Wawancara Eksklusif Steve Parish: Evaluasi Awal Musim Crystal Palace, Bursa Transfer, dan Peran Krusial Mateta-Sarr

Crystal Palace mengalami perubahan besar sejak akhir musim lalu. Setelah melalui bursa transfer musim panas yang penuh aktivitas, situasi di klub mulai lebih tenang, meski sejumlah persoalan masih menyertai perjalanan mereka pada awal musim 2026-27.
Palace memasuki jeda internasional pertama dengan mengoleksi empat poin dari lima pertandingan Premier League. Mereka juga meraih kemenangan meyakinkan di Carabao Cup dan Liga Europa di bawah manajer baru, Pierre Sage.
Sage menerapkan gaya bermain yang mirip dengan pendahulunya, Oliver Glasner, tetapi dengan pendekatan yang lebih menyerang. Perubahan tersebut membuat Palace lebih rentan di lini belakang. Mereka telah kebobolan 11 gol di Premier League, meski di sisi lain mampu menghasilkan pertandingan yang menghibur dengan produktivitas gol yang tinggi.
Palace menutup rangkaian pertandingan awal dengan penampilan defensif yang lebih baik saat menghadapi Leeds United. Setelah jeda internasional, mereka akan menjalani tujuh pertandingan dalam 21 hari, termasuk kunjungan Nottingham Forest yang ditangani Glasner ke Selhurst Park, pertandingan melawan rival sekota Brighton & Hove Albion, serta laga Liga Europa di markas Lyon.
Untuk membahas berbagai perubahan tersebut, The Athletic melakukan wawancara dengan chairman Crystal Palace, Steve Parish. Bagian pertama wawancara membahas berbagai persoalan di lapangan, mulai dari adaptasi Sage, strategi transfer, hingga situasi dua penyerang mereka, Ismaila Sarr dan Jean-Philippe Mateta.
Adaptasi Pierre Sage di Crystal Palace
Palace menunjuk Pierre Sage setelah kepergian Oliver Glasner. Selama dua setengah musim menangani klub, Glasner membawa Palace meraih Piala FA, Community Shield, dan Conference League.
Sage datang dari klub Ligue 1, Lens, dengan pengalaman sebagai manajer senior yang relatif terbatas dan belum memiliki pengalaman di Premier League. Namun, ia sebelumnya sukses bersama Lyon dan kemudian membawa Lens bersaing ketat dengan Paris Saint-Germain dalam perebutan gelar juara Prancis musim lalu. Lens akhirnya finis sebagai runner-up.
Dalam periode transfer musim panas, Sage kehilangan Maxence Lacroix dan Daniel Munoz yang pindah ke klub Premier League lain. Di saat yang sama, Palace mendatangkan 11 pemain baru, dengan empat di antaranya bergabung pada hari terakhir bursa transfer.
“Setelah cukup banyak perubahan, rasanya sudah baik,” kata Parish. “Kami semua masih sangat waspada, tetapi rasanya cukup bagus. Kami tampil baik melawan Leeds, meraih beberapa kemenangan bagus di kompetisi piala dan sangat menyenangkan mendapatkan kemenangan pertama di Liga Europa.”
Parish menilai skor kemenangan 4-0 atas Lech Poznan di Liga Europa tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Ia juga menyayangkan jeda internasional datang ketika tim mulai menemukan ritmenya.
Menurut Parish, banyak pemain baru Palace masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan membangun atmosfer tim. Ia menyebut situasi saat ini terasa lebih baik, meski masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Salah satu perhatian utama adalah pertahanan Palace. Kepergian Lacroix ke Chelsea dan Munoz ke Nottingham Forest ikut membuat komposisi lini belakang berubah. Dua bek tengah, Axel Disasi dan Honest Ahanor, bahkan baru bergabung dengan status pinjaman setelah musim berjalan.
Parish memahami besarnya tantangan yang dihadapi Sage. Selain datang ke negara baru, sang manajer juga masih mengikuti kursus bahasa Inggris, sementara keluarganya sebagian besar masih berada di Prancis.
Meski demikian, Parish menilai catatan awal Sage cukup positif. Dari tujuh pertandingan yang telah dijalani, Palace mencatat tiga kemenangan, tiga kekalahan, dan satu hasil imbang.
“Ketika mempertimbangkan semua hal yang harus dia hadapi, dia sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik,” ujar Parish. Ia menambahkan bahwa membutuhkan waktu untuk memahami karakter Premier League, sementara seluruh anggota tim juga masih beradaptasi dengan cara kerja satu sama lain.
Parish mengatakan Sage dan stafnya terus mempelajari kemampuan para pemain serta menyesuaikan sistem permainan. Menurutnya, Palace mulai bermain dengan pola yang lebih terkoordinasi, bukan hanya mengandalkan satu atau dua pemain dengan kemampuan individu tinggi di lini depan.
Ia melihat para pemain mulai menikmati pendekatan tersebut. Sistem dasarnya masih sama, tetapi cara penerapannya berbeda sehingga para pemain harus beradaptasi.
Penampilan melawan Leeds, menurut Parish, menunjukkan perkembangan tersebut. Ia menilai Palace mungkin belum mampu menampilkan performa seperti itu pada pertandingan pertama musim karena proses adaptasi masih berlangsung.

Strategi Transfer Palace
Pendekatan Crystal Palace di bursa transfer musim panas mengalami perubahan cukup besar. Lacroix dijual ke Chelsea dengan nilai £52 juta untuk membantu memperkuat skuad dalam menghadapi kompetisi Liga Europa sekaligus membantu klub memenuhi aturan squad cost ratio (SCR) UEFA.
Munoz kemudian bergabung dengan Nottingham Forest dan posisinya digantikan Anan Khalaili dari Union Saint-Gilloise. Brennan Johnson pindah ke Everton, sementara Dwight McNeil datang ke Palace dalam kesepakatan yang pada praktiknya menjadi pertukaran pemain. Sebagian besar skuad utama lainnya tetap dipertahankan.
Para pemain baru tersebut memberikan kedalaman skuad yang dibutuhkan Palace agar tidak kembali mengalami gangguan seperti musim lalu ketika jadwal Conference League mulai memengaruhi kompetisi domestik. Untuk pertama kalinya sejak bermain di Premier League, manajer Palace memiliki cukup banyak pilihan hingga harus meninggalkan beberapa pemain dari skuad pertandingan.
“Kami selalu ingin mendatangkan dan mengembangkan pemain muda,” kata Parish. “Tetapi kami juga membutuhkan skuad yang bagus, dalam, dan solid untuk bersaing di semua kompetisi, sekaligus memastikan para pemain mendapatkan kesempatan bermain.”
Parish menjelaskan bahwa aturan SCR membuat klub harus menjual pemain. Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan pengeluaran besar Palace pada Januari, ketika mereka dua kali memecahkan rekor transfer klub untuk mendatangkan Johnson dan Jorgen Strand Larsen, kebutuhan untuk mendukung manajer, kompetisi Eropa, serta upaya memastikan posisi klub tetap aman di Premier League.
Menurutnya, Palace memang perlu mendapatkan pemasukan dari penjualan pemain, terutama pemain muda dan pemain yang berada di luar pilihan utama, karena hal itu dianggap paling minim dampaknya terhadap kekuatan skuad.
Takehiro Tomiyasu sebelumnya bergabung secara gratis selama pemusatan latihan pramusim di Como. Namun, Palace baru mendapatkan pengganti permanen untuk Lacroix pada fase akhir bursa transfer setelah Chadi Riad mengalami cedera anterior cruciate ligament dalam kekalahan 0-2 dari Everton pada pekan pembuka Premier League.
Palace kemudian mendatangkan Axel Disasi dengan status pinjaman dari Chelsea. Ahanor juga bergabung dari Atalanta dengan status pinjaman hingga akhir musim.
Mereka sebelumnya berusaha merekrut Joel Ordonez dari Club Brugge, tetapi cedera kaki membuat Palace membatalkan kesepakatan tersebut. Kegagalan mendapatkan pengganti permanen Lacroix sempat menimbulkan pertanyaan, tetapi Parish menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan pilihan yang tepat bagi klub.
“Kami tidak akan membeli pemain hanya demi membeli pemain,” ujar Parish. “Jika pemain yang tepat tidak tersedia di pasar, kami seharusnya sudah belajar bahwa kami tidak bisa memaksakan keadaan.”
Parish mengakui Palace sangat menyukai Ordonez dan berusaha mendatangkannya, tetapi cedera sang pemain ternyata lebih serius dari perkiraan. Ia menilai Palace memiliki cukup bek tengah selama seluruh pemain tetap fit.
Menurut Parish, Disasi merupakan pengganti yang solid untuk Lacroix. Ia menggambarkannya sebagai pemain yang bagus dan bek yang mampu membawa bola keluar dari lini belakang dengan percaya diri.
Ia juga mengatakan bahwa Palace memiliki banyak data dan terus memantau pasar untuk mencari pemain yang sesuai. Namun, klub tetap harus menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan terbaik pada saat itu.
Dalam kondisi ideal, Palace ingin membeli bek tengah muda berkualitas yang bisa langsung bermain di setiap pertandingan. Namun, klub juga membutuhkan pengalaman, sementara Palace tidak selalu mampu atau ingin membeli pemain berpengalaman dengan harga tinggi.
Parish mengatakan ada banyak kriteria yang dipertimbangkan sebelum klub membeli seorang pemain. Palace akan mengevaluasi kembali situasi tersebut pada Januari, tetapi ia sangat yakin klub memiliki kedalaman yang cukup di posisi bek tengah.
Lacroix, menurut Parish, sangat dicintai di Palace dan telah memberikan kontribusinya. Namun, sang pemain berada pada tahap karier ketika ingin mencari tantangan baru, dan klub ingin mengakomodasi keinginannya.

Bursa Transfer yang Berlangsung Terlambat
Sage, seperti Glasner sebelumnya, sebenarnya menginginkan pemain baru datang lebih cepat. Namun, Palace baru menyelesaikan sebagian besar aktivitas transfer pada fase akhir bursa karena 12 pemain mereka tampil di Piala Dunia, dengan beberapa di antaranya bertahan cukup lama di turnamen.
Parish mengakui kondisi tersebut bukan situasi yang ideal. Namun, menurutnya, waktu penyelesaian transfer tidak sepenuhnya berada dalam kendali klub karena Palace juga harus memastikan nilai ekonomi dari setiap kesepakatan.
Ia mempertanyakan manfaat turnamen pramusim di Como karena banyak pemain yang seharusnya dipersiapkan untuk musim baru justru belum tersedia. Sebagian pemain kemudian mendapatkan klub baru, tetapi situasi tersebut membuat persiapan menuju pertandingan Premier League pertama menjadi tidak ideal.
Selain banyak pemain yang belum hadir, cuaca yang sangat panas juga membuat proses latihan menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan hadirnya manajer baru dan banyak pemain baru sehingga pramusim Palace menjadi cukup terfragmentasi.
Parish menilai tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan klub untuk mengubah situasi tersebut. Ia menyebut Palace beruntung dan bangga memiliki banyak pemain di Piala Dunia, meski keikutsertaan mereka yang panjang di turnamen tersebut tidak membantu persiapan musim baru.
Menurutnya, Sage, staf pelatih dan seluruh pihak di klub telah bekerja sangat baik untuk membawa Palace sampai pada tahap tersebut.
Parish juga menjelaskan keterbatasan finansial Palace. Klub tidak memiliki kemampuan untuk mengeluarkan ratusan juta pound di awal bursa dengan harapan kemudian bisa menjual pemain, karena strategi tersebut dapat membuat klub terjebak dan terpaksa menerima harga yang buruk.
Baginya, yang lebih penting adalah kondisi klub ketika bursa transfer berakhir. Palace membutuhkan pemasukan dari transfer sekaligus memperkuat skuad melalui pemain pinjaman sehingga memiliki kedalaman yang diperlukan tanpa harus menanggung seluruh biaya tersebut dalam jangka panjang.
“Dalam tiga bulan, tidak ada yang peduli apakah Anda melakukannya lebih awal,” kata Parish.
Pengembangan Pemain Muda Tetap Menjadi Strategi
Palace juga melepas sejumlah pemain muda pada musim panas ini. Danny Imray pindah ke Wrexham dengan nilai sekitar £5 juta, Mofe Jemide bergabung dengan Alverca dengan biaya kecil, David Ozoh menandatangani kontrak dengan Derby County, dan Justin Devenny pindah ke Stoke City.
Sementara itu, Jesurun Rak-Sakyi dan Romain Esse dipinjamkan setelah Palace gagal mencapai kesepakatan transfer permanen untuk keduanya.
Parish menegaskan bahwa strategi jangka panjang klub untuk membeli pemain, mengembangkan mereka, kemudian menjualnya tidak berubah secara mendasar. Akademi juga semakin memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Ia mengatakan Palace berusaha menemukan keseimbangan antara aturan finansial dan persaingan dengan klub-klub yang memiliki kemampuan belanja lebih besar. Menurut Parish, aturan baru membuat klub yang melampaui batas pengeluaran dapat menghadapi konsekuensi finansial dari UEFA.
Palace selama ini menerapkan pendekatan proaktif dalam mengelola skuad. Menurut Parish, pendekatan itu kini semakin penting dengan memastikan komposisi pengalaman yang tepat, jumlah aset yang sesuai, manajer yang tepat, serta pembangunan infrastruktur klub.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada dana tanpa batas untuk dibelanjakan. Palace harus bersaing dengan klub-klub lain yang juga memiliki kemampuan bagus dalam mengelola sumber daya mereka.

Palace dan “Bermuda Triangle”
Brighton & Hove Albion, Brentford dan Bournemouth selama ini mendapat pujian atas pendekatan mereka dalam mengelola klub dengan cara yang dianggap berkelanjutan dan masuk akal, meski harus bersaing dengan klub yang memiliki sumber daya lebih besar. Ketiganya bahkan dijuluki “Bermuda Triangle”.
Di kalangan pendukung Palace, muncul kebingungan karena klub mereka tidak selalu memperoleh apresiasi serupa, meski telah meraih tiga trofi dan mengubah pendekatan perekrutan pemain dalam beberapa tahun terakhir.
Parish mengatakan dirinya tidak memiliki jawaban mengapa Palace seolah kurang mendapat perhatian. Namun, ia melihat ada kesamaan antara Palace dan ketiga klub tersebut, yakni mereka sama-sama harus bersaing dengan sumber daya yang berbeda dari klub-klub besar.
Menurut Parish, Brighton, Bournemouth dan Brentford merupakan klub yang dikelola dengan baik. Ia mengatakan setiap klub memiliki karakter dan pendekatan masing-masing, dan menurutnya pencapaian di lapangan seharusnya menjadi dasar untuk mendapatkan apresiasi.
Palace kini memasuki musim ke-14 secara beruntun di Premier League dan telah memenangkan tiga trofi. Parish mengatakan klub hanya dapat berfokus pada apa yang mereka lakukan sendiri.
Ia juga menilai persaingan semakin sulit karena perkembangan data dan kemampuan klub merekrut pemain dari seluruh dunia. Menurutnya, setelah Brexit, jumlah talenta di Premier League meningkat secara signifikan.
Parish menyoroti keberadaan pemain internasional Jepang, Kolombia dan Chile di skuad Palace sebagai contoh bagaimana perekrutan kini dapat menjangkau pasar global. Dengan populasi dunia yang sangat besar, klub-klub kini dapat mencari pemain dari hampir seluruh penjuru dunia.
Menurut Parish, kondisi tersebut membuat klub-klub besar semakin sulit menciptakan jarak yang sangat jauh dari pesaing mereka. Ia menyebut Manchester City sebagai contoh klub yang memiliki kemampuan belanja sangat besar sehingga sulit disaingi.
Namun, ia juga menunjuk Brighton, Bournemouth, Brentford dan Palace sebagai klub yang menunjukkan cara untuk tetap bersaing dalam kondisi tersebut.
Parish juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap kekuatan klub pada awal musim belum tentu menggambarkan situasi sepanjang musim. Ia menilai kondisi cedera dan kedalaman skuad baru akan benar-benar terlihat ketika kompetisi berjalan lebih jauh.
Situasi Ismaila Sarr dan Jean-Philippe Mateta
Salah satu latar belakang utama bursa transfer Palace adalah ketidakpastian mengenai masa depan Ismaila Sarr dan Jean-Philippe Mateta. Sarr merupakan pemain terbaik Palace musim lalu sekaligus pencetak gol terbanyak mereka.
Mateta berusaha membatalkan tahun terakhir dalam kontraknya agar dapat meninggalkan klub dengan status bebas transfer. Upaya tersebut tidak berhasil.
Sarr juga tidak mendapatkan izin untuk meninggalkan Palace meski mendapat minat dari Galatasaray dan kemudian Liverpool. Liverpool mengajukan pertanyaan mengenai ketersediaannya pada pekan terakhir bursa transfer dan menyampaikan gambaran mengenai jumlah yang mungkin mereka bayarkan.
Namun, nilai tersebut masih jauh di bawah penilaian Palace terhadap Sarr.
Kedua pemain kemudian kesulitan memberikan dampak maksimal pada awal musim dan sama-sama mengalami cedera ringan. Sarr baru kembali setelah mengalami masalah pada pangkal paha, sementara Mateta diperkirakan bisa kembali saat Nottingham Forest bertandang ke Selhurst Park.
Situasi Sarr juga sempat memanas setelah agen sang pemain, Diomansy Kamara, beberapa kali menyampaikan kritik secara terbuka terhadap cara Palace menangani masa depan kliennya. Sarr kemudian menghapus seluruh referensi mengenai Crystal Palace dari akun media sosialnya.
Parish mengatakan situasi tersebut bukan sesuatu yang dibuat oleh Palace. Menurutnya, Liverpool datang dengan tawaran yang dianggap tidak realistis dibandingkan nilai yang diminta Palace dan kemudian tidak mengajukan tawaran baru.
Ia mengatakan Palace tidak dapat menjual pemain dengan harga tinggi kemudian menerima tawaran sekitar setengah dari nilai tersebut untuk pemain yang sama-sama dianggap penting bagi klub.
Parish memahami bahwa Sarr ingin pindah. Namun, menurutnya, jika tawaran yang sesuai datang lebih awal dan bukan hanya lima hari sebelum penutupan bursa, Palace akan berusaha memfasilitasi kepindahan tersebut.
Ia juga mengkritik pernyataan perwakilan Sarr yang menurutnya berisi tuduhan tanpa dasar. Parish berpendapat agen pemain seharusnya membantu mengelola ekspektasi pemain dan memastikan proses transfer berjalan dengan baik.
Menurutnya, pihak perwakilan memiliki tanggung jawab untuk membantu proses tersebut, bukan memperbesar ketegangan melalui pernyataan di media.
Meski demikian, Parish menegaskan bahwa tidak seharusnya ada permusuhan terhadap Sarr maupun Mateta ketika keduanya kembali bermain untuk Palace.
Ia mengatakan dirinya menyukai kedua pemain tersebut dan menghargai kontribusi yang telah mereka berikan. Menurut Parish, merupakan hal yang wajar jika pemain pada suatu titik dalam kariernya ingin mencari pengalaman baru.
Parish juga meminta suporter tidak membiarkan situasi transfer memengaruhi penilaian mereka terhadap kedua pemain. Ia menegaskan bahwa Sarr dan Mateta selalu memberikan komitmen penuh ketika bermain untuk Palace dan tetap memiliki kepedulian terhadap klub.
Menurutnya, persoalan antara pemain dan perwakilan mereka dengan klub merupakan urusan berbeda dari kontribusi pemain di lapangan. Ada kalanya hubungan tersebut memang menimbulkan ketegangan, tetapi hal itu tidak seharusnya menghapus apresiasi terhadap kontribusi para pemain.
Parish meminta suporter menerima situasi tersebut dan tetap menyambut kedua pemain dengan dukungan ketika mereka kembali bermain. Ia mengatakan Palace seharusnya bersyukur jika kedua pemain tetap berada di klub, terlepas dari situasi yang terjadi selama bursa transfer.
Ia menggambarkan Mateta sebagai sosok yang sangat ceria dan selalu membawa energi positif. Sementara untuk Sarr, Parish mengakui situasinya lebih sulit untuk diterima sang pemain dan mungkin ada informasi tertentu yang disampaikan kepadanya yang menurut Parish tidak menggambarkan keseluruhan cerita.
Namun, Parish yakin keduanya tetap profesional, mencintai klub dan rekan-rekan setim, serta senang bekerja bersama manajer. Ia berharap suporter membantu menyelesaikan persoalan tersebut dengan memberikan dukungan kepada keduanya ketika berada di lapangan.
“Kami berharap bisa bekerja untuk menemukan kesimpulan yang baik bagi para pemain tersebut, apa pun bentuknya — kontrak baru atau kepindahan,” ujar Parish.

Dean Henderson Perpanjang Kontrak
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Palace berhasil mengamankan masa depan kapten sekaligus penjaga gawang mereka, Dean Henderson. Sang pemain menandatangani kontrak baru yang membuatnya berkomitmen untuk melanjutkan kariernya bersama klub dalam jangka panjang.
Parish menilai Henderson memiliki peran yang sangat penting bagi klub. Ia menyebut sang kiper sebagai sosok yang baik dan bagian penting dari keyakinan yang dibangun Palace bersama para suporter dan tim.
“Kami sangat senang bisa menyelesaikannya,” kata Parish. Ia juga mengungkapkan bahwa Palace masih mengerjakan satu atau dua kontrak pemain lainnya.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: