Mohamed Salah Resmi ke Trabzonspor: Langkah Mundur demi Pengalaman Baru atau Sekadar Uang?

Seperti biasa, pengamat sepak bola Jamie Carragher menyampaikan pandangan yang sangat beralasan ketika menyebut bahwa Mohamed Salah sebenarnya masih cukup tangguh untuk bermain di kompetisi dengan standar yang jauh lebih tinggi ketimbang Liga Super Turki.
Salah jelas masih memiliki kualitas yang mumpuni untuk menjadi pemeran utama di panggung Liga Champions. Namun, untuk musim depan, penyerang asal Mesir tersebut harus puas berlaga di Liga Europa, itu pun dengan catatan Trabzonspor mampu melewati babak kualifikasi terlebih dahulu.
Jujur saja, Salah pada dasarnya masih sangat layak untuk berkompetisi di Premier League. Kendati demikian, dapat diasumsikan bahwa peluang tersebut telah dihapus secara kontraktual ketika sang pemain dan Liverpool sepakat untuk berpisah satu tahun lebih awal dari durasi kontraknya. Di samping itu, Salah sendiri kemungkinan belum siap secara mental untuk membela klub Premier League lainnya saat ini.
Meski begitu, dipastikan tetap ada ketertarikan dari sejumlah klub papan atas peserta Liga Champions terhadap sosok legenda sepanjang masa Premier League berusia 34 tahun ini. Walaupun performanya musim lalu terbilang biasa saja menurut standarnya sendiri, Salah tetap menjadi salah satu penampil terbaik di skuad Liverpool. Hal inilah yang memicu kesimpulan paling masuk akal: Trabzonspor berani membayar gaji dalam jumlah yang sangat fantastis.
Gaji Fantastis dan Eksodus Bintang ke Liga Turki
Faktor finansial tersebut dipastikan menjadi daya tarik utama. Klub-klub elite Turki—yang didominasi oleh tiga raksasa Istanbul (Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas) serta Trabzonspor—saat ini memang gencar mengucurkan dana besar untuk merekrut pemain bintang dan membayar nilai kontrak fantastis, meskipun mereka sebenarnya tengah dibebani utang yang cukup berat.
Di kompetisi musim mendatang, Salah akan bersaing di liga yang juga dihuni oleh nama-nama tenar dunia seperti Victor Osimhen, Leroy Sane, Ilkay Gundogan, Leandro Trossard, hingga Nathan Ake. Bahkan, daftar bintang yang hijrah ke Turki diprediksi masih akan terus bertambah.

Namun, dibutuhkan jauh lebih banyak perekrutan pemain berkualitas tinggi seperti mereka untuk bisa menjadikan sepak bola klub Turki sebagai kekuatan utama di kancah Eropa. Sejak Galatasaray menjuarai Piala UEFA pada tahun 2000 silam, hanya ada satu tim asal Turki yang berhasil menembus babak semifinal di kompetisi antarklub utama UEFA.
Berdasarkan data peringkat Opta saat ini, Liga Super Turki hanya menempati posisi ke-14 dalam daftar liga domestik terkuat di dunia. Posisinya berada di belakang kompetisi nasional negara-negara seperti Denmark dan Polandia. Bahkan menurut kalkulasi Opta, kompetisi kasta kedua Inggris, EFL Championship, dinilai lebih kuat.
Mencari Sensasi Sepak Bola yang Lebih Mentah dan Otentik
Penilaian Opta tersebut mungkin terasa agak berlebihan, namun tidak dapat dimungkiri bahwa Salah memang mengambil langkah mundur yang cukup signifikan dari segi kualitas liga tempatnya beroperasi. Di luar daya tarik finansial yang sangat besar—di mana kesepakatannya dikabarkan bernilai sekitar £14 juta (sekitar Rp280 miliar) per tahun—mungkin ada dorongan pribadi dari Salah yang menginginkan pengalaman dan atmosfer berbeda.
Tak bisa dibantah, Premier League adalah kompetisi yang sangat kompetitif dan menyedot perhatian global secara masif. Stadion-stadion selalu terisi penuh dan liganya merupakan raksasa komersial yang luar biasa.

Namun terkadang, atmosfer sepak bola di Inggris terasa sedikit terlalu steril, terlalu terpoles rapi, dan terlampau komersial. Keberadaan fasilitas tunnel club untuk kalangan kaya hingga dominasi area hospitality mengubah wajah tribun. Bahkan di dalam lapangan, segalanya perlahan terasa kian steril—sangat berkualitas, tetapi tidak lagi seliar atau setajam dulu.
Mungkin Salah mendambakan sesuatu yang lebih menyengat, lebih sulit ditebak, lebih bergejolak (bahkan jauh lebih bergejolak), serta lebih murni dan mentah. Tentu saja, ia bisa saja murni tergiur oleh uang tunai, tetapi faktor finansial belum tentu menjadi satu-satunya alasan di balik keputusan ini.
Banyak pihak mungkin memperkirakan ia akan berlabuh di Serie A, namun ia justru mengambil keputusan yang sangat menarik di fase akhir kariernya. Kini, akan sangat menarik untuk melihat bagaimana petualangan barunya tersebut akan berjalan.
Sumber: Mirror Football
Tidak ada komentar: