Di Balik Kehancuran Aston Villa di Pekan Perdana: 'Isu Nyata' Ollie Watkins dan Krisis Instabilitas Skuad Unai Emery

Pada malam menjelang dimulainya musim baru, John McGinn memberikan imbauan terbuka kepada para pendukung Aston Villa untuk "tetap tenang dan percaya".
Pesan tersebut terasa sangat eksplisit. Ketenangan memang menjadi hal mendasar yang sangat dibutuhkan, namun hal itu justru sirna sepenuhnya pada laga pembuka musim. Sangat bisa dimaklumi. Kebahagiaan luar biasa di Istanbul—tempat di mana para pemain dan suporter menari hingga larut malam usai merengkuh trofi Liga Europa pada Mei lalu—kini mendadak pecah akibat badai perubahan besar sepanjang bursa transfer musim panas.
McGinn, yang menyebut musim ini sebagai "Villa yang baru", menjadi simbol stabilitas di tengah gelombang perubahan yang berhembus kencang di sekelilingnya.
Sayangnya, ketenangan yang ingin dihadirkan McGinn menguap dengan sangat cepat dalam kurun waktu sedikit di atas setengah jam pada laga pertama Liga Premier Inggris musim ini. Awal pertandingan yang bencana membuat mereka tertinggal 4-0 dari Brighton & Hove Albion, dan tak lama kemudian harus bermain dengan 10 orang.

Dalam laga tersebut, McGinn diganjar kartu kuning. Unai Emery terlibat perselisihan sengit dengan Fabian Huerzeler beserta staf kepelatihannya. Joao Gomes, pemain yang baru direkrut musim panas ini, melakukan pelanggaran-pelanggaran keras secara agresif. Seperti yang sudah diperkirakan, ia akhirnya diusir keluar lapangan akibat tindakan kekerasan (violent conduct). Catatan ini membuat Villa menjadi tim kedua dalam sejarah Liga Premier Inggris yang kebobolan empat gol, mendapat kartu merah, dan mencetak gol bunuh diri hanya pada babak pertama pertandingan.
Di luar sosok Emery dan McGinn, skuad Villa saat ini berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Instabilitas mendalam inilah yang menjadi akar penyebab hari pembuka yang sangat ingin mereka lupakan.
Badai Perubahan dan Kekhawatiran Unai Emery
Dalam banyak hal, final Liga Europa merupakan puncak sekaligus akhir dari era pertama Unai Emery di Aston Villa. Puncak gunung telah berhasil didaki, dan bensin di dalam tangki tim mungkin sudah benar-benar habis jika Villa terus mempertahankan kerangka inti pemain yang sama. Pihak klub menyadari bahwa mereka harus melakukan penyegaran skuad pada musim panas ini, namun seperti yang diakui Emery pada hari Jumat, mereka tidak mengira perombakannya akan sejauh ini.
Pada hari Jumat sebelum laga, The Athletic sempat bertanya kepada Emery mengenai seberapa banyak perubahan yang dianggap terlalu berlebihan. Dalam jawaban balasan yang berlangsung hampir dua menit, manajer asal Spanyol tersebut mengulang kata "khawatir" (worried) sebanyak 15 kali. Agar adil, ia menggunakan kata tersebut untuk menjelaskan bahwa dirinya selalu memiliki rasa cemas dan menganggap hal itu wajar dialami oleh seorang manajer.
Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa atmosfer "kekhawatiran" memang sedang menyelimuti klub.
Hampir seluruh pilar utama tim yang tampil sebagai starter melawan Freiburg pada bulan Mei lalu kini menghilang, kecuali satu orang. Pau Torres mengalami sore yang sangat buruk dalam laga ini; ia memberikan bola secara cuma-cuma kepada Maxim De Cuyper yang berujung pada gol pertama Brighton, dan secara praktis mengakhiri perlawanan Villa sejak awal.
Eksodus Pilar Utama dan Masalah Disiplin Internal
Di posisi lain, Emiliano Martinez menghabiskan musim panas keduanya berturut-turut dengan meminta untuk dijual. Ketika permintaannya akhirnya dikabulkan, kepindahannya ke Juventus justru batal di tengah jalan. Villa sendiri sebelumnya telah mengambil langkah antisipasi dengan merekrut Zion Suzuki sebagai penggantinya. Situasi ini membuat Martinez harus berlatih sendirian—sebagian karena ia baru kembali berlatih pada hari Selasa lalu, dan sebagian lagi karena Villa sedang aktif membantunya mencari klub baru. Leon Bailey, pemain senior lainnya di dalam tim, juga berlatih secara terpisah dari skuad utama.

Sektor pertahanan juga keropos setelah Ezri Konsa mengucapkan perpisahan kepada rekan-rekan setimnya pada Rabu pagi sebelum resmi bergabung dengan Arsenal. Di lini tengah, Youri Tielemans memilih hengkang ke Manchester United. Sementara itu, Amadou Onana harus absen panjang akibat cedera ligamen lutut (ACL).
Joao Gomes, yang diproyeksikan sebagai pengganti Tielemans, sebenarnya baru pulih lebih cepat dari jadwal akibat masalah otot betis. Namun, karena minimnya pilihan pemain yang tersedia, ia langsung dipaksa masuk ke dalam starting XI dan berujung pada kartu merah. Emery sempat memeluk Gomes saat ia berjalan gontai menuju lorong stadion. Gomes menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah di babak pertama pada laga debutnya di Liga Premier sejak pemain Queens Park Rangers, Samba Diakite, saat melawan Fulham pada Februari 2012.
Untuk peran pemain nomor 10, kepindahan Morgan Rogers sudah diprediksi sebelumnya, di mana Villa berhasil mengantongi dana segar sebesar £117 juta dari penjualan sang pemain ke Chelsea.
Saga Transfer Ollie Watkins dan Krisis Lini Depan
Pemain terakhir dalam rantai perombakan ini adalah sang penyerang, Ollie Watkins, yang secara teori seharusnya siap dimainkan. Namun, pekan lalu Watkins secara tegas menyatakan keinginannya untuk pergi dan bergabung dengan klub Arab Saudi, Al Hilal. Sikap ini diambil Watkins sebagai respons atas langkah Villa yang menolak empat penawaran berturut-turut dari klub Liga Pro Arab Saudi tersebut. Emery secara terbuka menyebut situasi Watkins sebagai "isu nyata" (real issue).
Villa sebenarnya telah menawarkan perpanjangan kontrak bernilai fantastis kepada Watkins hingga tahun 2030 dan menilai itu adalah penawaran yang sangat bagus untuk pemain seusianya. Namun saat ini, pikiran penyerang berusia 30 tahun tersebut sudah terfokus ke Arab Saudi. Ia pun absen dari skuad dalam laga melawan Brighton dan diketahui tidak ikut berlatih bersama tim dalam beberapa hari terakhir.
"Bicara soal keheningan (silence)," jawab Emery singkat sebelum pertandingan ketika ditanya mengenai situasi Watkins.
“Silence” 🤫
An unusual response from Unai Emery 😅 pic.twitter.com/kWNZtQu3PA
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) August 23, 2026
Ketika The Athletic kembali bertanya seusai pertandingan apakah Emery merasa kecewa atau dikhianati oleh Watkins—setelah sang manajer enggan memperjelas apakah sang pemain menolak untuk bertanding—Emery menegaskan bahwa pertanyaan tersebut "seharusnya ditanyakan langsung kepadanya dan agennya."
Dengan absennya Watkins serta cedera yang menimpa Brian Madjo dan Tammy Abraham, Villa terpaksa memainkan Ross Barkley—seorang gelandang tengah—untuk mendadak berperan sebagai penyerang nomor 9.
Secara ideal, Villa sangat ingin mempertahankan Watkins dan memandangnya sebagai sosok kunci yang mampu menjadi jembatan antar-era kepelatihan Emery. Pihak klub masih menaruh rasa hormat yang tinggi padanya, namun tidak bisa dimungkiri bahwa perselisihan saat ini mulai meretakkan hubungan yang telah terjalin lama. Manajemen percaya fokus Watkins telah terdistraksi dan berharap ia bisa kembali fokus, dengan catatan jika ia akhirnya bertahan.

Proses Regenerasi yang Menyakitkan
Apa yang disaksikan para suporter di markas Brighton adalah dampak nyata ketika struktur pilar utama sebuah tim menghilang secara bersamaan. Hasil akhirnya adalah runtuhnya kekuatan dari dalam.
Musim lalu memang menjadi musim paling sukses bagi Villa dalam satu generasi. Namun di balik raihan trofi dan kelulusan ke Liga Champions, Villa sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan performa. Penampilan tim yang naik-turun mengindikasikan adanya kejenuhan. Beberapa sumber internal klub, yang berbicara secara anonim, sudah lama berpandangan bahwa Villa memang membutuhkan regenerasi. Sebagian berharap proses transisi itu dimulai secara bertahap sejak tahun lalu.
Namun, Emery kala itu memilih untuk mempertahankan kerangka tim inti selama satu tahun lagi. Keputusan tersebut berujung pada kondisi bursa transfer musim panas ini. Meskipun klub merasa puas dengan beberapa rekrutan baru—seperti pemain termahal klub Johan Manzambi yang sayangnya sedang cedera—proses evolusi ini terjadi secara mendadak. Rasanya jauh lebih menyakitkan, layaknya mencabut plester luka secara paksa.
Villa sendiri sebenarnya tidak memulai musim lalu dengan baik, di mana mereka gagal mencetak gol dalam empat pertandingan pertama saat dinamika bursa transfer belum memberikan kepastian. Namun dengan banyaknya pilar yang pergi musim ini, dampaknya terasa jauh lebih parah.

Pertandingan melawan Brighton menjadi laga yang sama sekali tidak siap dihadapi oleh Villa. Sebelum kekalahan melanda, para pendukung Villa sebenarnya sangat antusias menyambut iterasi kedua tim di bawah Emery. Dalam survei tingkat optimisme ("hope-o-meter") yang dilakukan The Athletic, pendukung Villa menempati urutan kedua sebagai fans paling optimistis. Namun, data itu diambil sebelum Ezri Konsa hengkang dan sebelum niat pergi Ollie Watkins terkuak ke publik. Meski sisa-sisa antusiasme mungkin masih ada, perasaan yang mendominasi saat ini adalah kecemasan, sekalipun Villa diprediksi akan mendatangkan amunisi baru dan tampil berbeda setelah tenggat bursa transfer ditutup.
Ketika pertandingan berakhir dengan skor 4-0 dan Villa hanya bisa menunggu laga usai—tanpa mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran, serta salah satu pemain bahkan sempat bertanya kepada wasit keempat bagaimana bisa ada tambahan waktu lima menit—gema nama Unai Emery tetap dinyanyikan dengan lantang oleh para suporter di tribun tandang.
Emery, bersama kapten John McGinn, kini menjadi dua pilar utama yang tersisa untuk menopang klub di tengah badai musim panas yang terus memicu ketidakpastian.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: