Arsenal Incar Jarell Quansah: Solusi Muda Mikel Arteta untuk Tambal Cedera William Saliba

Jarell Quansah saat membela Bayer Leverkusen pada bulan April lalu. (Foto: Pau Barrena/Getty Images)
Ketika Jarell Quansah memutuskan meninggalkan klub juara Premier League, Liverpool, pada Juli 2025, ia mungkin tak pernah membayangkan bahwa suksesor gelar juara tersebut akan mengetuk pintunya hanya dalam waktu 13 bulan kemudian.
Keputusan untuk pergi dari Anfield setelah merengkuh gelar juara di bawah asuhan Arne Slot merupakan langkah yang sulit bagi sang bek tengah. Menurut sumber-sumber yang memahami situasi tersebut—yang meminta anonimitas demi menjaga hubungan baik—Quansah telah berada di Liverpool sejak usia sangat muda. Ia berkembang pesat di tahun terakhir kepemimpinan Jurgen Klopp sebelum akhirnya kehilangan momentum di bawah arahan Slot. Pelatih asal Belanda itu lebih sering memanfaatkannya sebagai pelapis saat bek tengah utama berhalangan tampil atau membutuhkan istirahat.
Kepindahan ke Bayer Leverkusen di Jerman menjadi opsi menarik bagi Quansah karena menawarkan tantangan baru, lingkungan berbeda, serta rekam jejak klub yang terkenal memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang.
Quansah berharap satu musim di Bundesliga bisa membakar kembali semangat kariernya, bahkan membuka peluang bagi Liverpool untuk mengaktifkan klausul pembelian kembali (buy-back) senilai €70 juta (£59 juta / $80 juta). Meskipun Liverpool terkesan tidak cukup tinggi menghargainya hingga merelakannya pergi, keberadaan klausul tersebut membuktikan bahwa sang mantan klub belum sepenuhnya mencoret potensi Quansah.
Kendati demikian, menarik minat dari sang juara Premier League musim 2025-26, Arsenal, tentu tidak pernah terlintas dalam pikiran jangka pendeknya—terlebih dalam waktu secepat ini.
Meski begitu, Quansah tentu paham alasan di balik ketertarikan tersebut. Arsenal membutuhkan pelapis akibat cedera yang dialami William Saliba. Bergabung dengan sang finalis Liga Champions menjadi langkah besar, terlebih di bawah manajer Mikel Arteta yang menegaskan ambisinya untuk "menyerang dan memperebutkan setiap trofi" musim depan.

Perkembangan Unik dan Pengalaman di Level Tertinggi
Langkah Arsenal mengincar Quansah sebenarnya tidak mengejutkan mengingat rekam jejak perkembangan bek berumur 23 tahun ini yang cukup unik dan bervariasi. Ia sempat menghabiskan akhir musim 2022-23 dengan status pinjaman di klub League One, Bristol Rovers, sebelum tampil mengesankan pada tur pramusim Liverpool berikutnya dan berhasil menembus tim utama.
Quansah pernah menjabat sebagai kapten tim Liverpool U-18 yang menembus final FA Youth Cup 2021. Namun saat itu, ia jarang dipandang sebagai bintang utama di antara deretan bakat akademi lainnya. Bahkan, beberapa pihak yang dihubungi sempat mempertanyakan apakah ia benar-benar bisa menembus tim senior Liverpool. Keberhasilannya melangkah sejauh ini menjadi sebuah kisah yang sangat menginspirasi.
Saat dipercaya berduet dengan Virgil van Dijk—atau sesekali menggantikan posisinya—di lini belakang Liverpool, Quansah tampil sangat solid dan tidak canggung. Ia menjadi ancaman nyata dalam situasi bola mati saat menyerang, serta makin terampil dalam membangun serangan dari belakang dan melepaskan umpan-umpan yang membelah garis pertahanan lawan.
Keunggulannya juga diakui di level internasional. Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, tercatat tiga kali memasang Quansah sebagai bek kanan di ajang Piala Dunia, bahkan mengungguli bintang Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, yang tidak masuk dalam skuad.
Gaya bermain Quansah yang tenang dan terukur dinilai menjadi daya tarik utama bagi Tuchel, yang percaya penuh padanya dalam laga-laga bertekanan tinggi. Kemampuan menguasai bola dan mendistribusikannya dari lini belakang merupakan kekuatan utamanya, baik melalui umpan progresif maupun operan sederhana yang efektif.
Ia jarang terlihat panik di lapangan, namun tetap memiliki sisi agresif yang terkontrol. Kartu merah yang diterimanya saat Inggris menang 3-2 atas Meksiko di Piala Dunia memang menjadi noda kecil, namun hal tersebut merupakan pelanggaran gegabah yang di luar tabiat aslinya dan jauh dari standar kesehariannya.
Karakter Off-Pitch dan Fleksibilitas Taktis
Di luar lapangan, Quansah dikenal sebagai sosok yang relatif tenang dan tidak banyak bicara. Pada masa-masa awalnya di tim muda Inggris, para pelatih sempat mempertanyakan minimnya emosi yang ia perlihatkan, baik setelah meraih kemenangan maupun saat mengalami kekalahan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai mengambil tanggung jawab lebih besar dan lebih terbuka, terutama sejak meninggalkan Liverpool untuk memulai petualangan baru di Jerman. Bersama Bayer Leverkusen musim lalu, Quansah utamanya dipercaya mengisi posisi bek tengah kanan dalam skema tiga bek dan mampu menyajikan performa yang sangat impresif.

Gambar peta posisi di atas menunjukkan fleksibilitas Quansah di area pertahanan selama musim 2025-26.

Peta sebaran aksi bertahan (touchmap) di atas menggambarkan dampak besar Quansah dalam merebut bola, di mana ia terbukti sangat nyaman dan efektif dalam memenangkan penguasaan bola di area pertahanan yang lebih tinggi.
Mengapa Arsenal Memilih Quansah Dibanding Ezri Konsa?
Fleksibilitas taktis Quansah menjadi alasan utama yang memikat Arsenal. Sang juara Premier League membutuhkan amunisi tambahan di lini belakang usai William Saliba harus absen lama akibat masalah cedera punggung yang kambuh pada Piala Dunia lalu.
Meski terdapat opsi kandidat lain seperti Ezri Konsa untuk posisi bek tengah kanan, terdapat pertimbangan khusus di internal Arsenal. Konsa, yang juga berstatus penggawa timnas Inggris berusia 28 tahun, memang tampil sangat konsisten dan dapat diandalkan bersama Aston Villa dalam bersaing di papan atas Premier League. Konsa memiliki pembacaan permainan yang baik, pemulihan posisi (recovery pace) yang cepat, serta berbahaya dalam situasi bola mati.
Namun, Aston Villa mematok harga Konsa di kisaran £60 juta ($81 juta). Pihak Arsenal enggan mengeluarkan dana sebesar itu untuk pemain berusia 28 tahun yang memiliki nilai jual kembali (resale value) rendah. Hal ini membuat Quansah dilirik sebagai opsi yang jauh lebih muda, potensial, dan ekonomis.
Pengalaman Quansah membela klub besar Premier League dengan tuntutan menang di setiap pekan membuatnya dinilai sangat siap menghadapi tekanan di Arsenal. Profilnya sangat menjanjikan, dan potensi perkembangannya yang masih luas menjadi daya tarik terbesar bagi manajemen The Gunners.
Terlebih lagi, jika Arsenal berencana melanjutkan proyek membangun tim dengan postur tertinggi dalam sejarah, kehadiran bek bertinggi badan 190 cm (6 kaki 3 inci) ini jelas masuk dalam skema ideal Mikel Arteta.
Sumber: The Athletic
Tidak ada komentar: