Dokumenter Terbaru Ungkap Sisi Kelam Akhir Era Pep Guardiola di Manchester City

Sebuah petunjuk sempat tertangkap kamera beberapa tahun lalu. Saat ditanya apakah ia masih akan menjadi manajer Manchester City dalam lima atau enam tahun mendatang, Pep Guardiola tersenyum dan menjawab, "Sama sekali tidak." Ucapan tersebut terbukti benar. Namun, dalam serial dokumenter terbaru Prime Video berjudul A Beautiful Obsession, sudut pandang terakhir dari dalam ruang ganti City di akhir masa jabatan pelatih asal Katalunya itu memperlihatkan pemandangan yang tak terduga: Manchester City menderita kekalahan hampir setiap minggu, sementara Guardiola tampak emosional dan bingung karena kehilangan kehebatannya. Masa-masa itu menjadi periode perpisahan—beberapa terasa pahit, menyedihkan, mendadak, hingga berlarut-larut.
Salah satu sorotan utama dalam dokumenter ini adalah retaknya hubungan antara Guardiola dan kapten tim, Kyle Walker. Sang manajer menganggap bek kanan tersebut bertanggung jawab atas terciptanya gol-gol lawan, sementara Walker merasa tidak adil jika terus-menerus disalahkan. "Kamu tidak paham, Kyle," seru Guardiola yang frustrasi setelah kekalahan di Anfield pada Desember 2024. Walker pun membalas dengan nada tinggi, "Anda terus menyebut nama saya, di setiap pertemuan dalam setiap hal brengsek ini. Setiap pertemuan brengsek, selalu nama saya yang disebut."
Dua minggu kemudian, dalam laga derby Manchester, Guardiola memperingatkan Walker di babak pertama untuk mewaspadai umpan-umpan lambung ke lini belakang City. Sayangnya, skenario itu benar-benar terjadi dan menghasilkan gol kemenangan Manchester United yang dicetak Amad Diallo. Setelah momen tersebut, Walker hanya bermain tiga kali lagi sebelum kariernya di City berakhir secara mendadak. Bek kanan itu mulai mencari peluang pindah ke luar negeri setelah sang manajer mencoretnya dari skuad utama.
Kekacauan Ruang Ganti dan Keputusasaan Guardiola
Dokumenter ini juga menampilkan gambaran lain dari kehancuran tim. Rodri yang sedang cedera terlihat duduk di ruang ganti mengenakan hoodie bertuliskan “the Untouchables” setelah City menelan kekalahan lainnya. Di momen berbeda, Kevin De Bruyne berjalan masuk ke ruang ganti usai dibantai 0-4 di kandang sendiri oleh Tottenham Hotspur asuhan Ange Postecoglou dan berteriak, "Sangat lembek, kawan-kawan."
Di tengah semua kekacauan itu, ada Guardiola yang tampak bingung menyaksikan tim yang dulunya tak terkalahkan kini memiliki performa layaknya tim papan bawah. "Jika saya yang menjadi masalahnya, kalian harus memberi tahu saya," ratap Guardiola kepada para pemainnya dengan suara bergetar menahan tangis. Setelah pertandingan lain, ia menegaskan, "Buat saya merasakan keberadaan kalian di sini. Ini adalah tim yang sangat bagus, klub yang sangat bagus. Sekarang kita harus berbuat lebih banyak karena kita sedang dalam kekacauan."
Momen paling aneh terjadi usai kekalahan dari Juventus. Guardiola memberi tahu para pemainnya bahwa ia masih mencintai mantan istrinya, Cristina Serra, tetapi rasa cinta dan gairah di antara mereka telah hilang. Apakah Cristina berharap detail pribadi seperti itu diungkapkan dalam pembicaraan tim, sayangnya tidak tersaji dalam dokumenter.
Fokus Pada Sisi Kelam dan Kepergian De Bruyne
Rangkaian fakta ini menjadi pembanding yang sangat kontras dengan dokumenter-dokumenter sepak bola sebelumnya yang cenderung 'disaring', terutama yang diproduksi oleh internal City saat merayakan kesuksesan. Kevin MacDonald, sutradara film The Last King Of Scotland, memahami bahwa ada hal yang jauh lebih menarik saat menyaksikan seorang pemenang sejati menderita kekalahan. City sebenarnya memenangkan 33 pertandingan pada musim 2024-2025, namun 30 di antaranya tidak ditayangkan. Episode pertama dokumenter ini justru berfokus pada keterpurukan City di musim gugur ketika menelan sembilan kekalahan dari 12 laga. Perlu dicatat pula bahwa dalam empat episodenya, dokumenter ini sama sekali tidak menyinggung 115 dakwaan pelanggaran finansial yang dihadapi City.
Meski demikian, ada banyak dinamika lain yang terungkap. Beberapa figur disingkirkan dari drama ini secara brutal, namun ada pula yang diiringi penyesalan mendalam. "Ini membunuh saya," kata Guardiola terkait keputusan untuk melepas Kevin De Bruyne di akhir masa kontraknya. Chief Executive City, Ferran Soriano, menambahkan, "Kevin berbicara dengan Pep dan dia memahami pesannya, tetapi dia sangat sedih. Dia sungguh tidak ingin pergi." Sang gelandang bahkan menegaskan lebih jauh bahwa alasan keluarga menjadi salah satu faktor kuat mengapa ia sebenarnya ingin bertahan di Etihad.

Proses Rekrutmen Rayan Cherki dan Prediksi AI
Usaha untuk merombak skuad City menjadi perhatian utama manajemen. Chairman Khaldoon Al Mubarak mengakui bahwa klub melakukan terlalu sedikit pergerakan di bursa transfer musim panas 2024, sebuah pendekatan yang saat itu disetujui oleh Guardiola. "Kami membayar mahal atas keputusan tersebut," tegas Al Mubarak.
City kemudian membayar 'harganya' dengan cara lain: memboyong lebih banyak pemain baru. Proses rumit mencari pengganti De Bruyne terdokumentasi dengan jelas. City menjalankan 43 parameter pada perangkat lunak analisis mereka untuk mencari calon rekrutan nomor 10 dengan profil serupa. Pilihan akhirnya jatuh pada Rayan Cherki, meskipun ada kekhawatiran terkait kepribadian sang pemain. "Informasi mengenai Cherki kurang positif," ungkap direktur olahraga Hugo Viana. "Ada anggapan bahwa dia sosok yang kacau (chaotic)." Viana dan pendahulunya, Txiki Begiristain, melakukan penyelidikan mendalam dan menemukan bahwa referensi negatif tentang pemain asal Prancis itu hanya berasal dari masa mudanya. Guardiola bahkan melakukan panggilan video langsung dengan Cherki untuk meyakinkannya bergabung.

Namun, bahkan setelah mendatangkan Cherki, indeks kualitas berbasis AI milik City hanya menempatkan mereka di posisi ketiga favorit juara Premier League musim lalu. Perangkat lunak tersebut memprediksi Arsenal sebagai favorit utama, dan analisis komputer itu terbukti akurat.
Detik-detik Akhir Keputusan Pep Guardiola
Musim tersebut akhirnya menjadi tahun terakhir bagi Guardiola. "Saya memiliki energi yang tidak akan saya miliki lagi," aku Guardiola dalam penjelasan penutupnya kepada para pemain. Bahkan sebelum momen itu, terdapat beberapa cuplikan yang memperlihatkan bahwa Guardiola sudah mempertimbangkan untuk mundur sekitar bulan November 2024, tak lama setelah ia menandatangani kontrak terakhirnya.
"Kalah lima, enam, atau tujuh kali berturut-turut, itu tidak pernah terjadi pada saya," ujar Pep. "Saya katakan kepada klub, 'mungkin ini sudah berakhir'."
Meskipun saat itu ia belum benar-benar pergi, Al Mubarak mengaku sudah terbiasa dengan manajernya yang sering merenungkan pengunduran diri. "Pep seperti anak yang berseru ada serigala (bohong)," tutur Al Mubarak. Namun pada akhirnya, City sampai pada titik di mana "kali ini dia benar-benar menjadi serigala itu". Mantan direktur sepak bola Txiki Begiristain menilai Guardiola memang perlu menemukan fase hidup berikutnya. "Dia butuh istirahat dan dia perlu melihat bahwa ada kehidupan setelah sepak bola," ujar mantan rekan setim Pep di Barcelona tersebut. "Jika dia hanya mengenal sepak bola dan orang-orang sepak bola, dia akan terus berada di 'rollercoaster' yang sama." Sebuah nasihat bijak, terutama bila dibandingkan dengan dokumenter rivalnya baru-baru ini yang menampilkan Jose Mourinho sebagai sosok yang tak pernah menemukan kehidupan di luar sepak bola.
A Beautiful Obsession tayang secara eksklusif di Prime Video wilayah Inggris & Irlandia mulai 19 Agustus 2026.
Sumber: The Independent
Tidak ada komentar: