random

Kepindahan Maxence Lacroix ke Chelsea Senilai £52 Juta: Langkah Taktis Tambal Rapuhnya Pertahanan dan Pergeseran Era BlueCo

Kepindahan Maxence Lacroix ke Chelsea Senilai £52 Juta: Langkah Taktis Tambal Rapuhnya Pertahanan dan Pergeseran Era BlueCo

Proses kepindahan Maxence Lacroix ke Stamford Bridge mungkin tidak dapat dikategorikan sebagai perekrutan paling gemerlap atau berbiaya fantastis jika dibandingkan dengan beberapa pergerakan belanja Chelsea sebelumnya. Kendati demikian, kesepakatan bernilai £52 juta (sekitar 69,2 juta Dolar AS) untuk memboyong bek tengah asal Prancis tersebut dari Crystal Palace merupakan salah satu momen paling krusial dan patut disorot dalam era kepemilikan BlueCo.


Langkah ini menandai kali pertama sejak jendela transfer musim panas 2022 di mana Chelsea secara penuh bersedia membayar biaya transfer untuk seorang pemain yang telah berusia 26 tahun atau lebih. Angka £52 juta adalah pengeluaran yang sangat signifikan, sekaligus menjadi bukti nyata adanya pergeseran pendekatan strategis di jajaran manajemen klub. Terdapat kesadaran baru di Stamford Bridge untuk mulai berinvestasi pada kematangan dan pengalaman guna menyeimbangkan kedalaman skuad yang selama ini didominasi oleh deretan pemain muda.

Pergeseran Strategi Transfer BlueCo dan Latar Belakang Krisis Bek Tengah

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa Chelsea secara spesifik membidik Maxence Lacroix?


Berdasarkan laporan The Athletic pada 23 Juni, bek berpaspor Prancis itu telah lama masuk dalam daftar target utama klub. Bahkan, sejak edisi awal lembar rumor transfer musim panas pada 2 Juni, kebutuhan Chelsea akan sesosok bek tengah baru sudah terpeta jelas.


Kebutuhan ini sejatinya tergolong unik sekaligus kontradiktif jika melihat struktur skuad yang ada. Chelsea sebenarnya telah memiliki sekitar delapan hingga 10 bek tengah senior di dalam daftar kontrak mereka, tergantung bagaimana posisi Jorrel Hato dan Josh Acheampong dikategorikan dalam skema tim utama.


Sebagai pembanding, pada musim panas lalu, ketika Levi Colwill mengalami cedera ligamen lutut (ACL) pada masa pramusim, pelatih saat itu, Enzo Maresca, secara tegas diinstruksikan oleh pihak manajemen bahwa tidak akan ada pembelian bek tengah baru. Maresca diminta untuk memaksimalkan solusi internal yang sudah tersedia.


Namun, dinamika tersebut kini telah berubah total pascaevaluasi performa musim lalu. Sepanjang kampanye kompetisi terakhir, lini belakang Chelsea terlalu sering terlihat rapuh, kurang berdisiplin, dan kehilangan stabilitas mendasar. Lini pertahanan The Blues dinilai sangat minim ketenangan (composure) serta kerap kalah dalam adu fisik melawan penyerang lawan.


Kembalinya Levi Colwill dalam kondisi bugar secara penuh tentu akan memberikan dampak besar. Namun, keputusan klub untuk menggelontorkan dana besar demi Maxence Lacroix menunjukkan komitmen manajemen untuk membenahi celah-celah struktural tersebut secara permanen.

Profil Kepemimpinan dan Ketangguhan Fisik Maxence Lacroix

Aspek pertama yang membuat Lacroix begitu bernilai adalah jiwa kepemimpinannya. Di Crystal Palace, Lacroix berkembang pesat menjadi sosok pemimpin di dalam maupun luar lapangan, sebuah kualitas yang sangat langka di dalam skuad muda Chelsea musim lalu. Komitmen tinggi yang ditunjukkannya membuat Lacroix sangat dicintai oleh rekan setim, para pendukung, hingga staf pelatih Palace.


Sebelum merumput di Inggris, ia juga dipercaya menjabat sebagai wakil kapten di klub lamanya, Wolfsburg. Kematangan ini ditempa melalui konsistensi penampilan bertaraf tinggi. Musim lalu, Lacroix mencatatkan 55 penampilan untuk Crystal Palace di seluruh kompetisi, dan seluruh laga tersebut dilakoninya sebagai starter. Pengalaman bertanding secara intensif serta memikul tanggung jawab penuh setiap pekannya merupakan aset yang sangat dibutuhkan ruang ganti Stamford Bridge.


Selain faktor kepemimpinan, atribut fisik Lacroix yang terukur secara statistik juga menjawab kelemahan mendasar Chelsea. Dengan postur setinggi 190 cm (6 kaki 2 inci), ketahanan fisiknya menjadi salah satu keunggulan utama.


Chelsea tercatat kerap kesulitan mengantisipasi situasi bola mati (set pieces) dan sering kalah dalam duel satu lawan satu (one-v-one duels). Fisik tangguh pemain internasional Prancis ini memungkinkannya mempertahankan posisi sekaligus memenangkan perebutan bola-bola panjang saat berhadapan langsung dengan striker lawan.


Berdasarkan data Squawka, hanya ada enam pemain di seluruh kompetisi Premier League musim lalu yang mampu mencatatkan kemenangan duel udara lebih banyak daripada Lacroix. Tak hanya itu, analisis kinerja pada April lalu juga mengonfirmasi bahwa ia merupakan salah satu pemain terbaik di Liga Inggris dalam melakukan sentuhan pertama (first contact) untuk mengantisipasi lemparan ke dalam jarak jauh (long throws). Sebagian besar aksi bertahan tersebut berhasil ia lakukan di dalam area penalti timnya sendiri.

Kesesuaian Taktis dalam Skema 3-4-2-1 Xabi Alonso

Dari sudut pandang taktis, kedatangan manajer baru, Xabi Alonso, berpotensi besar memaksimalkan potensi penuh Maxence Lacroix. Jika Alonso menerapkan formasi dasar 3-4-2-1 yang memberinya kesuksesan luar biasa bersama Bayer Leverkusen, maka Lacroix merupakan profil yang sangat ideal untuk mengisi posisi bek tengah dalam tiga bek sejajar (middle of the back three).


Posisi tersebut hampir selalu diperankannya selama dua musim terakhir bersama Crystal Palace. Dalam peran itu, Lacroix bertindak sebagai penjangkar (anchor) sekaligus sweeper yang menjaga keseimbangan lini pertahanan.


Meski demikian, data statistik gaya bermain (playstyle chart) menunjukkan bahwa Lacroix bukanlah tipe bek tengah yang terbiasa membangun serangan dari belakang secara dominan (ball-playing centre-back). Akurasi umpannya saat berada di bawah tekanan lawan (pass completion under pressure) berada di angka 81 persen. Angka tersebut tergolong rata-rata untuk ukuran bek tengah Premier League. Ia menempati peringkat ke-30 dari 65 bek tengah yang bermain minimal 900 menit pada musim lalu.


Karena itu, pemanfaatan terbaik Lacroix bukanlah sebagai pengatur awal serangan (build-up), melainkan sebagai benteng pertahanan terakhir. Dengan menempatkannya sebagai bek yang berdiri paling belakang, Chelsea dapat memberikan kebebasan lebih kepada bek di sisi kiri, seperti Levi Colwill, maupun bek di sisi kanan, seperti Wesley Fofana atau Trevoh Chalobah, untuk lebih aktif membantu penguasaan bola dan membangun serangan.


Dalam skema tersebut, Lacroix bertindak sebagai spare man yang siap memotong ancaman melalui tekel dan intersepsi ketika tim menerapkan pertahanan proaktif (front-foot defending). Di sisi lain, ia juga sigap mundur untuk mengamankan area penalti melalui sapuan (clearances) dan blok (blocks) saat dibutuhkan.


Kecepatan pemulihan posisi (recovery pace) yang impresif, dipadukan dengan kemampuan melakukan tekel secara akurat, menjadikannya sosok yang ideal untuk menutup kesalahan rekan setim maupun mengoreksi kesalahannya sendiri.

Kelemahan, Tantangan Adaptasi, dan Efek Domino Skuad Chelsea

Kendati memiliki atribut fisik dan kemampuan bertahan yang menonjol, Lacroix bukanlah pemain yang sepenuhnya bebas dari kesalahan. Ia terkadang mengalami penurunan konsentrasi atau mengambil keputusan yang kurang tepat pada momen-momen krusial.


Salah satu contoh terlihat dalam laga dramatis perebutan tempat ketiga Piala Dunia antara Prancis dan Inggris yang berakhir dengan skor 6-4. Dalam pertandingan tersebut, Lacroix sebenarnya mampu menggunakan kecepatannya untuk mengimbangi pergerakan Bukayo Saka dalam situasi recovery sprint jarak jauh dan telah menempatkan dirinya pada posisi ideal untuk melakukan blok. Namun, pada detik-detik terakhir, ia justru melakukan kesalahan posisi yang memberi Saka ruang tembak tanpa tekanan.


Proses adaptasi di Stamford Bridge juga dipastikan tidak akan berlangsung secara instan. Chelsea menerapkan gaya bermain yang lebih menitikberatkan pada penguasaan bola (possession-based) serta garis pertahanan tinggi (high line). Konsekuensinya, akan tersedia ruang kosong yang lebih luas di belakang lini pertahanan dibandingkan situasi yang biasa dihadapinya bersama Crystal Palace.


Keinginannya untuk selalu maju memotong bola (step up into duels) harus dilakukan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun berpotensi membuka ruang di belakang garis pertahanan Chelsea, celah yang pada musim lalu berkali-kali dimanfaatkan lawan melalui skema serangan balik cepat.


Selain itu, Lacroix juga dituntut beradaptasi dengan filosofi permainan berbasis penguasaan bola. Tingginya jumlah clearances yang ia catatkan memang menunjukkan etos kerja bertahannya yang luar biasa. Namun, di sisi lain, statistik tersebut juga mencerminkan tingkat retensi bola yang masih perlu ditingkatkan agar ia mampu berkontribusi lebih besar dalam membangun serangan dari lini belakang secara sabar dan terstruktur.


Kedatangan Lacroix secara otomatis mengubah peta persaingan di lini belakang Chelsea.

  • Levi Colwill diproyeksikan bergeser ke posisi bek tengah sebelah kiri. Sebelum transfer ini, Colwill diperkirakan akan mengisi posisi bek tengah dalam skema tiga bek sekaligus menjadi pengatur tempo serangan dari belakang. Namun, kehadiran Lacroix yang lebih terbiasa memainkan peran tersebut membuat Colwill berpotensi menempati sisi kiri. Posisi ini justru dinilai lebih sesuai karena memberinya keleluasaan untuk maju ke lini tengah dan memaksimalkan kemampuan operan progresif (line-breaking passing).
  • Jorrel Hato berpotensi lebih sering dimainkan sebagai bek sayap (wing-back), terutama setelah kepindahan Marc Cucurella.
  • Masa depan bek-bek lain juga menjadi sorotan. Penambahan Lacroix menimbulkan tanda tanya mengenai menit bermain sejumlah pemain senior seperti Benoit Badiashile, Tosin Adarabioyo, Wesley Fofana, Mamadou Sarr, hingga Trevoh Chalobah yang saat ini dikabarkan tengah diminati secara serius oleh klub Italia, Como.

Secara keseluruhan, Maxence Lacroix bukanlah solusi instan yang serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan di lini pertahanan Chelsea. Namun, kombinasi pengalaman, ketangguhan fisik, kecepatan, dan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya diharapkan mampu menjadi fondasi yang jauh lebih stabil bagi proyek taktis Chelsea di bawah arahan Xabi Alonso.

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.