Deretan Talenta Muda Calon Bintang Premier League Musim Ini: Analisis Klub dan Statistik

Setiap musimnya, Premier League selalu melahirkan deretan pemain muda berbakat. Siapa sajakah yang diprediksi bakal unjuk gigi dan mencatatkan namanya di panggung tertinggi kompetisi musim ini?
Arsenal: Salmon
Nama Dowman mungkin sudah sering terdengar, jadi fokus kali ini dialihkan kepada pemain yang usianya empat bulan lebih tua darinya. Sama seperti ikan dengan nama serupa, Salmon melonjak naik dengan sangat cepat. Bek ini menjadi pemain termuda keempat yang mewakili Arsenal musim lalu ketika masuk dari bangku cadangan melawan Club Brugge di Liga Champions pada bulan Desember, tepat di usianya yang baru 16 tahun 102 hari.
Salmon mencatatkan empat penampilan untuk tim utama musim lalu, sekaligus tampil 14 kali untuk tim Under-21 di Premier League 2 (PL2). Ia memenangkan 71,8% duel di PL2 (56 dari 78); di antara bek yang terlibat setidaknya 50 duel, hanya dua pemain yang memiliki tingkat keberhasilan lebih baik. Salmon—yang bisa beroperasi sebagai bek kanan maupun bek tengah—telah menandatangani pra-kesepakatan untuk mengikat masa depannya di klub saat genap berusia 17 tahun akhir bulan ini. Tak akan mengejutkan jika Mikel Arteta memberikan lebih banyak kesempatan baginya.

Aston Villa: Madjo
Aston Villa merekrut Madjo dari Metz pada Januari lalu dengan nilai transfer sekitar £10,5 juta, namun belum bisa mendaftarkannya saat itu. Kini ia sudah siap tampil dan terlibat secara reguler selama pramusim. Pergerakan dan kekuatan penyerang tengah bertubuh jangkung berusia 17 tahun ini mengingatkan publik pada sosok Erling Haaland.
Ia tampil mencuri perhatian dalam laga-laga persahabatan Villa baru-baru ini dengan mencetak empat gol. Pramusim memang memiliki bobot penilaian tersendiri, namun torehan gol menghadapi lawan yang ada di depan mata tetap sebuah pembuktian positif.
Bournemouth: Milosavljevic
Sepeninggal Marcos Senesi, Bournemouth memiliki pos kosong di jantung pertahanan dan Milosavljevic bisa menjadi sosok yang mengisinya. Milosavljevic bergabung dengan klub musim panas lalu dari Red Star Belgrade. Meski belum banyak tampil dengan hanya mengemas tujuh penampilan di semua kompetisi, bek berusia 19 tahun ini jelas merupakan talenta bertahan yang sangat menjanjikan.
Ia mencatatkan sapuan (clearance) terbanyak dibandingkan pemain Bournemouth mana pun pada laga debutnya di Premier League September lalu, sebelum akhirnya melakoni debut bersama tim nasional senior Serbia pada Oktober. Manajer Marco Rose mungkin menginginkan lebih banyak pengalaman di posisi bek tengah, mengingat mudanya usia beberapa bek Bournemouth lainnya, namun Milosavljevic bertekad mengambil langkah besar musim ini.
Brentford: Milambo
Milambo mengawali kariernya di sepak bola Inggris dengan situasi sulit musim lalu. Direkrut dari Feyenoord dengan nilai transfer sekitar £21 juta tahun lalu, ia mengalami cedera ACL yang mengakhiri musimnya saat membela tim nasional pada bulan Oktober. Hambatan tersebut jelas memukul kondisinya, tetapi ia optimistis dapat menembus skema permainan Keith Andrews musim ini.
Ia menjadi pemain termuda dalam sejarah Feyenoord pada tahun 2021 saat melakoni debut di usia 16 tahun. Milambo mulai mencuri perhatian pada musim 2024-25 sebagai gelandang box-to-box berjiwa menyerang yang dibekali teknik mumpuni serta ancaman nyata di lini depan. Tidak ada pemain Eredivisie lain di bawah usia 21 tahun yang melampaui catatannya dengan 14 keterlibatan gol di semua kompetisi pada musim tersebut. Ia dapat menjadi aset dinamis bagi lini tengah yang tengah dibangun Andrews.

Brighton: Yohanna
Yohanna membutuhkan sedikit kesabaran karena permainannya masih terhitung mentah, namun jika diberi kesempatan di Brighton musim ini, ia bakal menarik perhatian luas. Pemain asal Nigeria berusia 19 tahun ini diboyong dari AIK dengan nilai transfer sekitar £21,5 juta—rekor penjualan termahal dalam sejarah sepak bola Swedia—meski baru tampil dalam 13 laga liga untuk klub tersebut. Catatan itu cukup untuk meyakinkan Brighton yang terkesan dengan gaya bermain lugas dan keberaniannya dalam mendribel bola.
Sebagai pemain sayap berkaki kiri yang beroperasi di sisi kanan serangan, Yohanna mencatatkan percobaan dribel per 90 menit lebih banyak dibandingkan pemain mana pun di Allsvenskan tahun ini sebelum kepindahannya dipastikan pada Juni. Ia juga membukukan take-on terbanyak saat menusuk ke dalam kotak penalti (6), take-on di dalam kotak penalti (15), serta jumlah terbanyak bersama untuk take-on yang dilanjutkan dengan tembakan (3), meskipun menit bermainnya jauh lebih sedikit dibanding pemain lain. Hasil akhr permainannya memang masih butuh pembenahan, namun aksinya dipastikan mampu menghibur penonton.
Chelsea: Reggie Watson
Chelsea selalu memiliki rantai pasokan talenta muda yang mengantre kesempatan, meski banyak di antaranya yang tenggelam dalam persaingan. Namun, setelah kehilangan Rio Ngumoha ke Liverpool beberapa tahun lalu, klub tampak berupaya lebih keras untuk mempertahankan talenta lokal potensial mereka, dan salah satu yang sangat ingin mereka pertahankan adalah Reggie Watson.
Berposisi sebagai gelandang bertahan berpostur tinggi, Watson (16 tahun) memiliki atribut fisik yang mengesankan sekaligus rapi dalam menguasai bola. Ia memiliki kesadaran ruang yang baik dan bermain dengan kepribadian matang untuk usianya. Sangat mudah memahami mengapa ia mulai dibandingkan secara tipis dengan Rodri.
Xabi Alonso juga sempat mengutarakan kekagumannya terhadap dampak yang ditunjukkan Watson selama pramusim. Mengingat ketidakpastian di lini tengah lain—seperti masalah kebugaran Roméo Lavia dan Dário Essugo—Watson berpeluang mendapatkan menit bermain musim ini.
Coventry City: Andrews
Mengingat misi utama Coventry City adalah bertahan hidup di kompetisi, memberikan menit bermain untuk pemain muda mungkin bukan prioritas utama Frank Lampard. Namun, ada satu pemain muda yang berpotensi menembus rencana Lampard: Andrews. Gelandang berusia 19 tahun ini mencatatkan 10 penampilan untuk Coventry musim lalu sebelum dipinjamkan ke Hibernian.
Meskipun gagal memberikan dampak besar di Skotlandia, Andrews menutup kampanye musimnya dengan manis saat melakoni laga starter pertamanya untuk timnas Wales dalam laga persahabatan melawan Rumania. Ia tampil apik pada laga tersebut dengan membuat sembilan umpan di sepertiga lapangan akhir (terbanyak ketiga di antara seluruh pemain) dan memenangkan dua pelanggaran. Andrews kini harus memutuskan apakah akan bertahan di Coventry untuk memperbutkan posisi atau kembali dipinjamkan demi menit bermain reguler.
Crystal Palace: Drakes-Thomas
Drakes-Thomas menjadi pemain Premier League termuda dalam sejarah Crystal Palace musim lalu dan berharap dapat memainkan peran lebih menonjol pada kampanye kali ini. Pemain sayap ini melakoni debutnya bersama Palace di Conference League saat baru berusia 16 tahun dan tampil menonjol melawan klub asal Finlandia, KuPS. Ia melepaskan tujuh umpan silang selama pertandingan (terbanyak dibanding pemain lain) dan menciptakan dua peluang (terbanyak bersama).
Penunjukan Pierre Sage menandai dimulainya era baru di Selhurst Park, dan Drakes-Thomas memiliki kapasitas untuk menjadi figur kunci dari setiap kesuksesan klub di masa depan.
Everton: George
George memperlihatkan potensi menjanjikan di Chelsea, tetapi bulan-bulan pertamanya di Everton setelah bergabung secara pinjaman pada Februari lalu lebih berupa periode adaptasi, di mana ia hanya menjadi starter dalam satu laga di bawah asuhan David Moyes. Kini dengan persiapan pramusim yang penuh, George berpeluang melesat musim ini.
Cepat, dinamis, dan selalu berhasrat menembus bek sayap lawan, pemain berusia 20 tahun ini bisa menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kembalinya Jack Grealish ke Manchester City setelah masa peminjaman. George menjadi starter dalam tiga dari empat laga persahabatan pramusim Everton saat Iliman Ndiaye absen karena dilaporkan menjadi target transfer klub luar negeri. Dengan kepergian Grealish dan menurunnya posisi Dwight McNeil dalam hierarki tim, George mendapatkan kesempatan besar.

Fulham: Ali-Wahid
Pemain berusia 19 tahun ini berharap dapat melakoni debutnya untuk Fulham musim ini setelah tampil mengesankan bersama tim Under-21. Ia menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama klub pada musim panas lalu dan mencetak 10 gol di PL2. Winger kiri ini juga menyumbangkan tujuh assist, membuktikan kapasitasnya dalam menciptakan peluang selain mencetak gol.
Hanya Shumaira Mheuka dari Chelsea (19) dan Kieran Morrison dari Liverpool (18) yang mencatatkan keterlibatan gol lebih banyak ketimbang Ali-Wahid (17) di PL2 musim lalu, sementara hanya 10 pemain yang menciptakan peluang dari skema permainan terbuka lebih banyak dari catatannya (26 peluang). Ia masuk dalam nominasi penghargaan PL2 Player of the Season dan manajer baru Fulham, Álvaro Arbeloa, terus memilihnya selama laga pramusim.
Hull: Hughes
Hughes merupakan benteng utama pertahanan Hull musim lalu. Bek tengah berusia 22 tahun ini menjadi starter dalam 36 pertandingan di Championship dan bermain di setiap menit pada kampanye playoff yang sukses. Ia memiliki keberanian luar biasa untuk mengorbankan tubuhnya demi menghalau bola. Musim lalu, ia mencatatkan 1,54 blok per 90 menit, yang tertinggi di antara pemain reguler mana pun di Championship. Ia juga membuat sapuan per 90 menit lebih banyak (7,62) ketimbang rekan seimnya (kategori 1.000+ menit). Hull mungkin akan berjuang keras di Premier League, tetapi Hughes bisa menjadi permata tersembunyi mereka.
Ipswich: Mendel-Idowu
Mendel-Idowu, yang menghabiskan sebagian besar pembinaan mudanya di Chelsea sebelum setahun di Anderlecht, direkrut oleh Ipswich pada musim panas 2024, meski ia belum melakoni debut di tim utama. Pemain sayap ini adalah sosok yang cerdas secara akademis; ia pernah tampil di acara TV berjudul Child Genius saat berusia delapan tahun dan berlanjut menjadi King’s Scholar di Eton College.
Ia tidak hanya bersinar di bidang akademik, tetapi juga di atas lapangan. Ia membukukan 15 keterlibatan gol dalam 17 laga PL2 untuk tim Ipswich Under-21 musim lalu (sembilan gol, enam assist); hanya tiga pemain yang mencatatkan statistik lebih tinggi di liga. Selain itu, hanya tiga pemain yang menciptakan peluang dari open play lebih banyak dari catatannya (33), dan hanya dua pemain yang merebut penguasaan bola di sepertiga lapangan akhir lebih banyak darinya (21 kali).
Leeds: Lienou
Kesempatan bagi pemain muda terhitung sangat langka musim lalu di bawah arahan Daniel Farke. Pemain termuda yang tampil untuk Leeds adalah Facundo Buonanotte yang berusia 21 tahun—yang saat itu sudah melakoni debut untuk timnas Argentina—dan ia pun hanya memainkan peran singkat pada paruh kedua musim.
Namun, Lienou tampaknya mulai meraih kepercayaan Farke. Bek berusia 18 tahun ini menjadi starter di semua laga PL2 Leeds musim lalu kecuali satu pertandingan, serta memenangkan penguasaan bola 5,4 kali per 90 menit (terbanyak kedua di tim). Ia menjadi satu-satunya pemain tim akademi yang tampil dalam tiga laga pramusim pertama Leeds, dan mendapat panggilan ke skuad senior Wales oleh Craig Bellamy pada bulan Juni, menandakan impresinya yang kuat bagi pelatih di level klub maupun negara.

Liverpool: Trey Nyoni
Kehadiran manajer baru membawa kesempatan baru untuk mencuri perhatian, dan Trey Nyoni memanfaatkan momentum tersebut pada pramusim ini. Gelandang ini harus ekstra sabar setelah bergabung dengan Liverpool dari Leicester pada tahun 2023. Arne Slot memberinya menit bermain yang terbatas musim lalu, di mana Nyoni mengemas 14 penampilan di semua kompetisi dan hanya dua kali menjadi starter yang semuanya terjadi di League Cup. Kini di bawah arahan Andoni Iraola, pemain berusia 19 tahun tersebut berhasil membuktikan kualitasnya dan menjadi gelandang paling menonjol bagi Liverpool selama pramusim.
Salah satu aspek paling mengesan dari permainannya adalah vertikalitas. Nyoni selalu ingin mengalirkan bola ke depan sesering mungkin, tanpa bertindak ceroboh dalam penguasaan bola. Dalam tiga laga persahabatan musim panas ini di AS—melawan Sunderland, Wrexham, dan Leeds United—Nyoni melepaskan 154 umpan dan berhasil menyelesaikan 141 di antaranya (akurasi 92%). Khusus untuk umpan ke depan, ia mencatatkan angka mengagumkan dengan menyelesaikan 44 dari 54 umpan (81%). Dengan potensi kepergian Curtis Jones dan sebagian besar dana transfer Liverpool dialokasikan untuk penyerang, jalan bagi Nyoni diprediksi akan terbuka lebar.
Manchester City: McAidoo
McAidoo tampil sangat bersinar di akademi Manchester City yang terkenal sangat kompetitif. Winger ini tampil impresif di PL2 musim lalu, di mana hanya Reigan Heskey (15) yang mencatatkan keterlibatan gol lebih banyak darinya (12) di skuad City. McAidoo menandai debutnya di tim utama musim lalu dengan mencetak gol kesembilan dalam kemenangan telak 10-1 City atas Exeter City di FA Cup.
Baru-baru ini, pemain berusia 18 tahun tersebut menarik perhatian lewat kemampuannya dalam situasi satu lawan satu pada laga persahabatan pramusim melawan Inter. Ia juga mencatatkan sentuhan terbanyak kedua di dalam kotak penalti lawan (13 sentuhan). Enzo Maresca melontarkan pujian atas performa McAidoo dan menyebutnya sebagai "tipe pemain sayap yang sangat saya sukai".

Manchester United: Gabriel
Gabriel tak diragukan lagi merupakan harapan terbesar di akademi Manchester United. Ia hampir meninggalkan klub pada akhir musim 2024-25 sebelum petinggi senior klub turun tangan, dan reputasinya terus meroket sejak saat itu. Di usia 14 tahun, ia sudah menjadi pemain termuda yang mewakili tim United Under-18 dengan mencetak dua gol pada laga debutnya. Setelah menginjak usia 15 tahun pada Oktober, ia segera diikutsertakan dalam latihan tim utama.
Kendati demikian, fokus utamanya tetap bersama tim Under-18, di mana ia mencetak 23 gol—torehan yang hanya mampu dilampaui oleh satu pemain saja—pada kompetisi U18 Premier League musim 2025-26, yang mengantarkannya meraih penghargaan Player of the Season kompetisi tersebut.
Sebagai penyerang terampil yang bisa beroperasi di posisi sayap maupun tengah, Gabriel tampil berani, ekspresif, dan percaya diri. Atribut tersebut ia tunjukkan saat masuk sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir dalam laga persahabatan pramusim United melawan Atlético Madrid akhir pekan lalu.
Rekor pemain termuda sepanjang sejarah Premier League mungkin terlalu jauh untuk dikejar, namun Gabriel berpeluang besar menjadi pemain termuda Manchester United di Premier League, rekor yang saat ini dipegang oleh Angel Gomes (16 tahun 263 hari).
Newcastle: Park
Terlepas dari segala hal positif yang ditinggalkan di Newcastle, sebagian pendukung menilai Eddie Howe seharusnya bisa melakukan hal lebih dalam mengorbitkan talenta muda. Kini setelah era Howe berakhir dan Newcastle memasuki masa transisi, beberapa pemain muda memandang ini sebagai kesempatan emas untuk naik kelas. Park (19 tahun) adalah salah satunya. Winger kiri asal Korea Selatan ini direkrut musim panas lalu dan menghabiskan musim pertamanya untuk beradaptasi dengan sepak bola Inggris di PL2. Ia mencatatkan rata-rata 4,7 percobaan dribel per 90 menit di kompetisi tersebut dan menyita perhatian lewat permainan berenergi serta kontrol bolanya yang cermat.
Dengan kepergian Anthony Gordon, celah di sektor sayap kiri terbuka lebar, terlebih jika rekrutan baru Bazoumana Touré tidak langsung tampil meledak. Park tampil mengesankan selama pramusim dan langkah menuju panggung sepak bola kasta tertinggi tampaknya tinggal menunggu waktu.
Nottingham Forest: Thompson
Thompson didatangkan Nottingham Forest dari klub Irlandia Utara, Linfield, pada Juli lalu. Meskipun saat itu masih berusia 16 tahun, ia menghabiskan sebagian besar musim 2025-26 dengan bermain untuk tim Under-21 klub. Winger kiri ini menjadi pemain termuda yang tampil untuk Forest Under-21 musim lalu, namun hanya empat pemain—yang tiga di antaranya kini berusia 20 tahun—yang mengumpulkan menit bermain lebih banyak darinya (1.090 menit).
Pemain yang kini berusia 17 tahun tersebut memenangkan penghargaan Scholar of the Year di akhir musim. Sebagai pemain yang lincah dan berarah permainan jelas, rekor 4,7 percobaan dribel per 90 menit milik Thompson berada di jajaran atas PL2, dan catatan enam keterlibatan golnya merupakan yang terbanyak di antara pemain Forest lainnya.
Sunderland: Angulo
Meskipun dibeli dengan harga £15 juta pada Januari lalu dan telah berusia 23 tahun, Angulo masih memenuhi kriteria sebagai calon pemain yang siap meledak musim ini. Setelah didatangkan dari Anderlecht, dampak Angulo di Sunderland memang belum bisa dikatakan meledak. Hanya ada beberapa kilasan bakatnya yang terlihat karena permainannya yang masih terhitung mentah.
Meski demikian, bulan-bulan pertamanya memberikan waktu adaptasi yang berharga. Setelah penampilan yang lumayan menjanjikan di Piala Dunia bersama Ekuador, ia kini berharap bisa melesat. Ia memiliki kemampuan teknis dan fisik atletis yang akan sangat membantunya setelah permainannya terasah lebih rapi.
Sunderland berharap performa Angulo seperti saat di Anderlecht bisa lebih muncul musim ini. Sebelum kepindahannya musim lalu, ia melakukan percobaan dribel terbanyak (111 kali) dibandingkan pemain mana pun di Pro League Belgia, sementara hanya Christos Tzolis (17)—yang kini membela Arsenal—yang melampaui catatannya dengan 11 keterlibatan gol. Jika terus berkembang, Angulo akan menjadi senjata yang sangat berguna bagi Régis Le Bris.
Tottenham Hotspur: Williams-Barnett
Tottenham seperti tak pernah kehabisan talenta muda berbakat yang menembus tim utama hampir di setiap musim, dan kini giliran Williams-Barnett yang mencoba membuktikan kemampuannya. Williams-Barnett memulai musim lalu di level Under-18, namun dengan cepat menembus persaingan tim utama. Ia mencatatkan satu penampilan senior dan secara berkala berada di bangku cadangan sepanjang musim.
Ia merupakan salah satu pemain paling menonjol bagi Spurs di PL2 meskipun hanya tampil dalam 10 pertandingan. Williams-Barnett mencatatkan angka luar biasa yaitu 1,25 kombinasi gol dan assist per 90 menit di PL2, menjadikannya peringkat keempat di antara seluruh pemain (kategori 500+ menit). Gelandang serang berusia 17 tahun ini juga menciptakan 0,8 peluang emas (big chance) per 90 menit musim lalu, yang kembali menempatkannya di urutan keempat (500+ menit). Ia banyak dilibatkan dalam laga pramusim dan mengumpulkan momentum bagus untuk dibawa ke kompetisi musim ini.
Sumber: The Guardian
Tidak ada komentar: