depan.
Namun, dibutuhkan upaya besar untuk membujuk Al-Khelaifi agar mau mencalonkan diri, mengingat saat ini ia tidak memiliki ambisi politik untuk menduduki jabatan tersebut.
Juru bicara Al-Khelaifi mengonfirmasi posisi tersebut melalui Politico dengan menyatakan: "Nasser sama sekali tidak memiliki ambisi, niat, atau ketertarikan pada jabatan di FIFA. Ia akan terus memberikan dukungan secara proporsional kepada seluruh institusi sepak bola Eropa dan dunia."
3. Dariusz Mioduski (Pemilik Legia Warsaw)
Selain Al-Khelaifi, anggota UEFA juga tengah menjajaki kemungkinan untuk mengusung pemilik klub Legia Warsaw, Dariusz Mioduski.
Pengacara asal Polandia ini mulai disuarakan oleh para pejabat senior federasi dari Bosnia dan Herzegovina, Norwegia, Swedia, Jerman, hingga Spanyol, sebagaimana dilaporkan oleh talkSPORT.
Meskipun demikian, Mioduski saat ini belum menjadi kandidat favorit di negerinya sendiri, mengingat Federasi Sepak Bola Polandia lebih cenderung mendukung Nasser Al-Khelaifi.
4. Victor Montagliani (Presiden Concacaf)

Di luar zona UEFA, Presiden Concacaf Victor Montagliani turut dirumorkan sebagai calon suksesor Infantino. Ambisi pria asal Kanada ini untuk memimpin FIFA di masa depan bukanlah hal yang rahasia lagi.
Montagliani terpilih kembali secara aklamasi untuk memimpin konfederasinya pada tahun 2023, dengan masa jabatan yang baru akan berakhir pada 2027. Fokus utamanya saat ini sebenarnya adalah mengamankan kembali kursi kepemimpinan Concacaf pada pemilihan tahun depan.
Di bawah arahannya, Concacaf bersatu menolak keras proposal FIFA sejalan dengan langkah UEFA, meskipun mereka tidak sampai mengeluarkan ancaman pemboikotan turnamen.
5. Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa (Presiden AFC)
Penolakan terbuka juga datang dari AFC. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Infantino karena ia kehilangan dukungan dari kawasan Asia yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung suara terloyal bagi pria berpaspor Swiss-Italia tersebut.
Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa—administrator sepak bola asal Bahrain yang juga menjabat Wakil Presiden Senior Dewan FIFA—mengecam minimnya konsultasi FIFA dengan para anggotanya sebagai tindakan yang "sama sekali tidak dapat diterima". Pernyataan tersebut disampaikan melalui surat resmi kepada 47 federasi anggota AFC pada hari Kamis, sehari sebelum konfederasi Asia secara kolektif menolak proposal FIFA.
Pernyataan resmi AFC setelahnya secara eksplisit menyerukan "tinjauan mendalam dan mendesak atas tata kelola FIFA", yang kian memperberat posisi Infantino. Kondisi ini memicu spekulasi: Mungkinkah Sheikh Salman akan tampil sebagai penantang utama? Masa jabatannya sebagai Presiden AFC sendiri akan berakhir pada tahun 2027.
6. Arsene Wenger (Chief of Global Football Development FIFA)
Nama terakhir ini mungkin terbilang sebagai opsi yang mengejutkan, namun tetap menarik untuk dicermati.
Mantan manajer legendaris Arsenal, Arsene Wenger, kini semakin terlibat aktif dalam ranah politik sepak bola melalui perannya sebagai Chief of Global Football Development FIFA.
Wenger bukanlah sosok yang ragu dalam mendorong perubahan radikal. Salah satu terobosan regulasi yang digagasnya, yaitu "daylight offside rule", telah mulai diuji coba secara resmi di Kanada pada awal tahun ini.
Melihat munculnya kekecewaan dari sebagian penggemar atas keterlibatan dekatnya dengan Infantino terkait proposal Piala Dunia ini, timbul pertanyaan: Akankah Wenger mengambil sikap berseberangan melawan sang Presiden FIFA demi menjaga reputasi profesional yang telah ia bangun?
Sumber: The Independent
Tidak ada komentar: