Bangkit Usai Kartu Merah Phil Foden, Manchester City Bungkam Manchester United Lewat Gol Erling Haaland

“Enzo, Enzo, Enzo, in your head” menjadi nyanyian penuh gairah yang dilantunkan para pendukung Manchester City untuk Enzo Fernández. Setelah menampilkan peran bintang dalam kemenangan yang berkesan ini, pemain baru bernomor punggung 17 tersebut dipastikan langsung meraih status pahlawan pujaan (cult hero) di kalangan suporter.
Pertandingan Derby Manchester ke-199 ini berhasil dimenangkan lewat gol kesembilan Erling Haaland di fixture sejarah derby ini. Namun, sosot penting bagi tim tamu adalah sang pemilik nomor 17 baru, Enzo Fernández. Ia menjadi sosok pengganggu kunci dalam proses gol yang awalnya dianulir karena offside, sebelum akhirnya overturned oleh Video Assistant Referee (VAR). VAR memutuskan bahwa Fernández tidak mengganggu pergerakan Lisandro Martínez saat bola umpan silang Josko Gvardiol meluncur masuk. Pemain asal Argentina itu juga menjadi simbol semangat juang yang diusung tim asuhan Enzo Maresca di markas Manchester United, terutama setelah Phil Foden tampaknya membuat jalannya laga memihak tuan rumah pada menit ke-22.
Momen krusial tersebut terjadi ketika Foden dan Bruno Fernandes terlibat perebutan bola di sisi kanan pertahanan City. Penyerang sayap City itu terlihat menendang bagian tengah tubuh kapten United. Wasit Michael Oliver tanpa ragu langsung mengacungkan kartu merah langsung, sebuah keputusan instan yang kemudian didukung penuh oleh peninjauan VAR.
Kendati harus bermain dengan 10 orang, Maresca menolak untuk sekadar mengincar hasil imbang. Ia enggan menutup rapat pertahanan dengan mengganti pemain serang demi seorang bek hingga menit-menit akhir laga. Baru setelah gol penentu dari Haaland tercipta, Nico O'Reilly dimasukkan untuk menggantikan Fernández guna mengamankan keunggulan hingga laga usai.
Manchester City, yang tentu memelajari rekaman kekalahan 0-2 di tempat yang sama pada Januari lalu, berambisi memulai laga dengan cepat dan tidak mau mudah diintimidasi seperti pada laga pertama Michael Carrick saat awal menjabat sebagai manajer United.
Antoine Semenyo memimpin tekanan awal City. Meski sempat kalah dalam duel melawan Diogo Dalot, ia mampu bangkit dan merebut kembali bola dari bek kanan United tersebut. Dalot sendiri hampir saja menguji ketangguhan Gianluigi Donnarumma lewat pergerakan melengkungnya saat menerima umpan lambung Fernandes, namun kontrol bola yang buruk membuat kiper nomor satu City itu mudah mengamankan bola. Tak lama berselang, Anderson melanggar Bryan Mbeumo dalam sebuah duel yang sejatinya berpotensi membuahkan kartu kuning dari Oliver.

Jual beli serangan menjadi gambaran tepat pada laga ini. Carrick menginstruksikan Matheus Cunha untuk bergerak dinamis dari posisi false no 9 bertukar tempat dengan Marcus Rashford di sisi kiri. Di sisi lain, Maresca memberi perintah kepada Fernández untuk bergerak melebar keluar, menjauh dari rekan duetnya di lini tengah, Anderson.
Mengandalkan pergerakan cepat Haaland yang berlari menuju gawang merupakan taktik utama City. Saat ia berhasil meloloskan diri, potensi gol keenamnya dalam empat pertandingan terakhir tampak depan mata, namun keraguan sang penyerang membuat peluang itu sirna. Dalot pun hampir bernasib sama akibat kesalahan serupa; saat mengantisipasi bola atas, ia ragu-ragu dan Semenyo yang mengintai di dekatnya nyaris memanfaatkannya.
Kecerobohan Foden kemudian terjadi—sebuah tindakan yang tentu membuat geram Maresca dan sebagian besar pendukung City. Fernandes mungkin saja membuat kontak dengan sepatunya terlebih dahulu, namun jika ya, benturannya sama sekali tidak sekeras dan sekuat tendangan yang dilayangkan Foden.
Kondisi ini menempatkan City dalam dilema klasik: bertahan atau tetap menyerang. Hasil imbang sebenarnya bukan bencana, namun jika mampu mencetak gol lalu mempertahankannya, itu akan menjadi hasil luar biasa yang mendongkrak moral tim. Ketika Haaland bergerak maju dan melepaskan umpan melengkung kepada Rayan Cherki—yang digeser dari posisi nomor 10 ke posisi kanan yang ditinggalkan Foden—terlihat jelas alasan mengapa Maresca memilih untuk tetap menyerang.
Ambisi manajer asal Italia itu sangat patut dipuji, dengan catatan gawang mereka tidak kebobolan oleh United. Tim asuhan Carrick menyadari hal ini, sehingga dibutuhkan ketenangan dan bukan kesembronoan seperti yang ditunjukkan Fernandes saat umpan silangnya terlalu deras melambung di atas Rashford yang sudah bersiap menembak.
Percobaan Maguire meraih kejayaan lewat tembakan spekulatif dari jarak 25 yard justru menghantam rekannya sendiri. Namun menjelang turun minum, usaha Rashford jauh lebih mengancam. Tembakan bebasnya dari jarak 20 yard berhasil melewati pagar betis lawan, tetapi menggagalkan peluang tersebut karena bola menghantam tiang kanan gawang Donnarumma.

Keputusan Maresca memasuki babak kedua adalah menarik keluar Cherki dan memasukkan Iliman Ndiaye yang memiliki kecepatan lebih di sisi kanan—sebuah langkah yang menegaskan mode bertahannya yang tetap berorientasi menyerang. Di sisi lain, instruksi Carrick sangat jelas: tampil mematikan untuk mengamankan tiga poin berharga demi melesat ke peringkat kelima, berjarak lima poin dari pemuncak klasemen, Arsenal. Kobbie Mainoo, yang sebelumnya tidak begitu terlihat, hampir mencetak gol seperti Rashford lewat tembakan kerasnya; Donnarumma kembali menepisnya dan tiang kanan gawangnya lagi-lagi menyelamatkan City sebelum bola pantul mengenai sang kiper.
United terus mengurung pemain berkaos biru bagaikan gelombang serangan merah. Penguasaan bola berpindah cepat dan tekel-tekel keras bermunculan, seperti saat Patrick Dorgu menjatuhkan Ndiaye, namun gol yang dicari tuan rumah tak kunjung datang.
Mimpi City untuk mencuri kemenangan (smash-and-grab) akhirnya terwujud ketika Haaland membobol gawang lawan. Pemain nomor 9 itu merayakannya dengan pose duduk bersila ala 'zen', tetapi selebrasi baru dilakukan secara penuh setelah VAR menganulir keputusan offside awal dari hakim garis. Umpan silang Gvardiol dari sisi kiri sempat mengenai kaki Dorgu dan terus meluncur melewati Fernández yang menjatuhkan diri (tanpa menyentuh bola, yang menjadi fokus peninjauan VAR) serta Martínez, sebelum akhirnya diselesaikan Haaland ke dalam jala.
Dalam kondisi terdesak membutuhkan gol, Carrick mengganti Youri Tielemans dengan memasukkan Benjamin Sesko. Namun gol balasan tidak pernah tercipta; sepakan keras Mbeumo di masa injury time mampu ditepis oleh Donnarumma. Hari ini sepenuhnya menjadi milik City, di mana Fernández menutup penampilannya lewat tembakan jarak jauh yang membentur tiang kiri gawang Senne Lammens. Saat peluit panjang berbunyi, Maresca melompat kegirangan di pinggir lapangan—sebuah kemenangan yang menjadi bukti keberanian sang manajer dan para pemainnya.
Sumber: The Guardian
Tidak ada komentar: