Berburu 'Talenta Tersembunyi': Bagaimana Data, AI, dan Pasar Baru Mengubah Dunia Scouting Sepak Bola Modern

Dario Osorio, pemain berusia 22 tahun yang telah mengantongi 25 penampilannya bersama tim nasional Chile, baru mencatatkan dua penampilan untuk Crystal Palace sejak bergabung dengan status pinjaman pada musim panas ini.
Klub-klub terbesar di dunia sebenarnya telah menyadari potensi sensasi remaja ini saat ia tampil memukau bersama Universidad de Chile, hingga sempat dijuluki sebagai Alexis Sanchez di generasinya.
"Ketika kami merekrut Dario Osorio, itu bukan karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya," ujar Kristian Kjaer, Direktur Teknis Midtjylland, kepada BBC Sport.
Osorio sudah masuk dalam radar AC Milan, RB Leipzig, Salzburg, serta sejumlah klub Inggris dan Jerman lainnya sebelum ia akhirnya meninggalkan Santiago menuju Denmark pada usia 19 tahun.
Langkah tersebut merupakan bagian dari jalur karier yang dipertimbangkan secara matang. Setelah tiga musim berkompetisi di Skandinavia, pemain sayap ini bergabung dengan Crystal Palace secara pinjaman pada musim panas ini. Kesepakatan tersebut mencakup opsi pembelian permanen senilai £24 juta, angka yang berpotensi memecahkan rekor transfer termahal dalam sejarah Superliga Denmark.
Midtjylland—klub di mana pemilik Brentford, Matthew Benham, pernah menjadi pemegang saham mayoritas antara tahun 2014 hingga 2023—dikenal luas sebagai salah satu klub paling inovatif di Eropa dalam memanfaat analitik, mulai dari eksekusi bola mati hingga strategi perekrutan pemain yang cerdas.
"Kami bekerja melalui dua pendekatan," terang Kjaer. "Kami memiliki pemantauan (scouting) subjektif, pemantauan video klasik, pemantauan langsung di lapangan, jaringan pemandu bakat, orang-orang terpercaya di dalam klub, serta mitra kami. Di samping itu, kami juga menerapkan pemantauan berbasis data (data scouting)."
"Khusus untuk Dario Osorio, kami sudah memantaunya jauh sebelum kami resmi merekrutnya," lanjut Kjaer.
Mulai dari pemantauan langsung di tempat, ketersediaan rekaman video yang makin melimpah, analitik data, hingga kecerdasan buatan (AI), klub-klub Premier League kini telah memetakan sebagian besar talenta muda yang bermunculan di seluruh penjuru dunia—baik melalui pembelian langsung dari klub asal maupun dengan memantau perkembangan pemain seperti Osorio.
"Istilah 'bakat tersembunyi' (hidden gem) semacam itu bisa dikatakan hampir tidak ada lagi dalam dunia sepak bola saat ini," tegas Kjaer. "Terkadang hal itu masih dijumpai, tetapi sangat langka."

Malick Yalcouye mengawali kariernya di ASEC Mimosas sebelum bergabung dengan Brighton dari IFK Goteborg dua tahun lalu. Ia berhasil menembus tim utama musim ini setelah menjalani masa peminjaman di Sturm Graz dan Swansea City.
"Anda dapat menyebut era ini sebagai salah satu periode paling transformatif dalam identifikasi dan perekrutan talenta," kata Sam Turner, Head of Operations di platform pemantauan dan pengembangan pemain, Eyeball.
Klub-klub sepak bola saat ini dapat memperoleh rincian data yang sangat mendalam mengenai para pemain di berbagai belahan dunia, bahkan sebelum sang pemain mencatatkan penampilan profesional di tingkat senior. Eyeball, misalnya, didirikan lima tahun lalu dengan fokus utama pada pemantauan pemain berusia 13 hingga 21 tahun.
Platform ini telah digunakan oleh lebih dari 60% klub di lima liga teratas Eropa, serta mayoritas tim di Premier League. Eyeball menyediakan akses data ke lebih dari 400.000 pemain muda yang tersebar di 42 pasar global, mulai dari Eropa, Afrika, hingga Amerika Latin.
Pemain sayap Malick Yalcouye (20 tahun) yang kini menjadi bintang baru di Brighton, telah dipantau melalui sistem ini sejak ia masih berkembang di klub Pantai Gading, ASEC Mimosas. Hal serupa terjadi pada Bazoumana Toure yang kini membela Newcastle United.
Luasnya cakupan pemantauan ini tercermin dari sejumlah kepindahan pemain baru-baru ini: Josue Caicedo meninggalkan klub Ekuador LDU Quito untuk bergabung ke Barcelona; Mustapha Nyassi berpindah dari klub Gambia Real de Banjul menuju Copenhagen; sedangkan Nour Ashraf direkrut Leipzig dari klub Mesir, ENPPI.
"Ketersediaan data dan rekaman pertandingan telah mendorong perubahan metodologi," ungkap Turner. "Langkah ini memberikan banyak keuntungan dalam hal perekrutan berbasis data, efisiensi waktu, serta penghematan biaya."
Eyeball mampu mengambil lebih dari 2.000 titik data (data points) di setiap pertandingan, yang biasanya dikumpulkan dari klub-klub amatir terkemuka dan akademi elit yang merekam serta mengunggah jalannya laga mereka.
Hasilnya adalah sebuah basis data masif yang memungkinkan para analis untuk menyaksikan seluruh umpan progresif seorang pemain, mengidentifikasi siapa yang menempuh jarak jelajah terjauh, atau sekadar memberikan instruksi spesifik seperti 'carikan saya pemain dengan karakteristik seperti Ashley Cole'.
"Namun, aspek sentuhan manusia (human feel) tidak akan pernah bisa dihilangkan," tambah Turner. "Saya berpendapat bahwa kami bertindak untuk membantu para pemandu bakat dan tim perekrutan, melengkapi mereka dengan alat, data, serta informasi agar dapat mengambil keputusan yang lebih tepat secara konsisten."
Kjaer dari Midtjylland sepakat bahwa data "sangat penting karena memberikan alat ukur yang objektif sebagai bahan pertimbangan", yang kemudian dipadukan dengan pengalaman bertahun-tahun dalam pengambilan keputusan.
"Kami tidak bisa begitu saja menyalakan komputer, melihat siapa yang direkomendasikan, lalu langsung merekrutnya," tutur Kjaer. "Kami juga perlu memahami latar belakang budaya dan keluarga pemain untuk memastikan mereka cocok dengan nilai-nilai klub kami."
"Tentu saja data membuka banyak peluang bagi kami. Kami merekrut pemain di usia muda, sehingga ukuran sampel data yang kami miliki relatif lebih kecil. Jika kami menunggu sampai sampel datanya cukup besar, klub-klub seperti Brighton, Liverpool, Brentford, atau tim lainnya akan lebih dulu merekrut pemain tersebut sebelum kami."

Kjaer dan Turner sama-sama menilai Uzbekistan sebagai salah satu pasar talenta yang tengah berkembang pesat. Bek Manchester City berusia 22 tahun, Abdukodir Khusanov, menjadi salah satu pilar yang tampil di Piala Dunia bersama negara debutan tersebut pada musim panas ini.
"Kami dapat menemukan pemain-pemain menarik dari seluruh belahan dunia," terang Kjaer.
"Saya ingin klub kami selalu berpikiran terbuka. Kami memiliki cara bermain dan metode penjualan pemain yang spesifik. Oleh karena itu, kami harus menemukan pemain yang benar-benar sesuai dengan gaya permainan tersebut."
"Ketika Anda telah melakukan uji kelayakan (due diligence) dan merasa yakin, segera ambil keputusan. Kecepatan dalam mengambil keputusan juga merupakan bentuk 'bakat tersembunyi' tersendiri."
Salah satu negara yang kerap disebut adalah Uzbekistan, yang berhasil melakoni debutnya di Piala Dunia musim panas ini. Sementara itu, Turner menyebut Azerbaijan tengah memelopori jaringan talenta nasional serta sangat "berpikiran maju dan termotivasi untuk memajukan sepak bola di tingkat domestik."
Jepang juga menjadi perhatian khusus. Turner menyebut Jepang sebagai "bintang penuntun" (guiding star) dalam pembinaan pemain muda berkat sistem pembinaan yang terstruktur rapi—mulai dari tingkat akar rumput, sepak bola sekolah dan perguruan tinggi, hingga ke kancah profesional. Contoh nyata dari pendekatan ilmiah ini adalah tesis Kaoru Mitoma yang secara spesifik meneliti teknik dribbling.
Bagi klub-klub Eropa, struktur pembinaan yang unik di Jepang ini membuat proses identifikasi prospek muda menjadi relatif lebih kompleks.
Di sisi lain, Amerika Latin tetap menjadi wilayah dengan potensi talenta yang sangat berlimpah.
Mantan Chairman Midtjylland, Rasmus Ankersen—yang kemudian melanjutkan kariernya di Brentford dan Southampton—mengungkapkan dalam bukunya The Gold Mine Effect bahwa klub seperti Cruzeiro di Brasil rata-rata menolak 4.000 pemain di bawah usia 15 tahun untuk setiap satu pemain yang mereka terima ke dalam akademi.
Klub-klub asal Brasil secara alami sangat protektif terhadap aset pemain muda mereka.
"Merek paham bahwa pada akhirnya para pemain tersebut akan pindah ke Eropa," kata Turner. "Namun, fokusnya adalah membiarkan mereka pindah pada usia yang tepat sehingga klub lokal bisa mendapatkan manfaat finansial yang maksimal. Kami sangat berkomitmen mendukung proses tersebut."
Meski demikian, sebagian besar wilayah Amerika Latin dinilai masih "belum terjangkau sepenuhnya". Perekaman dan pemetaan pertandingan kini mulai membuka berbagai peluang baru di kawasan tersebut.
"Ini pada dasarnya adalah masalah visibilitas bagi banyak pemain agar bakat mereka tidak terlewatkan," jelas Turner. "Kami telah melangkah jauh dalam mengatasi kendala ini di banyak pasar, namun masih ada banyak kawasan lain yang menyimpan pesepak bola luar biasa."
Salah satu pasar yang terus diperhatikan secara intensif adalah benua Afrika.

Pemain sayap berusia 19 tahun, Zadok Yohanna, baru-baru ini melakoni debutnya bersama Brighton setelah sempat menghabiskan waktu satu tahun di Swedia bersama klub AIK.
"Pasti ada ribuan pemain yang terlewatkan," ungkap Thomas Randolph, pendiri Delphlyx, saat ditanya mengenai potensi talenta Afrika yang gagal mendapatkan kepindahan besar di masa lalu karena keterbatasan pemantauan.
Delphlyx bekerja sama dengan klub-klub Premier League, konsorsium pemilik klub, serta berbagai tim di Eropa, Amerika Serikat, dan Meksiko untuk menyajikan data talenta terbaik berusia 14 hingga 21 tahun di Afrika Barat. Data ini dihimpun melalui analitik, pemantauan langsung, hingga penyelenggaraan turnamen privat.
"Kami memiliki lebih dari 19.000 data pemain Afrika di platform kami. Seseorang dapat duduk di London, memantau permainan mereka, lalu menghubungi mereka secara langsung untuk mengatur jadwal uji coba atau proses transfer. Hal seperti ini tidak pernah memungkinkan di masa lalu," tambah Randolph.
Dengan rata-rata usia pemain yang diproyeksikan sedikit di atas 18 tahun, Randolph menilai kawasan Afrika Barat sebagai wilayah yang "muda, dinamis, dan terus berkembang"—sebuah "Mekkah olahraga". Sepak bola tetap menjadi gairah utama masyarakat setempat, meskipun kompetisi seperti NFL dan NBA mulai menanamkan investasi di beberapa negara.
Namun, Randolph membantah anggapan bahwa pemantauan bakat di Afrika sudah jenuh. Ia menunjuk sejumlah area yang masih belum tersentuh akibat kendala konflik maupun akses logistik, mengingat mayoritas pemandu bakat biasanya hanya terfokus pada kota-kota besar.
"Zadok Yohanna adalah contoh yang sangat baik," jelas Randolph. "Ia baru saja pindah ke Brighton. Ia berasal dari Ikon Allah, sebuah akademi kecil yang relatif tidak populer di wilayah utara Nigeria."
"Contoh lainnya adalah wilayah selatan Senegal yang melahirkan Sadio Mane serta Lamine Camara—pemain yang sempat coba direkrut oleh Chelsea. Di daerah tersebut hanya ada satu tim resmi. Ini membuktikan bahwa di dalam negara-negara besar sekalipun, masih ada wilayah-wilayah tertentu yang sangat minim terpantau oleh pemandu bakat."
Secara historis, para agenlah yang lebih berperan membawa pemain keluar dari Afrika dibandingkan proses pemantauan langsung oleh pemandu bakat klub. Delphlyx berupaya mengubah dinamika ini dengan membantu klub menganalisis talenta terlebih dahulu melalui data, sehingga pemandu bakat dapat datang secara spesifik ke turnamen atau ajang pamer bakat (showcase) untuk memantau target yang telah terfilter.
Randolph menyebut wilayah Mali timur, Togo, Guinea-Bissau, dan Burkina Faso sebagai daerah potensial. Namun, Benin—negara yang terletak di antara Nigeria dan Togo—menjadi wilayah yang paling menarik perhatian karena keberhasilannya mengalokasikan dana hibah federasi untuk pembangunan infrastruktur lapangan dan fasilitas sepak bola.
"Salah satu negara yang memanfaatkan dana FIFA dengan sangat baik adalah Benin," tutur Randolph. "Negara ini telah melahirkan calon pemenang Ballon d'Or wanita di masa depan: Romaine Gandonou. Ia baru berusia 15 tahun, telah tampil di Piala Dunia U-20, dan kini menjadi buruan klub-klub raksasa seperti PSG dan Barcelona. Benin akan menjadi negara yang sangat menarik dalam beberapa tahun ke depan."

Penyerang berusia 15 tahun, Romaine Gandonou, bahkan telah mencetak gol untuk tim nasional senior wanita Benin.
Sejumlah klub Premier League kini mulai melakukan pembelian pemain secara langsung dari benua Afrika. Di usia 18 tahun, bek asal Senegal Mor Talla Ndiaye sudah dipanggil masuk ke dalam daftar pemain cadangan tim senior Liverpool setelah didatangkan dari Amitie—klub yang dimiliki oleh mantan penyerang Newcastle dan Chelsea, Demba Ba.
Ndiaye terpantau saat berlaga di Piala Dunia U-17 tahun lalu. Pada ajang yang sama, gelandang Burkina Faso Mohamed Zongo juga tampil mencuri perhatian. Zongo dijadwalkan akan bergabung dengan proyek BlueCo (pemilik Chelsea dan Strasbourg) saat usianya menginjak 18 tahun dalam dua tahun mendatang.
"Piala Dunia U-17 adalah panggung yang sangat krusial," kata Randolph. "Jika tim nasional Afrika Anda berlaga di sana dan Anda tampil menonjol, Anda hampir dipastikan akan mendapatkan kepindahan ke klub besar."
Para pemandu bakat juga terpantau menghadiri kualifikasi Piala Afrika U-17 baru-baru ini. Delphlyx turut memfasilitasi sesi uji coba bagi para pemain potensial asal Senegal dan Gambia di beberapa klub Premier League.
Kendati demikian, opsi kepindahan langsung ke Inggris masih dibatasi oleh regulasi ketat. Pemain asing wajib memperoleh Governing Body Endorsement (GBE) untuk mendapatkan izin kerja, atau memanfaatkan salah satu dari empat kuota Elite Significant Contribution yang dimiliki klub. Kriteria ini sangat bergantung pada jumlah penampilan pemain di tim nasional kelompok umur maupun senior.
Faktor regulasi inilah yang mendorong para pemain muda Afrika untuk terlebih dahulu berlabuh di negara-negara Eropa dengan aturan yang lebih fleksibel. Randolph berpendapat bahwa klub-klub di Skotlandia—yang tidak terikat kriteria ketat serupa—seharusnya lebih aktif menggarap pasar Afrika, sebagaimana yang dilakukan oleh klub-klub di kawasan Skandinavia.
Klub Denmark, Nordsjaelland, memiliki model yang unik. Akademi Right to Dream—yang didirikan di Ghana pada tahun 1999 oleh mantan pemandu bakat Manchester United, Tom Vernon—membeli Nordsjaelland tujuh tahun lalu. Langkah ini dilakukan untuk menyediakan jalur karier Eropa bagi talenta-talenta terbaiknya, seperti Mohammed Kudus, Simon Adingra, dan Kamaldeen Sulemana.
Langkah serupa terlihat pada Malick Yalcouye (Brighton) dan Bazoumana Toure (Newcastle) yang mengawali karier Eropa mereka di klub Swedia, IFK Goteborg dan Hammarby. Sementara itu, Midtjylland menjalin kemitraan resmi dengan klub Nigeria, FC Ebedei. Gelandang Coventry City, Frank Onyeka, pernah membela kedua klub tersebut sebelum menembus Premier League, begitu pula penyerang Paul Onuachu yang kini memperkuat Trabzonspor.
Seperti dalam kasus Osorio, serta pemain lain seperti penyerang Guinea-Bissau Franculino (yang pindah ke Trabzonspor musim panas ini) dan bek Pantai Gading Ousmane Diomande (yang kini membela Nottingham Forest via Sporting CP), Midtjylland konsisten menunjukkan rekam jejak sukses dalam menggembleng pemain muda sebelum menjual mereka dengan nilai transfer tinggi.
"Saya melihat Midtjylland mirip seperti Silicon Valley bagi perusahaan-perusahaan teknologi—kami telah melahirkan begitu banyak talenta selama bertahun-tahun," jelas Kjaer.
"Kami dapat berfokus sepenuhnya pada proses pengembangan. Tentu kami dituntut untuk menang, tetapi lingkungan di sini memberikan rasa aman yang lebih besar bagi perkembangan pemain."
"Pesan yang kami sampaikan kepada para pemain muda adalah: jika Anda ingin berfokus penuh pada karier sebagai pesepak bola, Anda harus datang ke sini. Sebab, itulah fokus utama dan keahlian kami."

Riyad Mahrez baru berusia 19 tahun ketika ia pertama kali bergabung dengan klub profesional, Le Havre.
Di luar perburuan global, talenta hebat yang belum terjamah sebenarnya juga masih bisa ditemukan di wilayah terdekat. Prancis, khususnya wilayah aglomerasi Paris (Ile-de-France), menyimpan cadangan talenta sepak bola yang sangat melimpah.
Prancis memiliki sistem kompetisi liga muda nasional yang unik, di mana tim-tim amatir berkesempatan bertanding langsung melawan akademi klub profesional—bahkan tidak jarang mengalahkan mereka. Sistem ini memberikan panggung bagi para pemandu bakat untuk melihat langsung potensi pemain non-akademi saat diuji melawan talenta-talenta terbaik di kelompok usianya.
"Pemandu bakat dari seluruh dunia datang ke Ile-de-France untuk memantau pemain di liga kami," tutur Jamel Sandjak, Presiden Ligue de Paris Ile-de-France yang menaungi lebih dari 1.000 klub dan 270.000 pemain terdaftar.
"Sebagian besar tim nasional kelompok umur Prancis didominasi oleh pemain-pemain dari wilayah kami. Jadi, tim regional kami pada dasarnya bertanding di tingkat standar nasional."
Pada musim lalu, klub amatir ES Nanterre yang berasal dari pinggiran kota Paris berhasil menjuarai Championnat National Group B. Mereka mengungguli tim-tim akademi dari klub kontestan Liga Champions seperti Lens dan Lille, serta tim kasta kedua seperti Reims, Bastia, dan Red Star.
Penyerang Exauce Luyindula tampil sebagai pencetak gol terbanyak di divisi tersebut saat membela tim amatir AAS Sarcelles—klub tempat Riyad Mahrez menimba ilmu hingga usia 18 tahun. Luyindula kini telah resmi direkrut oleh klub Ligue 2, Guingamp.
Hasil mengejutkan juga dicatatkan oleh mitra Eyeball lainnya: AFC Creil sukses mengalahkan Lens di tingkat U-15; tim U-19 Olympique Rovenain menundukkan Nice; sedangkan tim U-17 CS Bretigny berhasil mengalahkan Paris Saint-Germain.
"Hingga belum lama ini, mayoritas klub berpatokan pada asumsi bahwa pemain-pemain terbaik pasti berada di akademi besar atau sistem talenta nasional. Padahal, banyak dari pemain tersebut sudah dipilih sejak usia 12 atau 13 tahun," terang Turner.
"Dalam beberapa kasus asumsi itu ada benarnya. Namun secara statistik, pemain terbaik di usia 12 tahun tidak selalu menjadi pemain terbaik ketika menginjak usia 18 tahun."
"Terdapat konsentrasi pemain yang sangat tinggi di wilayah Paris sehingga ruang akademi profesional tidak cukup untuk menampung semuanya. Pemain terbaik tidak selalu berada di dalam sistem akademi nasional," pungkasnya.

Sumber: BBC Sport
Tidak ada komentar: