Menatap Musim Musim 2026-27: Era Baru Bournemouth di Bawah Marco Rose dan Sensasi Kompetisi Eropa

Pelatih kepala baru Bournemouth, Marco Rose, memiliki beban berat untuk mempertahankan standar tinggi setelah klub menyelesaikan musim lalu di peringkat keenam. Di sisi lain, para pendukung Cherries menyambut musim baru dengan antusiasme tinggi seiring pengalaman pertama mereka tampil di kompetisi Eropa.
Berdasarkan prediksi rata-rata penulis media The Guardian, Bournemouth diperkirakan akan finis di posisi ke-12 pada Premier League musim 2026-27, turun dari pencapaian gemilang mereka di posisi ke-6 pada musim 2025-26.
Momen Transisi dan Tantangan Jadwal Padat Eropa
Sehari setelah pertandingan terakhir musim lalu di markas latihan Bournemouth yang tenang dan modern, mantan pelatih Andoni Iraola menghabiskan waktu beberapa jam di ruang kerjanya bersama sang penerus, Marco Rose. Sebelum membereskan barang-barangnya, Iraola dan Rose berdiskusi hangat mengenai para pemain, suasana pub lokal, hingga taktik tim. Diskusi tersebut berlangsung cukup lama sampai Direktur Olahraga klub, Tiago Pinto, harus mengetuk pintu untuk mengingatkan bahwa masih ada agenda lain yang perlu diselesaikan.
Momen ini mencerminkan rasa hormat yang mendalam di antara kedua juru taktik. Jauh sebelum bergabung dengan Bournemouth, Iraola pernah menyebut skuad Borussia Mönchengladbach asuhan Rose sebagai salah satu tim favoritnya. Gaya "sepak bola vertikal" yang diusung pelatih asal Jerman tersebut berhasil membawa Gladbach lolos ke Liga Champions pada musim pertamanya menjabat.
Rose menyadari betul bahwa Iraola telah memasang standar yang sangat tinggi. Musim lalu, Iraola mampu membawa Bournemouth lolos ke Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, meski harus kehilangan sejumlah pemain kunci dengan total penjualan mencapai lebih dari £250 juta. Hebatnya lagi, Bournemouth tidak menelan satu pun kekalahan setelah menjual Antoine Semenyo pada minggu kedua Januari. Dalam pemusatan latihan pra-musim di Austria, Rose menyampaikan situasi tersebut dengan lugas: "Andoni tidak menyisakan banyak ruang untuk perbaikan. Tekanan kini ada di tangan saya."
Pada sesi latihan pertamanya, Rose mengungkapkan kekagumannya atas cara para pemain menggempur Premier League musim lalu. Namun, berlaga di Liga Europa merupakan wilayah baru bagi tim yang empat tahun lalu masih berkompetisi di kasta kedua. Oleh karena itu, manajemen Bournemouth berinisiatif menghubungi klub sejawat seperti Crystal Palace dan Nottingham Forest untuk mempelajari realitas dalam mengelola ritme pertandingan Kamis-Minggu. Rose sendiri bersahabat dekat dengan Oliver Glasner, yang kini melatih Forest setelah membawa Palace menjuarai Conference League musim lalu. "Kami tidak pergi ke Eropa hanya untuk menikmati suasana, kami ingin bersaing. Kami berada di sana bukan sekadar untuk menjadi penonton," tegas Rose.
Pergerakan Bursa Transfer dan Situasi Skuad
Berbeda dengan bursa transfer musim panas lalu, sejauh ini Bournemouth berhasil mempertahankan para pemain kuncinya, terutama Alex Scott, Rayan, dan Eli Junior Kroupi. Kroupi, penyerang berusia 20 tahun yang mencetak dua digit gol pada musim perdananya di Premier League, dianggap klub sebagai talenta lintas generasi. Kroupi sempat menarik minat serius dari Paris Saint-Germain dan beberapa klub raksasa Eropa lainnya, namun cedera kaki yang dialaminya saat latihan pra-musim membuatnya harus absen setidaknya selama tiga bulan.
Pada akhir musim lalu, Bournemouth memprioritaskan perekrutan bek tengah baru untuk menggantikan Marcos Senesi serta penyerang baru untuk bersaing dengan Evanilson. Pada awal Agustus, klub sukses mendaratkan Álvaro Rodríguez dari Elche—pemain yang sebelumnya sempat diincar Rose saat masih melatih Leipzig—serta António Silva dari Benfica. Selain itu, Juanlu Sánchez diboyong dari Sevilla untuk memberi persaingan bagi Adam Smith, pemain veteran berusia 35 tahun yang kini memasuki musim ke-14 bersama klub. Juanlu juga akan mengisi posisi yang ditinggalkan Álex Jiménez, yang dilepas ke Fiorentina dengan status pinjaman plus opsi permanen karena masih menjalani hukuman skorsing di Inggris terkait investigasi Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA).

Di pasar transfer saat ini, harga £50 juta telah menjadi standar untuk seorang bek tengah elit. Tottenham mengeluarkan £52 juta untuk memboyong Jan Paul van Hecke, sedangkan Chelsea merogoh kocek dalam jumlah yang sama untuk merekrut Maxence Lacroix dari Crystal Palace. Bournemouth sendiri mengantongi £50 juta saat menjual Dean Huijsen ke Real Madrid tahun lalu melalui klausul rilis. Situasi pasar ini membuat keputusan Bournemouth merekrut António Silva seharga £25,7 juta menjadi sebuah langkah yang sangat cerdik. Bek berusia 22 tahun tersebut merupakan pemain reguler di Benfica, memiliki pengalaman di Liga Champions dan Liga Europa, serta mencatatkan 20 penampilan bersama timnas Portugal. Silva, yang dominan kaki kanan namun lebih menyukai posisi bek tengah-kiri, diplot sebagai pengganti langsung Senesi.
Pembenahan Infrastruktur dan Aturan Finansial UEFA
Stadion terkecil di Premier League, Vitality Stadium, terus mengalami pembenahan sepanjang musim panas ini. Klub berbenah agar stadion berkapasitas 11.357 kursi tersebut memenuhi regulasi UEFA. Renovasi menyeluruh dilakukan, termasuk penggantian seluruh kursi dan penutupan dua sudut tribun untuk menambah kapasitas sebesar 800 kursi musim ini.
Berlaga di kompetisi Eropa juga membawa tantangan dalam memenuhi aturan Squad-Cost Ratio (SCR) dari UEFA, yang membatasi pengeluaran operasional tim maksimal 70% dari total pendapatan klub. Bournemouth menyelesaikan musim 2025-26 dengan rasio 82% dan terus berupaya menurunkan angkanya agar memenuhi ambang batas tersebut. Di sisi lain, pembinaan usia muda menunjukkan hasil positif setelah akademi klub resmi meraih status Kategori Satu bulan lalu, naik dari Kategori Tiga yang disandang empat tahun lalu.
Ambisi Besar Pemilik dan Warisan Taktis Marco Rose
Miliarder asal Amerika Serikat, Bill Foley, sempat berseloroh menyebut dirinya sebagai "diktator" saat membeli klub hampir empat tahun lalu. Meski demikian, para pendukung sangat mengapresiasi ambisi besarnya. Foley, yang meraih kekayaannya dari bisnis asuransi, dikenal lugas dan berpandangan tajam. Pada tahun 2023, ia berniat membawa Bournemouth berlaga di Eropa dalam kurun waktu lima tahun, dan berhasil mewujudkannya hanya dalam tiga tahun.
Hal serupa pernah ia lakukan pada klub hoki es Vegas Golden Knights, di mana ia berjanji memenangkan Stanley Cup dalam enam tahun sejak didirikan pada 2017, dan janji itu terbukti tepat di musim keenam. Foley, yang akan genap berusia 82 tahun pada Desember mendatang dan kerap membagi waktunya antara California dan Las Vegas, baru-baru ini juga menambah klub kriket/rugby Exeter Chiefs ke dalam portofolio olahraganya yang sudah mencakup Lorient, Auckland FC, dan Moreirense.
Sebagai mantan pemain bertahan, Marco Rose mendapatkan pendidikan kepelatihan dari nama-nama besar seperti Jürgen Klopp dan Thomas Tuchel saat di Mainz, serta Ralf Rangnick di Hannover. Ia kemudian memulai karier pelatihnya di klub kota kelahirannya, Lokomotive Leipzig. Usai membawa timnya promosi ke Bundesliga pada 2004, Klopp pernah meramal bahwa Rose akan sukses besar di dunia kepelatihan. Sejak saat itu, Rose telah menangani banyak bintang dunia, mulai dari Erling Haaland, Jude Bellingham, Dominik Szoboszlai, hingga Dani Olmo.
Karakter melatihnya kerap dibanding-bandingkan dengan Klopp dan Iraola karena menyukai taktik berintensitas tinggi. Pada laga pra-musim, Bournemouth berhasil melibas Genoa dengan skor telak 10-1. Ketika ditanya apakah gayanya akan lebih agresif daripada Iraola, Rose menjawab, "Menurut saya, untuk menjadi lebih agresif dari Andoni adalah hal yang sangat sulit." Menariknya, darah sepak bola Rose mengalir dari sang kakek, Walter Rose, yang pernah membela timnas Jerman pada tahun 1937.
Ketajaman Taktis dan Potensi Para Pemain Muda
Berdasarkan data Opta, Bournemouth mencetak sembilan gol melalui skema serangan balik musim lalu, angka tertinggi di Premier League bersanding dengan tim lain. Namun, ancaman mereka sangat bervariasi. Dalam delapan musim terakhir di kasta teratas, hanya dua kali mereka mampu mencetak gol dari situasi bola mati lebih banyak ketimbang 14 gol yang diukir pada musim 2025-26. Sangat jarang ada tim yang sanggup tampil begitu produktif di kedua lini serangan tersebut sekaligus.
Di lini depan, harapan besar berada di pundak Ben Gannon-Doak. Musim lalu menjadi momen pahit manis bagi pemain berusia 20 tahun tersebut. Ia merayakan kelolosan Skotlandia ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun pada November lalu, namun laga tersebut membatasi penampilannya di tingkat klub. Gannon-Doak terpaksa ditarik keluar pada menit ke-21 dan digantikan oleh Kenny McLean yang menutup kemenangan lewat golnya.
Dibeli seharga £25 juta dari Liverpool Agustus lalu, Gannon-Doak tampil dalam tiga pertandingan Skotlandia di Piala Dunia (dua kali sebagai starter pada laga pertama dan terakhir) serta tampil mengesankan selama pra-musim. Setelah hanya bermain selama 113 menit dari delapan penampilan sebagai pemain pengganti di liga musim lalu, optimisme tinggi membumbung agar Gannon-Doak mampu menunjukkan kualitas aslinya musim ini.
Sementara itu, Rayan mengukir sejarah sebagai pemain remaja asal Brasil pertama yang tampil sebagai starter di laga Piala Dunia sejak Marco Antônio pada 1970, saat dipercaya Carlo Ancelotti mengisi starting XI melawan Skotlandia di Grup C. Pemain yang baru berusia 19 tahun saat dibeli dari Vasco da Gama pada Januari lalu itu memberikan assist bagi gol pembuka Vinícius Júnior dalam kemenangan 3-0, sebelum bertukar jersey dengan Gannon-Doak seusai pertandingan. Di tempat lain, Tyler Adams makin memperkuat reputasinya lewat performa impresif bersama AS hingga menembus babak 16 besar.
Kualitas jajaran staf kepelatihan Bournemouth juga makin solid. Pelatih bola mati baru, Nicolas Gagnon, serta pelatih kiper Frederic de Boever, masing-masing memiliki pengalaman bekerja bersama timnas Kanada dan Belgia. Selain itu, pemanggilan Alex Scott ke dalam pemusatan latihan timnas Inggris bentukan Thomas Tuchel di Florida menjelang Piala Dunia makin menegaskan kapasitas dan reputasi tinggi yang dimiliki gelandang kelahiran Guernsey tersebut.
Sumber: The Guardian
Tidak ada komentar: