recent

Pratinjau Premier League 2026-27: Setelah 25 Tahun Absen, Mampukah Coventry City Bertahan Bersama Frank Lampard?

Pratinjau Premier League 2026-27: Setelah 25 Tahun Absen, Mampukah Coventry City Bertahan Bersama Frank Lampard?

Setelah 25 tahun meninggalkan kasta tertinggi sepak bola Inggris, Coventry City akhirnya kembali ke Premier League. Pertanyaan besarnya kini: mampukah mereka menjaga keberadaan mereka di divisi teratas di bawah arahan Frank Lampard?


Kembalinya 'The Sky Blues' ke Kasta Tertinggi

“We are back” (Kami telah kembali), demikian bunyi spanduk yang terbentang dengan bangga. Tepat 25 tahun yang lalu, setelah kepastian terdegradasi dikonfirmasi, kamera Match of the Day menyoroti sebuah pesan yang diangkat tinggi-tinggi oleh seorang pendukung Coventry City bernama John Mullaney. “We’ll be back” (Kami akan kembali) adalah kata-kata yang ditulisnya—tentu saja dengan tinta warna biru langit—di atas selembar kertas dinding bekas. Ketika Coventry merayakan kembalinya mereka ke divisi teratas dan mengangkat trofi Championship di hadapan Stadion yang penuh sesak, ribuan suporter mengibarkan tanda berdesain baru dengan slogan yang telah disesuaikan untuk menyimbolkan perjalanan yang telah genap: “We are back”.


Perjalanan tersebut bukannya tanpa rasa sakit. Sembilan tahun lalu, mereka sedang bersiap melakoni musim pertama di kasta keempat sepak bola Inggris untuk pertama kalinya dalam 59 tahun. Dari tahun 2019 hingga 2021, mereka bahkan harus berbagi stadion St Andrew’s dengan pemiliknya, Birmingham City. Itu pun bukan masa-masa 'tunawisma' pertama mereka; pada musim 2013-14, mereka harus memainkan laga "kandang" sejauh 35 mil di Northampton. Banyak suporter yang akan mengingat masa-masa sulit tersebut saat tim asuhan Frank Lampard mengawali musim baru Premier League dalam laga pembuka menghadapi sang juara bertahan, Arsenal, pada Jumat pekan depan. Banyak pula yang akan mengenang jasa Mark Robins, yang dalam dua periode kepelatihannya menghabiskan lebih dari delapan tahun bertugas hingga mengantarkan klub ke titik ini.


Tantangan Adaptasi dan Aktivitas Transfer

Tantangan terbesar bagi Coventry adalah beradaptasi dengan level permainan di Premier League. Lampard memang seorang legenda Premier League, tetapi hanya tujuh pemain di dalam skuadnya yang memiliki pengalaman berlaga di divisi teratas ini dalam rekam jejak mereka. Sosok maverick yang kembali bergabung, Gus Hamer, menjadi pemain dengan catatan starter terbanyak di antara mereka (34 kali) saat membela Sheffield United di divisi teratas.


“Sebagian dari hal itu adalah hal yang bagus: kami merasa antusias, lapar, dan para pemain ingin membuktikan bahwa mereka layak berada di sini,” ujar Lampard. “Namun, kami juga harus bekerja keras untuk membantu skuad memangkas jurang perbedaan kualitas tersebut.”


Proses rekrutmen Coventry berjalan sangat luar biasa di bawah Direktur Olahraga Dean Austin. Kedatangan gelandangnya asal Ghana, Caleb Yirenkyi, dengan rekor transfer klub senilai £23 juta dari klub Denmark FC Nordsjælland, menjadi hal yang sangat menjanjikan. Beberapa pemain yang tampil gemilang sejak bergabung di kasta kedua juga terlihat mampu naik kelas, termasuk Milan van Ewijk, Jack Rudoni, dan Carl Rushworth, yang dipermanenkan setelah masa peminjaman yang sukses dari Brighton. Urusan mencetak gol bukanlah masalah musim lalu: Coventry menjadi tim paling subur di empat kasta teratas sepak bola Inggris dengan torehan 97 gol.


Di luar kekalahan di semifinal play-off dari Sunderland dua tahun lalu dan awal musim yang sempat naik-turun, perjalanan Coventry terbilang mulus sejak Lampard menggantikan Robins pada November 2024. Coventry hanya kalah tujuh kali di liga musim lalu—dengan hanya dua kekalahan di kandang. Namun, persaingan dipastikan jauh lebih berat di kasta teratas. “Kami memenangkan banyak pertandingan di klub ini dalam satu tahun terakhir—tentu akan jauh lebih sulit untuk melakukannya di Premier League,” kata Lampard. “Saya tidak takut akan hal itu. Kita harus merasa antusias menghadapinya.”


Museum Perjalanan Klub dan Kepemimpinan Doug King

Coventry meluncurkan sebuah “ruang penceritaan” (storytelling space) di stadion klub untuk merayakan promosi dan perjalanan menuju titik ini. Pameran pertama di museum klub tersebut diberi judul The Journey Back, yang menceritakan kisah perjalanan klub dari masa-masa tanpa rumah hingga berhasil menembus Premier League, serta memamerkan artefak yang disumbangkan oleh para suporter, pemain, manajer, hingga sang pemilik klub, Doug King, yang dibuka bulan lalu.


Promosi ini juga berarti klub harus mematuhi berbagai regulasi Premier League. Kapasitas Coventry Building Society Arena kini berkurang sekitar 300 kursi demi mengakomodasi panggung kamera (camera gantries) dan perubahan infrastruktur lainnya guna memastikan kepatuhan terhadap aturan penyiaran.


Doug King sempat memicu kemarahan suporter saat memecat Robins, namun keputusannya pada akhirnya terbukti benar. King bukan tipe pemilik yang enggan berbaur: ia sering terlihat memompa semangat penonton dengan mengepalkan tangan, menyanyikan lagu We’ll Live and Die in These Towns karya The Enemy—lagu kebangsaan tidak resmi sebelum laga—dari tribun direksi, atau bergoyang menikmati konser Take That yang menggelar tiga pertunjukan di stadion yang ia beli 12 bulan lalu. Begitu populernya King, para suporter kerap menyanyikan namanya, bahkan beberapa suporter musim lalu berdandan mirip dengannya dengan mengenakan tali id card, dasi biru langit, dan wig rambut mengembang. “Merek mencoba masuk ke ruang direksi ... tapi saya jauh lebih tampan dari mereka,” gurau King.


Rekor Frank Lampard dan Ketangguhan Carl Rushworth

Keberhasilan promosi ke Premier League, menurut Lampard, merupakan momen paling membanggakan dalam karier kepelatihannya. Ia langsung mengejar lisensi kepelatihan setelah pensiun sebagai pemain, dan hanya dalam 12 bulan setelah menangani Derby County, ia mencapai target utamanya dengan sangat cepat: melatih Chelsea. Banyak hal telah terjadi sejak saat itu, termasuk tugas singkat menjadi manajer interim di Chelsea pada April 2023. Periode tujuh minggu tersebut menjadi pengalaman terakhirnya di kasta teratas sebagai manajer, namun suara-suara familiar dari para asistennya, Joe Edwards dan Chris Jones, tetap setia mendampinginya.


Setelah 20 bulan bertugas, Lampard kini menjadi manajer asal Inggris dengan masa jabatan terlama di antara tiga manajer lokal di Premier League saat ini (Michael Carrick 8 bulan; Gary O’Neil 3 bulan). Usai dianugerahi penghargaan Manajer Terbaik Tahun Ini oleh League Managers Association (LMA) yang diserahkan langsung oleh Thomas Tuchel, Lampard menandatangani kesepakatan kontrak baru musim panas ini hingga tahun 2029.


Ada pepatah 'jangan pernah jatuh cinta pada pemain pinjaman', namun Coventry melanggar aturan itu. Coventry tidak hanya tajam mencetak gol musim lalu, tetapi juga kokoh di lini belakang. Rushworth menyabet penghargaan Golden Glove Championship usai mencatatkan 17 laga tanpa kebobolan (clean sheet). Tampil selalu penuh di liga, performanya membuahkan tiga penghargaan internal klub di akhir musim.


Pada parade bus terbuka perayaan promosi Coventry, Rushworth yang disodori pena oleh kapten tim, Matt Grimes, menandatangani sebuah papan bertuliskan “SIGN HERE CARL” dengan huruf kapital. Kemudian, bulan ini, ia menandatangani kontrak permanen untuk keluar dari Brighton, yang menyertakan klausul pembelian kembali (buyback clause). “Dia hampir saja dikeluarkan dari grup WhatsApp tim,” gurau bek Jake Bidwell usai memeluk Rushworth sekembalinya sang kiper. Sebelum musim gemilangnya di Coventry, kiper berusia 25 tahun itu sempat menjalani masa peminjaman di berbagai piramida liga bersama Walsall, Lincoln, Swansea, dan Hull, tetapi kini ia siap menguji kemampuannya di level tertinggi.

The Coventry goalkeeper Carl Rushworth gestures while instructing a teammate during a pre-season friendly at home to Espanyol.

Keunggulan Situasi Bola Mati dan Talenta Muda

Arsenal bukan satu-satunya tim juara yang memanfaatkan situasi bola mati (set-piece) dengan sangat baik musim lalu. Coventry memimpin Championship dalam hal gol dari situasi bola mati dengan torehan 29 gol. Hanya Bayern Munich (0,65 gol per laga) yang memiliki rata-rata lebih baik dari Coventry (0,63 gol per laga) di seluruh divisi teratas Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Tantangannya kini adalah apakah mereka mampu memenangkan cukup banyak tendangan sudut dan tendangan bebas di Premier League untuk memaksimalkan keahlian ini.


Promosi ini tentu membuat jarak antara tim akademi dan tim utama menjadi semakin besar, tetapi Kai Andrews setidaknya berhasil menembus skuad senior. Pemain berusia 20 tahun yang melakoni debutnya pada usia 17 tahun itu mencatatkan tujuh penampilan sebagai pemain pengganti musim lalu sebelum dipinjamkan ke Hibernian. Persaingan kini semakin ketat, namun Andrews memiliki banyak pengagum. “Ada sesuatu yang lebih dari anak ini; dia memiliki aura keberadaan di lapangan—dan itu membuat saya terkesan,” ujar Craig Bellamy, yang pernah membela Coventry di awal kariernya dan secara mengejutkan memanggil Andrews yang saat itu masih berusia 18 tahun ke skuad timnas Wales hampir 18 bulan lalu.


Di sisi lain, Caleb Yirenkyi mungkin tidak menyangka bakal segera menjadi rekan satu tim Brandon Thomas-Asante di tingkat klub, setelah penyerang tersebut memberinya umpan matang untuk mencetak gol pertamanya di Piala Dunia bersama timnas Ghana. Thomas-Asante, salah satu dari lima pemain Coventry yang mencetak dua digit gol musim lalu, melakukan penetrasi di sisi kiri lalu melepaskan umpan menyusur tanah ke kotak penalti, di mana Yirenkyi menyambutnya untuk mencetak gol kemenangan pada menit ke-95 saat melawan Panama di laga pembuka yang berlangsung di Toronto.


Sementara itu, Haji Wright, pencetak gol terbanyak Coventry musim lalu, tampil dua kali sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir untuk timnas Amerika Serikat. Adapun Aurèle Amenda menjadi bagian dari skuad Swiss yang berhasil menembus babak 16 besar, meski ia tidak dimainkan satu menit pun sepanjang turnamen.

Sumber: The Guardian

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.