Di Tengah Skandal Kepemilikan dan Ambisi Akuisisi Amanda Staveley, Mampukah West Ham Bangkit?

Klub asal London Timur, West Ham United, resmi kembali berkompetisi di kasta kedua sepak bola Inggris, EFL Championship, setelah absen selama 14 tahun. Namun, degradasi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak ujian yang tengah melanda klub berjuluk The Irons tersebut.
Isu panas yang membakar internal klub sepanjang tahun 2026 adalah saga pengunduran diri David Sullivan dari jabatannya sebagai pimpinan klub (chairman) setelah 16 tahun memegang kendali.
Pada bulan Juni, West Ham mengonfirmasi bahwa mereka telah diberi tahu mengenai publikasi investigasi atas tuduhan skandal masa lalu yang serius. Hal tersebut memicu keputusan Sullivan untuk mengundurkan diri, meskipun miliarder tersebut secara tegas membantah seluruh tuduhan yang diterbitkan dalam investigasi bersama oleh BBC Panorama dan surat kabar The Times.
Investigasi tersebut menguraikan rincian tuduhan bahwa Sullivan telah menyalahgunakan kekuasaannya saat menjadi pemilik tabloid Daily Sport dan Sunday Sport untuk mengeksploitasi wanita muda berusia akhir belasan hingga awal 20-an. Sebanyak tujuh wanita memberikan kesaksian mengenai tuduhan yang membentang selama beberapa dekade, dimulai sejak tahun 1980-an. BBC melaporkan bahwa para wanita tersebut merupakan mantan model muda yang mencari pekerjaan di media milik Sullivan dan menuduhnya melakukan tindakan eksploitasi seksual serta perilaku predator.
Meski sebagian besar pendukung menyambut gembira pengunduran diri Sullivan yang sudah lama dinantikan, sang mantan chairman faktanya belum sepenuhnya pergi dari klub.
Walaupun telah mengundurkan diri dan diperingatkan untuk tidak menghadiri laga kandang tim utama pria musim depan—serta muncul laporan bahwa ia sebelumnya diminta menjauh dari tim wanita dan tim junior (yang dibantahnya)—Sullivan masih menjadi pemegang saham terbesar di West Ham dengan kepemilikan sebesar 38,8 persen.

Perebutan Kekuasaan dan Masuknya Amanda Staveley
Di tengah situasi rumit ini, mantan direktur Newcastle United, Amanda Staveley, hadir memimpin sebuah konsorsium dengan ambisi membeli saham milik Sullivan.
Pekan lalu, Staveley telah menyetujui kesepakatan untuk membeli 25,1 persen saham West Ham dari keluarga almarhum David Gold—mantan pemilik bersama yang wafat pada 2023—dengan nilai investasi mencapai £150 juta.
Namun, langkah Staveley tidak sepenuhnya mulus lantaran mendapat potensi penolakan dari pemilik saham minoritas klub, Daniel Kretinsky. Miliarder asal Ceko tersebut berpeluang besar mengambil peran dalam penentuan arah konflik kekuasaan di jajaran direksi ini.
Keterlibatan Staveley memicu respons emosional yang berimbang dari para pendukung, antara kekhawatiran dan rasa optimisme, yang mencerminkan betapa kompleksnya peluang pemulihan bagi West Ham saat ini.
Momentum Momen "Reset" dan Dukungan Penuh Suporter
Bagi sebagian pendukung klub lain, terdegradasi dari kasta utama mungkin dianggap sebagai kegagalan mutlak. Namun bagi sebagian pendukung West Ham, turun kelas ke Championship justru dinilai sebagai momen reset atau teguran keras yang sangat dibutuhkan untuk menata ulang klub.
Memori keberhasilan pada musim Championship 2011-12 kembali mencuat, saat tim merasakan dominasi kemenangan meski harus melalui fase Play-off yang menegangkan. Menghadapi musim baru ini, West Ham menunjuk Nuno Espirito Santo sebagai manajer—sosok pelatih yang memiliki rekam jejak pernah memenangkan gelar juara Championship sebelumnya.
Antusiasme suporter untuk bangkit terbukti sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penjualan tiket terusan yang mencapai sekitar 50.000 lembar untuk musim mendatang, serta tingginya angka penjualan tiket untuk laga putaran pertama Carabao Cup melawan Portsmouth pada hari Sabtu.
Pergerakan Bursa Transfer dan Kedalaman Skuad
Optimisme di atas lapangan didukung oleh awal bursa transfer yang terbilang menjanjikan. West Ham berhasil memperpanjang kontrak kapten sekaligus penyerang mereka, Jarrod Bowen. Selain itu, klub mengantongi dana segar sebesar £148 juta dari hasil penjualan tiga pemain: Mateus Fernandes, Crysencio Summerville, dan Freddie Potts.
Meski demikian, muncul kekhawatiran terkait minimnya rekrutmen pemain baru. Hingga saat ini, klub baru mendatangkan satu amunisi anyar, yaitu bek Joel Veltman dari Brighton & Hove Albion.
Walau belum banyak mendatangkan pilar baru, pilar-pilar utama dari skuad musim lalu masih bertahan di dalam tim. Di posisi penjaga gawang, Alphonse Areola dan Mads Hermansen tetap terdaftar. Di lini pertahanan, terdapat nama Aaron Wan-Bissaka, Konstantinos Mavropanos, Jean-Clair Todibo, dan Kyle Walker-Peters.
Sektor tengah masih diisi oleh Tomas Soucek dan Edson Alvarez, sementara lini depan diperkuat oleh Taty Castellanos dan Pablo yang siap tampil maksimal menghadapi persaingan kasta kedua.
Beberapa dari pemain tersebut masih berpotensi hengkang sebelum laga pembuka Championship melawan Burnley pada 16 Agustus mendatang. Kendati demikian, potensi penjualan pemain akan menambah suntikan dana untuk rekrutmen sebelum bursa transfer ditutup pada 3 September, atau untuk belanja pada jendela transfer Januari jika performa tim tersendat.
Pihak manajemen klub menegaskan bahwa dinamika dan ketidakpastian di tingkat hierarki pimpinan tidak akan mengganggu aktivitas transfer pemain, meskipun hal tersebut masih harus dibuktikan di lapangan.
Kini, West Ham United kembali berada di dalam ujian besar. Dari proses perombakan ini, The Hammers berpeluang menempa diri menjadi klub yang jauh lebih kuat di masa depan.
Sumber: The Independent
Tidak ada komentar: