recent

Analisis Brentford vs Spurs 3-0: Taktik De Zerbi Buntu, Sangare Curi Panggung dari Tonali yang Berharga 100 Juta Poundsterling

Michael Kayode celebrates with Brentford's Brazilian striker Igor Thiago. They are wearing the red, white and black home kit and look delighted. In the background, Jean Paul van Hecke looks disconsolate and Rodrigo Bentancur is shouting angrily

Igor Thiago dan Michael Kayode merayakan gol setelah Brentford unggul 3-0 dalam laga pembuka musim yang ingin dilupakan oleh Spurs. (Foto: Adrian Dennis/AFP via Getty Images)


Tottenham Hotspur telah melakukan belanja pemain secara signifikan pada bursa transfer musim panas ini. Namun, tim asuhan Roberto De Zerbi justru dibantai tanpa perlawanan berarti oleh Brentford pada pekan pembuka musim baru Premier League.


Spurs tercatat telah berkomitmen mengeluarkan dana hampir £250 juta untuk transfer pemain musim panas ini. Angka tersebut mencakup kesepakatan bernilai hingga £85 juta untuk Savinho yang disetujui dengan Manchester City, serta proses transfer rekan setimnya, Omar Marmoush, yang juga terus mengalami kemajuan.


Dalam pertandingan ini, De Zerbi langsung memberikan kesempatan debut kompetitif kepada empat pemain baru Spurs: lini belakang diisi Andy Robertson, Jan Paul van Hecke, dan Marcos Senesi, sementara Sandro Tonali dipercaya tampil sejak menit awal di lini tengah. Meski demikian, terlihat jelas masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum mereka bisa tampil solid sebagai sebuah tim. Brentford memanfaatkan situasi ini dengan unggul cepat 2-0 dalam kurun waktu setengah jam melalui gol Keane Lewis-Potter dan Vitaly Janelt.


Memasuki babak kedua, De Zerbi melakukan dua pergantian pemain dan memasukkan Mateus Fernandes yang menjadi pemain kelima yang mencatatkan debut bersama Spurs. Namun, Brentford justru menambah keunggulan menjadi 3-0. Michael Kayode mencetak gol memanfaatkan bola muntah setelah tembakan Mamadou Sangare—yang tampil impresif pada laga debutnya di Premier League—berhasil ditepis kiper.


Meskipun De Zerbi berhasil menyelamatkan Spurs dari jurang degradasi pada musim lalu, pelatih asal Italia itu kini memikul tugas berat untuk membalikkan nasib dan performa klub. Jurnalis The Athletic, Jay Harris dan Liam Tharme, mengulas beberapa poin penting dari pertandingan tersebut.

Kesalahan Taktis De Zerbi dan Masalah Klasik Bola Mati

Pertama, De Zerbi memilih susunan pemain yang dipenuhi kualitas teknis untuk menghadapi lawan yang dikenal sangat mengandalkan dominasi fisik. Padahal, De Zerbi menyadari hal itu. Ini merupakan laga kelima Premier League De Zerbi menghadapi Brentford, dan dia baru bisa mengalahkan mereka satu kali.


Keputusan untuk menurunkan Kevin Danso sebenarnya bisa memberikan perlindungan lebih di lini pertahanan, terutama dalam mengantisipasi ancaman dari Igor Thiago dan Kevin Schade. Statistik membuktikan ketangguhan fisik lawan: Brentford memenangkan 12 dari 18 duel udara di babak pertama, dan 64 persen dari umpan lambung mereka berhasil menemui rekan setim.


Serupa dengan hal tersebut, peran penyerang pantul (hold-up striker) yang diberikan kepada Richarlison sebenarnya jauh lebih cocok dimainkan oleh Dominic Solanke. Performa terbaik Richarlison biasanya terlihat saat dia berlari memanfaatkan ruang kosong dan mengisolasi bek tengah di area sayap. Dia tidak memiliki kekuatan fisik seorang penyerang pemantul bola dengan membelakangi gawang. Kelemahan ini terekspos pada proses gol kedua Brentford, ketika kiper Antonin Kinsky melepas umpan melewati garis pressing ke arah Richarlison, tetapi bola dengan mudah direbut oleh Kristoffer Ajer.

Pilihan menempatkan Conor Gallagher di posisi No 10 juga terasa ganjil, mengingat ini adalah satu-satunya posisi di mana De Zerbi memilih faktor fisik. Pelatih berusaha mengoreksi kesalahan tersebut saat jeda antarbabak dengan mengganti Gallagher—yang sudah mengantongi kartu kuning—dengan Mateus Fernandes. Namun, kerusakan pada permainan tim sudah terlanjur terjadi. Lucas Bergvall, yang kalah duel dalam proses terciptanya gol kedua, juga ditarik keluar pada saat yang sama.


Di sepanjang laga, Spurs sama sekali tidak mampu mengantisipasi keunggulan bola mati Brentford—yang menjadi tanggung jawab pelatih spesialis Andreas Georgson—termasuk pada proses gol ketiga Kayode di menit ke-49 yang mengunci kemenangan lawan. Pertandingan ini juga menguak masalah mendasar Spurs: mereka kini tercatat gagal menang dalam 35 pertandingan Premier League secara beruntun ketika tertinggal 1-0 terlebih dahulu, dengan menelan 27 kekalahan di antaranya. Kemenangan terakhir mereka dalam situasi tertinggal terjadi pada November 2024.


Mamadou Sangare Curi Panggung dari Sandro Tonali £100 Juta

Laga ini awalnya digadang-gadang menjadi panggung bagi Sandro Tonali untuk membuktikan alasan Spurs rela memecahkan rekor transfer klub senilai £100 juta saat memboyongnya dari Newcastle United. Namun, penampilannya justru sepenuhnya ditutupi oleh Mamadou Sangare yang melakoni debut di Premier League dengan nilai transfer separuh dari harga Tonali.


Brentford mendatangkan Sangare untuk menggantikan peran Jordan Henderson. Keputusan Brentford yang tidak terlalu berupaya mempertahankan Henderson (36 tahun) saat dilepas ke Chelsea sempat terasa mengherankan, tetapi kini alasannya menjadi sangat masuk akal. Sangare tampil sangat elegan saat menguasai bola dan tidak ragu untuk melepaskan tekel. Dalam 10 menit pertama, Sangare langsung memberikan sinyal bahaya bagi Spurs lewat umpan-umpan tajam yang membelah barisan pertahanan serta kemampuannya melewati tekel lawan dengan mudah.

Pemain internasional Mali ini menciptakan proses gol pembuka yang dicetak Lewis-Potter hampir secara mandiri. Menguasai bola di lini tengah, Sangare melakukan kombinasi umpan satu-dua yang ciamik dengan Dango Ouattara, sebelum memenetrasi kotak penalti dan menyodorkan umpan terukur yang diselesaikan oleh Lewis-Potter.


Sangare terus-menerus menjadi ancaman nyata yang membuat Tonali dan Lucas Bergvall tidak berdaya meredamnya. Tepat sebelum babak pertama usai, Senesi sebenarnya berpeluang besar menguasai bola liar. Namun, Sangare secara cerdik melakukan gerakan pirouette dan membelokkan bola menggunakan tumitnya ke arah Ouattara.


De Zerbi mengorbankan Bergvall dan Gallagher pada jeda babak pertama untuk memasukkan rekrutan senilai £85 juta, Mateus Fernandes, serta Rodrigo Bentancur. Namun situasi tidak membaik. Tembakan half-volley Sangare dari luar kotak penalti berujung pada gol Kayode, sebelum Bentancur melakukan pelanggaran terhadap Schade yang membuahkan penalti bagi lawan. Beruntung bagi Spurs, eksekusi Igor Thiago hanya membentur tiang gawang sehingga papan skor tidak bertambah.


Penampilan ini menegaskan bahwa Brentford kembali menemukan bakat tersembunyi (hidden gem) di bursa transfer.


Kebutuhan Transfer Spurs dan Celah Lini Depan

Kekalahan telak ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa Spurs masih memiliki banyak pembenahan di bursa transfer. Meski Van Hecke dan Senesi menjalani laga debut yang sulit, kualitas lini pertahanan diprediksi akan meningkat signifikan saat Pedro Porro dan Micky van de Ven kembali pulih sepenuhnya. Selain itu, penampilan singkat Mateus Fernandes yang menjanjikan di babak kedua mengindikasikan bahwa dia bisa membentuk kemitraan yang kuat bersama Tonali di lini tengah.


Di sisi lain, upaya Spurs dalam menciptakan peluang menjadi hal yang sangat menyakitkan untuk disaksikan. Richarlison tidak efektif dalam menahan bola dan menghubungkan alur serangan dengan rekan setimnya, sementara Gallagher tampak minim kreativitas untuk menjalankan peran sebagai pemain nomor 10. Pemain muda Mikey Moore membuang tiga peluang emas di babak kedua sebelum akhirnya digantikan oleh James Maddison.


Maddison sudah berusaha memberikan dampak maksimal, tetapi dia masih dalam proses mengembalikan bentuk permainan terbaiknya usai pulih dari dua kali cedera ACL. Satu-satunya pemain Spurs yang layak mendapat apresiasi pada laga ini adalah Andy Robertson yang berulang kali melepaskan umpan silang berkualitas ke dalam kotak penalti.

Kedatangan Savinho dari Manchester City akan memberi Spurs opsi penyerang sayap serbaguna yang mampu memberikan persaingan sekaligus pelapis bagi Mohammed Kudus dan Mathys Tel. Kendati demikian, Omar Marmoush berpotensi menjadi rekrutan yang jauh lebih krusial.


Spurs krisis penyerang tengah berkualitas sejak melepas Harry Kane ke Bayern Munich tiga tahun lalu. Solanke terus bergelut dengan masalah cedera selama 18 bulan terakhir dan masih membutuhkan waktu untuk menemukan kembali ketajamannya. Kecepatan, kemampuan kedua kaki yang seimbang, serta fleksibilitas Marmoush bisa memberi Spurs opsi kejutan di lini depan dan membuka berbagai pendekatan taktis baru. Spurs kini hanya bisa berharap performa buruk di laga perdana ini tidak menyurutkan minat Marmoush dan Savinho untuk bergabung.


Sebagai catatan sejarah, lima tahun lalu Brentford juga berhasil mengalahkan Arsenal pada laga pembuka musim. Saat itu, Arsenal tampil tanpa beberapa pemain pilar, memberikan debut kepada beberapa pemain baru, dan menambah belanja pemain sebelum bursa transfer ditutup. Musim tersebut diakhiri Arsenal dengan finis di peringkat kelima di bawah asuhan Mikel Arteta. Spurs tentu berharap skenario serupa terulang dan kekalahan ini hanyalah sebuah hasil buruk yang tidak mencerminkan perjalanan mereka di akhir musim nanti.

Sumber: The Athletic

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by EPL Sentris © 2025 - 2026
© 2026. All Rights Reserved. Shared by FPL Winner

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.