Makin Cepat Millwall ke Premier League Makin Baik: Mengapa Semua Orang Harus Merasakan Atmosfer Gila 'The Den'

The Den adalah tempat yang sungguh luar biasa untuk menyaksikan pertandingan sepak bola. Saya membayangkan, stadion ini juga merupakan tempat yang sangat hebat untuk bertanding bagi para pemain.
Atmosfer di sini terasa seperti klub sepak bola bertema pub beratap datar akhir tahun 90-an yang disutradarai oleh Guy Ritchie, lengkap dengan latar lagu 'The Riverboat Song' milik Ocean Colour Scene.
Tidak ada tempat lain di sepak bola Inggris di mana Anda kemungkinan besar akan mendengar nyanyian serentak "Lino, you’re a c***" (mengumpat hakim garis) bergema di babak pertama… dan itu dinyanyikan langsung dari 'Family Stand' (Tribun Keluarga).

Hampir tidak ada stadion lain di sepak bola Inggris di mana Anda berjalan menembus kerumunan suporter sebelum kick-off dan bertanya-tanya, "Apakah semua orang di sini berada di dalam grup WhatsApp yang sama bernama 'Baju apa yang kita pakai ke pertandingan'?"
Pekikan atau nyanyian "MILLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL"—jika itu bisa disebut nyanyian, atau lebih tepatnya 'teriakan pemberontak'—adalah gempuran nyata bagi gendang telinga, meskipun jumlah penonton yang hadir di dalam stadion kurang dari 20.000 orang.

Identitas Pekerja Keras dan Karakter Unik
Di luar stadion, berdiri sebuah bus tua bergaya klasik London yang telah dipensiunkan dan dicat warna biru kerajaan (royal blue). Bus tersebut menyajikan bir Spitfire ale. Di lapangan, mereka memiliki seorang bek tengah setinggi 6 kaki 6 inci (sekitar 198 cm) yang bermain persis seperti yang Anda bayangkan untuk postur seukurannya. Bahkan mitra komersial mereka adalah sponsor khas kelas pekerja: Selhurst Timber and Builder's Merchants, serta Masons Scaffolding—melihatnya saja sudah membuat jemari terasa gatal terkena serpihan kayu.
Gedung-gedung pencakar langit Canary Wharf terlihat jelas berdiri di atas Dockers Stand, dan para pemain di lapangan sangat menyukai tekel-tekel keras.
Saya memang tidak datang ke The Den setiap minggu, namun saya berani bertaruh bahwa pria yang duduk di sebelah kotak pers dan terus-menerus berteriak "They are f***ing pony" (mereka sangat buruk)—dengan frekuensi yang teratur seperti jadwal kereta jalur London Bridge ke South Bermondsey—adalah warga lokal dan penonton setia di sana.
Banyak tim—seperti Leeds United, Everton, dan Newcastle United—mungkin mengklaim bahwa mereka mendekati karakter keras ala Millwall. Namun, karakter asli Millwall inilah yang sebenarnya hilang dari Premier League saat ini, dan itu menjadi sebuah kerugian bagi kompetisi kasta teratas tersebut.
Ketidakramahan yang Menjadi Daya Tarik Utama
Saya tahu apa yang Anda pikirkan: 'Bukankah peraih penghargaan EFL Family Club of the Year 2017 ini kini jauh lebih ramah dibandingkan masa lalu?' Asumsi tersebut tentu tidak salah. Tidak ada hal yang benar-benar sama seperti dulu. Namun, tidak seperti stadion lain atau beberapa rival terdekat Millwall, mereka setidaknya masih mempertahankan sebagian dari kesan "horor" dan tidak ramah tersebut.
Di era di mana sepak bola menjadi kian dipoles, mulus, dan terkorporatisasi, sangat menyegarkan bisa mengunjungi stadion di mana semuanya terasa otentik. Menonton dari dalam ruang executive box di The Den justru terasa salah dan membuang-buang uang. Membayar lebih mahal hanya untuk melewatkan pengalaman penuh stadion? Tidak, terima kasih.

Bahkan ruang persnya pun—dengan langit-langit rendah, manekin torso yang terbuang, serta karpet lusuh mirip pub Wetherspoons dengan rajutan huruf 'MFC' pada kainnya—terlihat seperti latar dalam serial komedi 'The Office' karya Ricky Gervais dan Stephen Merchant.
Peluang Promosi dan Perjuangan Musim Ini
The Lions sebenarnya hampir meraih promosi musim lalu. Sayangnya, mereka harus kalah di babak play-off Championship dari Hull City yang akhirnya keluar sebagai pemenang dan promosi. Musim ini, mereka telah kehilangan pemain bintang Femi Azeez dan sempat dihajar kekalahan telak 5-1 oleh Southampton, sehingga langkah musim ini mungkin tidak akan semulus musim lalu.
Meskipun demikian, dengan format enam tim yang kini masuk dalam zona play-off, ditambah performa Millwall yang mampu memberikan perlawanan sengit kepada skuad Newcastle United yang turun dengan kekuatan penuh di Carabao Cup, peluang mereka untuk lolos tetap terbuka lebar.
Sumber: FourFourTwo
Tidak ada komentar: