Debut Dramatis Enzo Maresca: Manchester City Berhasil Comeback di Tengah Eksperimen

Josko Gvardiol merayakan gol penentu kemenangan Manchester City saat menghadapi Bournemouth. (Foto: Michael Steele/Getty Images)
Era kepelatihan Enzo Maresca di Manchester City diwarnai situasi dramatis pada laga perdana Liga Premier Inggris. Sempat tertinggal hingga mendekati akhir laga, The Citizens berhasil membalikkan keadaan dalam enam menit terakhir untuk mengamankan kemenangan 2-1 atas Bournemouth pada hari Minggu.
Keputusan susunan pemain pertama Maresca di kompetisi domestik ini menghadirkan kejutan. Rico Lewis dipercaya mengisi posisi bek kanan, sementara bek tengah Marc Guehi dipasang di lini tengah mendampingi pemain debutan Elliot Anderson. Namun, skema ini sempat menyisakan celah di pertengahan babak pertama. Memanfaatkan koordinasi pertahanan City yang kurang solid, umpan silang Evanilson berhasil disambar Marcus Tavernier di tiang jauh untuk membawa Bournemouth unggul lebih dulu.
Pada awal babak kedua, Marc Guehi membuang peluang emas untuk menyamakan kedudukan. Menerima umpan dari situasi sepak pojok, sundulannya justru menyamping meski gawang Bournemouth sudah kosong ditinggal kiper. Peluang tersebut mencatatkan angka 0,77 expected goals (xG)—menunjukkan betapa besarnya kans tersebut untuk menjadi gol. Bournemouth yang dilatih Marco Rose memilih bertahan total guna meredam tekanan tuan rumah. Upaya City berulang kali dipatahkan kiper Djordje Petrovic, sebelum Guehi akhirnya menebus kesalahannya melalui sundulan tajam memanfaatkan sepak pojok untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Di masa injury time, Manchester City memastikan kemenangan dramatis lewat gol Josko Gvardiol yang menerima umpan terobosan dari pemain pengganti, Rayan Cherki. Gol tersebut sempat dianulir karena hakim garis mengangkat bendera offside, namun tayangan ulang mengonfirmasi bahwa posisi Gvardiol sah karena terperangkap oleh pergerakan bek Bournemouth, James Hill.
Berikut adalah analisis mendalam terkait pertandingan ini dari koresponden Manchester City untuk The Athletic, Sam Lee.

Masalah Lama yang Kembali Muncul dan Celah Taktis
Pertandingan ini sempat memperlihatkan pola serupa yang sering dialami Manchester City pada masa-masa sulit era Pep Guardiola: tampil mendominasi, membuang banyak peluang, namun rentan terkena serangan balik cepat lawan.
Secara taktis, keputusan mendorong bek kiri Josko Gvardiol untuk melakukan peragaan pressing tinggi sering kali menyisakan masalah. Ketika Gvardiol gagal merebut bola, lini belakang City menjadi kekurangan jumlah pemain. Situasi ini memaksa Rico Lewis bergeser ke dalam untuk membentuk tiga bek sejajar, yang pada prosesnya meninggalkan area kosong di sisi kanan. Celah inilah yang dimanfaatkan Bournemouth untuk menciptakan ancaman, termasuk tembakan Justin Kluivert dan gol pembuka dari Tavernier.
Terlepas dari momen-momen yang mengkhawatirkan di lini pertahanan tersebut, performa umum Manchester City sebenarnya tampil cukup baik sepanjang pertandingan.
Kebutuhan Mendesak Amunisi Baru
Pertandingan ini menegaskan bahwa City masih membutuhkan tambahan tenaga baru di posisi gelandang dan pemain sayap. Penempatan bek tengah Marc Guehi di lini tengah, serta seringnya Phil Foden dan Rico Lewis kalah adu fisik di sisi kanan, menjadi bukti kuat perlunya perekrutan pemain anyar.

Di lini depan, Erling Haaland seharusnya bisa membawa City unggul 1-0 di awal laga. Setelah kegagalan Guehi yang bernilai xG tinggi, Haaland kembali mendapatkan dua peluang bagus dalam 20 menit terakhir pertandingan namun gagal memanfaatkannya.

Peluang terus tercipta bagi tuan rumah. Meski City sempat lengah pada babak pertama, ancaman dari Bournemouth secara bertahap mereda. Sepanjang babak kedua, tim asuhan Marco Rose praktis hampir tidak memberikan ancaman berarti ke gawang City.
Kemenangan City mungkin tidak diraih dengan cara yang meyakinkan, namun secara keseluruhan hasil ini pantas mereka dapatkan. Gol di detik-detik akhir berhasil meredam potensi isu krisis awal musim sekaligus memberikan momentum positif bagi era kepelatihan Maresca.
Peran dan Evaluasi Penampilan Marc Guehi
Meskipun menempatkan Guehi di tengah bukan solusi jangka panjang yang meyakinkan City bahwa mereka tidak butuh gelandang baru, penampilan pemain internasional Inggris tersebut terbilang mengesankan di posisi asing tersebut.
Di luar gol penyeimbang yang diencetaknya, Guehi berulang kali berhasil merebut kembali penguasaan bola dan menyelesaikan situasi rumit di lini tengah. Meski bukan posisi alaminya dan lebih banyak mengandalkan operan-operan aman, Guehi sama sekali tidak terlihat canggung.
Performa Guehi diwarnai oleh dua momen sundulan dari situasi sepak pojok: yang pertama adalah peluang emas yang terbuang, dan yang kedua adalah gol penyama kedudukan yang amat krusial.
Dalam situasi permainan terbuka (open play), Guehi tampil apik, termasuk melakukan akselerasi hingga ke garis akhir lapangan (byline) untuk menyodorkan umpan matang kepada Haaland 15 menit sebelum laga usai. Kendati demikian, kualitasnya dibanding mantan bintang City seperti Rodri dan Bernardo Silva—atau target transfer klub seperti Enzo Fernandez dan Adam Wharton—masih terlihat memiliki jarak yang cukup jauh.

Opsi terbaik bagi City tetaplah mendatangkan gelandang baru dan mengembalikan Guehi ke posisi aslinya di lini pertahanan, terlebih karena bek tengah Ruben Dias tampak masih mengalami kesulitan saat menguasai bola.
Sinyal Kepada Manajemen dan Pergerakan Bursa Transfer
Eksperimen memainkan Guehi di lini tengah menimbulkan spekulasi: apakah ini bentuk 'pesan terbuka' dari Maresca kepada manajemen klub?
Maresca tampaknya memiliki kecenderungan melakukan hal tersebut. Di bangku cadangan, masih terdapat nama Nico Gonzalez dan Mateo Kovacic. Selain itu, Rico Lewis yang dipasang di posisi bek kanan sebenarnya merupakan opsi yang lebih alami jika ingin digeser ke tengah ketimbang Guehi.
Terlepas dari motif tersebut, pergerakan transfer Manchester City kini semakin intensif. Sebelum laga dimulai, muncul kabar bahwa City telah mencapai kesepakatan untuk memboyong target lamanya, Ayyoub Bouaddi dari Lille. Meski demikian, City tetap memerlukan setidaknya satu gelandang lagi sebelum jendela transfer ditutup. Jika Omar Marmoush benar-benar hengkang, mereka diperkirakan membutuhkan setidaknya dua pemain depan baru. Pemain sayap berusia 22 tahun milik Palmeiras, Allan, menjadi salah satu target, walau ia diprediksi butuh waktu untuk beradaptasi jika City berhasil membujuk Palmeiras melepasnya saat ini.
Sementara itu, Jack Grealish baru dimasukkan menjelang akhir pertandingan—pola yang sama seperti saat ia tampil pada babak kedua melawan Arsenal di Community Shield pekan lalu. Grealish diperkirakan akan meninggalkan klub sebelum bursa transfer resmi ditutup.
Berita kesepakatan Bouaddi dan kemenangan dramatis ini berhasil mengubah atmosfer klub secara drastis setelah pekan yang penuh ketegangan, di mana banyak fans sempat mengkhawatirkan arah kebijakan klub. Hasil ini memberi ketenangan bagi internal tim, walau masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan manajemen sebelum jendela transfer resmi berakhir.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: